Movie Review: Encanto (2021)

“We can’t hurry the future.”

Disney adalah? Mungkin tidak akan menjadi jawaban tertinggi, bisa saja mayoritas akan menjawab Disneyland, atau Mickey Mouse, atau Cinderella Castle yang akan muncul di bagian pembuka film-filmnya. Tapi salah satu dari jawaban pasti akan ada magic, seperti yang pernah saya mention pada beberapa review sebelumnya bahwa Disney already has their own magic also tried-and-tested ingredients, so tinggal bagaimana para sineas yang mereka tunjuk kemudian meramu dan mengolah materi baru agar dapat “hidup” di dalam formula milik Disney itu. Centered on a Latino family film ini kembali mendorong isu sederhana namun luar biasa, arti penting keluarga, disajikan dalam bentuk musical of course with Disney's magic. ‘Encanto’: enchanting.


Blogger Tricks

Movie Review: Last Night in Soho (2021)

“Do you believe in ghosts?”

Edgar Howard Wright adalah seorang sutradara, penulis skenario, dan produser film Inggris yang dikenal karena film genre satirnya yang bergerak cepat dan kinetik, menampilkan penggunaan ekstensif musik populer yang ekspresif dalam bahasa sinematik yang cantik dan gaya pengeditan khas yang mencakup transisi, whip pans, dan wipes. Film yang ia tulis dan sutradarai selalu memiliki pesona unik serta gila yang kuat, hampir menjadi Sutradara ‘Ant-Man’ di film terakhirnya ia menyajikan car-chase layaknya opera dengan musik yang asyik, yakni ‘Baby Driver’. Kali ini Edgar Wright kembali dengan dark fairy tale with delightful nightmarish horror. ‘Last Night in Soho’: stylish, sexy, and sensual psychological horror. It’s a dancing horror.


Movie Review: The Power of the Dog (2021)

“A man was made by patience in the odds against him.”

Perubahan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari, mereka yang memilih untuk “menyesuaikan diri” dengan perubahan serta secara aktif merangkulnya akan lebih mudah untuk berkembang. Tentu tidak semua perubahan membawa sesuatu yang positif, perlu filter yang ketat di sana dan penolakan terhadap sesuatu yang bersifat negatif juga bukan sesuatu yang tabu untuk dilakukan, namun satu hal yang penting jangan sampai sikap perfeksionis dan juga egois milikmu justru menjadi sebuah boomerang yang berbalik melukaimu. Hal tersebut berputar-putar secara manis di sini, salah satu film terbaik tahun ini yang “menuntutmu” untuk menemukan hadiah besar. The Power of the Dog’: a beautifully made drama that plays with words, eyes, and feelings.


Movie Review: The Electrical Life of Louis Wain (2021)

“Cats that do not look and live like Louis Wain cats are ashamed of themselves.”

Kamu mungkin pernah melihat scenes di film atau serial, dan mungkin juga pernah melakukannya di kehidupan nyata, momen di mana beberapa pengunjung berdiri dalam waktu cukup lama di depan lukisan di pameran lukisan. Memang akan tampak aneh jika dilihat dari sudut pandang paling simple, itu hanya lukisan kenapa harus diamati selama itu? Sesuatu yang sebenarnya tidak tepat karena dalam karya yang mereka ciptakan setiap Artist tentu saja menyuntikkan isu, ide, dan juga pesan untuk berbicara tentang sesuatu, hal yang jika dapat klik dengan pengunjung maka akan menghasilkan “sengatan listrik” yang menarik. Karakter utama film ini, Louis Wain, percaya electricity was something so extraordinary and strange that the human mind was barely able even to comprehend it.The Electrical Life of Louis Wain’ : the Wes Anderson film made by someone else.


Movie Review: Hold Me Back (2020)

"Everyone is sad. Everyone is hiding a sad story."

We are sad generation with happy pictures. Tentu saja tiap masa punya masalahnya sendiri dan akan berdampak pada perubahan di generasi selanjutnya. Di Jepang ada yang namanya Satori generation, para kaum muda yang memilih melepaskan ambisi dan harapan karena tren ekonomi makro di sana, karir stagnan tidak masalah, solo-saturday jadi sesuatu yang lumrah, dan semakin banyak yang merasa tidak tertarik untuk menikah. Karakter utama film ini adalah seorang wanita yang dapat dikatakan bagian dari generasi tadi, no longer in her twenties ia mengangap rasa sukanya pada seorang pria yang lebih muda darinya as a dirty and pure tragedy. Di sepuluh menit pertama kamu bahkan diajak hanya melihat dia berbicara dengan dirinya sendiri. Hold Me Back’ : all we need is somebody to lean on.


Movie Review: Ascension (2021)

“In this age of internet, either you influence me or I influence you.”

Tidak boleh punya tattoo dan tindik di tubuh merupakan salah satu peraturan yang muncul dalam penyelenggaraan sebuah bursa kerja di film ini, para kandidat pekerja didorong untuk memilih pekerjaan yang mereka mau. Banyak para kandidat merasa ragu untuk menentukan pilihan meskipun sadar mereka akan “dipersiapkan” lebih jauh lagi dalam sesi pelatihan. Harus diakui memang ada peran “luck” dalam proses memilih pekerjaan, karena meskipun kamu dipersilahkan untuk berharap mendapat pekerjaan dengan prospek stabilitas keuangan di masa depan tapi ada opsi untuk tunduk pada kapitalisme dengan eksploitasi yang tampak ramah di permukaan saja. Even if you can memorize 300 ancient Chinese poems, it’s still useless if you don’t know how to monetize!Ascension’ : a simple and sly cinéma vérité about consumerism and capitalism.


TV Series Review: Dr. Brain - Part 1

“Can a civilization exist without ambition?”

Mencoba menciptakan sinkronisasi otak antar manusia merupakan tujuan utama penelitian seorang Ilmuwan otak, ia ingin agar di masa depan manusia tidak perlu lagi berbicara untuk menyampaikan sesuatu namun cukup memikirkannya di dalam otak mereka yang dapat terkoneksi dengan manusia di sekitarnya. Tapi di balik ambisi besar itu pria tersebut ternyata menyimpan sebuah rencana yakni untuk menemukan jawaban atas insiden misterius yang membuatnya kehilangan anggota keluarga. Pria tersebut ingin masuk ke dalam pikiran para korban yang terlibat untuk menemukan petunjuk di dalam ingatan mereka.


Movie Review: Beans (2020)

"If you can't feel pain, then no one can hurt you."

Teman akan lebih bermakna dari orangtua bagi seorang anak yang sedang beranjak masuk ke dalam fase pubertas dalam hidupnya, momen ketika rasa ingin tahu untuk mencoba berbagai hal baru seperti meloncat tinggi. Namun karena masih absennya kemampuan untuk memilah apakah yang tampak menyenangkan itu sepenuhnya baik dan tepat kerap muncul gesekan antara si anak dan orangtua, larangan lantas dianggap sebagai sesuatu yang negatif oleh si anak yang kemudian mencoba untuk memberontak. Transisi dari remaja menuju early adulthood kerap dijadikan bahan oleh para filmmaker untuk bercerita, film ini merupakan salah satu dari mereka yang tahu cara mengolahnya. ‘Beans’ : a medium well coming-of-age drama.