31 January 2016

Review: The Revenant [2015]


"I ain't afraid to die anymore. I'd done it already."

Setelah mencuri atensi sebagai Arnie Grape, kemudian menjadi Romeo, menjadi Jack yang rela mati tenggelam demi Rose, menjadi pilot, menjadi smuggler, menjadi investigator, berpura-pura menjadi penjahat, berpetualang dalam mimpi, hingga menjadi stockbroker Wall Street, akhirnya, Leonardo DiCaprio, dengan meraung dan bergulat bersama beruang kini berada di posisi di mana banyak orang mengatakan merupakan titik terdekatnya dengan piala Oscars yang belum pernah ia genggam. The Revenant, punya visual cantik, punya kinerja penuh komitmen dari Leonardo DiCaprio, 12 nominasi Oscars, Alejandro González Iñárritu's best movie since Birdman.

Pada awal 1800-an sekelompok pemburu binatang di bawah komando Kapten Andrew Henry (Domhnall Gleeson) terjebak dalam sebuah serangan brutal yang dilakukan oleh suku Indian Amerika. Beberapa orang berhasil lolos dengan menggunakan kapal, namun atas saran pemburu berpengalaman bernama Hugh Glass (Leonardo DiCaprio) mereka memutuskan untuk kembali ke pos dengan berjalan kaki. Celakanya Hugh terlibat pertarungan intim dengan seekor beruang yang memberinya luka berat. Medan yang ekstrim memaksa Andrew meninggalkan Hugh Glass bersama John Fitzgerald (Tom Hardy) dan Jim Bridger (Will Poulter) dan berjanji akan mengirimkan bantuan ketika tiba di pos. Sayangnya Fitzgerald punya niat lain ketimbang menetapi janjinya untuk menjaga Hugh Glass. 



Mari mulai dengan dua hal yang di jual oleh film dengan fokus utama sebuah kisah balas dendam ini: kinerja elemen teknis dan kinerja bintang utamanya, Leonardo DiCaprio, pria yang dengan dukungan banyak penduduk bumi sepertinya akhirnya akan mendapatkan piala yang selama ini ia dambakan itu, Oscars. Sama seperti kolaborasi mereka tahun lalu, Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance), sang sutradara Alejandro G. Iñárritu dan sinematografer Emmanuel Lubezki seolah sudah saling paham satu sama lain, kekerasan dan kebrutalan yang diinginkan oleh Iñárritu dari cerita berhasil dibentuk dengan cantik oleh kamera Lubezki. Dari segi visual tanpa rasa ragu The Revenant adalah sajian yang cantik, immersive dengan beberapa wow momen yang keren. 



Lalu lanjut ke penampilan Leonardo DiCaprio, sebuah kinerja yang mungkin memiliki tingkat komitmen paling tinggi dari kinerja akting yang pernah ia lakukan sejak membuat banyak orang jatuh hati di What's Eating Gilbert Grape (masih penampilan terbaik dari Leo hingga sekarang). Salah satu “konsep” jualan yang digunakan oleh Iñárritu adalah bukan hanya dengan mengatakan bahwa The Revenant di shoot dalam kondisi natural, ia juga mengatakan Leo harus merasakan kondisi ekstrim yang nyata di lokasi shooting, termasuk dengan  memakan organ bagian dalam dari seekor byson dalam kondisi mentah. Mendengarkannya saja kamu pasti akan terpukau dengan komitmen Leo yang sangat luar biasa itu.



Namun pertanyaannya adalah di luar dua hal tadi apalagi yang dimiliki oleh The Revenant? Ini memang tidak jatuh menjadi kisah si baik membalas si jahat yang membosankan namun sinopsis yang sudah terasa begitu tipis itu ternyata mewakili isi The Revenant secara keseluruhan. Begitu mudah untuk terbawa dalam sajian teknis film ini tapi dengan daya hipnotis yang tidak sebesar Birdman begitu mudah pula untuk terlepas dari cengkeramannya, dan lalu kemudian menyadari bahwa The Revenant tidak punya banyak hal menarik yang ingin disampaikan. Dengan durasi 2 jam dan 36 menit hasil akhir The Revenant terasa terlalu tipis, aksi eksplorasi kesengsaraan berisikan rasa sakit, penderitaan, hingga keputusasaan itu tidak meninggalkan sesuatu yang menarik.



Memang hal ini tidak bisa dilakukan, namun jika kamu sembunyikan pencapaian teknis dan kinerja akting Leo maka The Revenant hanyalah sebuah aksi balas dendam dengan rasa Western yang normal. Cerita klasik, karakter pendukung juga sama tipisnya seperti cerita, berikan Hugh Glass rintangan dan penderitaan, lewat lalu berikan lagi rintangan dan penderitaan, akhirnya alur terasa repetitif. Usaha Iñárritu untuk mempertebal rasa sakit karakter dengan kilas balik mimpi buruk juga terasa biasa, karena karakterisasi Hugh Glass sendiri sejak awal sangat tipis. Dan miss terbesar adalah usaha agar isu tentang kehidupan terasa puitis yang juga terasa hampa. Oh, begitupula dengan karakter John Fitzgerald, ia seharusnya menjadi seorang jerk di sini tapi anehnya tindakan yang ia ambil justru menciptakan penilaian sebagai sesuatu yang dapat dimaklumi.



Secara teknis The Revenant merupakan salah satu film terbaik di tahun 2015, termasuk editing dan score, begitupula dengan kinerja akting dengan Leonardo DiCaprio sebagai bintang dan Tom Hardy tepat di belakangnya. Namun secara overall, gabungkan hal teknis tadi dengan tugas utama film yaitu bercerita kepada penontonnya, ini kemasan yang biasa. Alejandro G. Iñárritu berkata dalam sebuah wawancara bahwa ia tidak akan lagi membuat film dengan “cara” main seperti The Revenant, menandakan tingkat kesulitan yang dimiliki oleh film ini begitu tinggi. Apakah itu pula penyebab ada sesuatu yang miss di sektor cerita? Mungkin, karena meskipun dimulai dengan cantik The Revenant perlahan kendor dan hanya berakhir sebagai kisah balas dendam di level baik, bukan di level istimewa, level di mana ia seharusnya berada. Segmented. 












Thanks to: rory pinem

0 komentar :

Post a Comment