26 December 2021

Movie Review: Venom: Let There Be Carnage (2021)

“Emotional pain, it hits much harder, and it lasts longer.”

Karakter Venom pernah muncul di film ‘Spider-Man 3’ tahun 2007 namun sekedar tempelan belaka, memang diperuntukkan oleh Sutradara Sam Raimi hanya “to make some of the real die-hard fans of Spider-Man finally happy.” President Marvel kala itu, Avi Arad, meminta Sam Raimi untuk tidak hanya fokus pada his favorite villains characters, “to incorporate Venom, to listen to the fans. Venom is the fan favorite. All Spider-Man readers love Venom.” Pesona Venom memang serupa Deadpool tapi butuh 11 tahun bagi Venom untuk pada akhirnya membuktikan pernyataan Avi Arad tadi, tiga tahun lalu menjadi box office success meskipun dari segi cerita dan tone tidak terasa kuat, termasuk koneksinya dengan Spider-Man. Motion capture maestro Andy Serkis didampuk sebagai Sutradara dan kali ini Venom ikut menulis cerita. ‘Venom: Let There Be Carnage’ : a compact enrichment.


Eddie Brock (Tom Hardy) dan Venom akhirnya dapat sepakat untuk beberapa hal terkait sistem parasite di antara mereka berdua, tapi sayangnya hasrat mereka masih berbeda dan sekali lagi menempatkan kehidupan Eddie dalam masalah. Eddie harus berjuang untuk membuat Venom tidak dapat mengendalikan tubuhnya mengingat alien parasite itu masih punya rasa lapar yang besar utnuk menghabisi semua orang jahat secara brutal dan memakan otak si korban. Hal tersebut berbeda dengan Eddie, pria yang baru saja mendapat kabar mantan tunangannya, Anne Weying (Michelle Williams) telah bertunagan dengan Dan Lewis (Reid Scott) itu menginginkan karirnya sebagai jurnalis dapat pulih. 

Seperti gayung bersambut Eddie dihubungi oleh Detektif bernama Patrick Mulligan (Stephen Graham) yang memintanya bertemu Cletus Kasady (Woody Harrelson) dan menggali informasi dari serial killers tersebut. Korban dari aksi Cletus masih belum ditemukan dan Cletus hanya bersedia berbicara pada Eddie. Informasi dari Cletus merupakan sebuah clue bagi Eddie tapi tidak bagi Venom, ia merasa bahwa Cletus juga punya koneksi dengan alien parasite. Cletus sendiri pernah selamat dari sebuah kekacauan yang diciptakan sosok misterius bernama Carnage dan ia percaya bahwa pertemuannya dengan Venom dapat membantu menemukan kekasih masa kecilnya, Frances Barrison (Naomie Harris), alias Shriek.

Film tentang antagonis atau musuh Spider-Man yang not produced by Marvel Studios and is not officially part of the MCU? Ya, jika berbicara tentang Spider-Man dan film memang terasa rumit, penggemar Marvel mungkin mudah untuk mengklasifikasikan posisi terkini dari masing-masing karakter tapi bagi penonton umum potensi untuk merasa bingung jelas sangat besar, apalagi setelah muncul label “In Association with Marvel” di bagian awal. Ide Sony mungkin dulu terkesan absurd, mereka mencoba membuat film Venom di mana posisi Spider-Man sendiri sudah bergabung dengan MCU, but at least the plan worked dan pencapaian box office film pertamanya ada di angka delapan kali lipat dari budget. Langkah selanjutnya tentu sangat jelas, buat lanjutannya dan Sony kembali mencoba peruntungan serupa: budget tetap sama!


Seharusnya kisah tentang jurnalis yang terhubung dengan alien parasite sehingga memiliki kekuatan super itu telah menemukan pondasinya, tapi tetap saja muncul rasa ragu terhadap kelanjutannya ini. ‘Venom’ menurut saya sukses meraih atensi besar karena apa yang ia tawarkan kala itu berbeda dengan film-film MCU dan terasa segar, salah satu hal penting yang beberapa kalangan inginkan dari film superhero yang perlahan tampak semakin “seragam” saja. That “Eating Lobsters Scene” became a cult dan Sutradara Ruben Fleischer konsisten menaruh komedi sebagai di posisi paling depan narasi, menemani overacting dari Tom Hardy yang kala itu terasa ganjil buat saya. Pertanyaannya adalah sekuel ini ingin “berbicara” tentang apa jika pada dasarnya sosok Spider-Man masih tidak hadir? Bahkan ‘Joker’ tetap butuh Batman.

Jawaban dari pertanyaan tersebut tidak ada karena faktanya film ini juga bingung ingin menjadi apa, lebih kepada campur aduk action sci-fi dengan komedi dan horror yang kemudian digerakkan dengan cepat oleh Sutradara baru, Andy Serkis. Daftar peningkatan film ini dari pendahulunya terasa sepi tapi jelas ada perkembangan ke arah positif bagi dunia milik karakter Venom dan Eddie. Andy Serkis sepertinya tahu bahwa the humor remains the selling point dan bersama screenwriter Kelly Marcel serta melibatkan Tom Hardy dalam penulisan cerita mereka mengeksploitasi elemen tersebut. Semakin cerita sedikit menjauh dari superhero genre dan menciptakan banyak ruang bagi karakter untuk beraksi absurd, semakin terasa menyenangkan dan menarik narasi film ini, karena kamu sadar the focus clearly on the comedy.


Mereka mengeksploitasi dan mendorong Venom untuk bermain layaknya Deadpool, menggunakan interaksi dua karakter utama yang tidak saling cocok satu sama lain sebagai arena bagi berbagai macam perdebatan. Ada resiko sebenarnya di sana tapi hasilnya bagus, Andy Serkis menggunakan konflik yang terjadi di antara “pasangan aneh” itu untuk mengikat atensi penonton dan satu per satu mulai membentuk cerita agar terasa semakin koheren. Bahkan di sini lelucon yang terasa similar dengan film pertama tetap berhasil menciptakan punch yang oke karena penyajiannya terasa lebih halus dan terkoneksi dengan baik pada cerita. Sekuel ini juga bermain seperti sebuah film horror dan ada excitement yang oke di sana, entertaining enough untuk menemani aksi over-the-top terus bergulir sembari mempertahankan kesan segar.

Tidak super fresh memang tapi kepiawaian Andy Serkis di bidang motion capture membantunya dalam melakukan “enrichment” terhadap dunia karakter Venom. Ada memang kelemahannya seperti saat ia terlalu fokus bermain di drama persahabatan dan lantas teringat bahwa ia harus menyuntikkan nafas blockbuster, “Venom: Let There Be Carnage” mulai goyah, Serkis juga seperti mencoba bermain-main antara apakah harus membuat karakter full “super” dengan keinginan mempertahankan sisi human karakter agar dapat menyajikan emosi. Tapi kelemahan tersebut tidak terasa mengganggu karena itu tadi sejak awal saya telah menaruh fokus bahwa ini adalah kisah superhero yang mencoba bermain dengan komedi, dibentuk oleh Andy Serkis dan tim dengan kualitas teknis yang cukup memuaskan, terutama pada perbedaan antara karakter Venom dan Carnage yang kontras dengan aksi mutasi yang manis.


Tapi andai saja Andy Serkis dapat memberi ruang bagi cast untuk mengeksploitasi depth karakter mereka mungkin saja emosi dan pesona bisa lebih baik, tidak sekedar biasa dan sederhana. Tidak ada yang salah dengan kinerja akting Tom Hardy di sini yang menjadi masalah batasan yang ia dapat di film pertama kembali hadir. Bicara dinding pembatas Woody Harrelson jelas yang paling mengecewakan, aktingnya oke namun tidak mendapatkan porsi lebih untuk membuat karakter lebih dari sekedar villain yang ompong. Naomie Harris juga demikian meski secara fungsi tampil oke, sama seperti Michelle Williams yang menjadikan uluran tangan Anne Weying terasa practical. Mungkin niat Andy Serkis agar hasil akhir terasa compact tapi ekstra 10 sampai 15 saya rasa won't hurt, apalagi dengan booster di the mid-credits scene.

Overall, ‘Venom: Let There Be Carnage’ adalah film yang cukup memuaskan. Pasti akan ada yang kecewa terutama mereka yang berharap sekuel ini akan “lebih berani” to do justice terhadap sisi gelap dan absurd dari karakter utamanya, namun dimulai dengan perkenalan yang kuat dari dua karakter antagonis-nya Andy Serkis menaruh fokus pada humor dan mulai “memperkaya” dunia karakter Eddie dan Venom. Hasil akhirnya terasa lebih baik dari pendahulunya, tertata lebih rapi dari segi cerita yang lebih koheren serta mengeksploitasi dengan baik pesona persahabatan antara Eddie dan Venom yang menyenangkan. Andy Serkis berhasil membuat penonton semakin yakin apa yang harus mereka harapkan dari the "Lethal Protector", to let everyone knows that this is a "nonsense" with an exciting future for fans, both MCU and SSU.





1 comment :

  1. “You know what secrets want? They want out. That's why they're so hard to keep.”

    ReplyDelete