TV Series Review: The Killer's Shopping List - Part 2

“Like who doesn't have a secret? Everyone has one.”

Meski sang pacar menilainya sebagai seorang pecundang dan sosok tidak berguna, tapi cinta seorang pria kepada pacarnya yang merupakan seorang Polisi itu tidak luntur, karena kisah cinta mereka telah berlayar selama 20 tahun. Pria tersebut terus mencoba menemukan pekerjaan tapi selalu berujung pada kegagalan, sesuatu yang terasa aneh bagi orang-orang di sekitarnya karena dia dikenal pintar dan memiliki daya ingat yang sangat luar biasa. Kemampuannya itu ternyata berguna dalam fungsi yang berbeda, bukan untuk ketika bekerja di supermarket milik keluarganya melainkan membantu menemukan pelaku kasus pembunuhan misterius dengan clue berupa daftar belanja. 


Blogger Tricks

TV Series Review: Green Mothers' Club - Part 2

“Even if we can't be the most decent human beings, we shouldn't become monsters.”

Kembali ke Korea Selatan justru membuka pintu masalah bagi seorang Ibu muda dengan dua orang anak. Sembari mencari pekerjaan baru dia juga harus bergabung dengan komunitas Ibu-Ibu para orangtua di sekolah anaknya, yang gemar berkumpul bersama. Tidak punya social skill yang mumpuni membuat Ibu muda tadi kesulitan untuk bisa klik dengan komunitas tersebut, meskipun salah satu di antaranya adalah sepupunya. A risky new group on the block, five “normal” moms in an abnormal society: innocent mom, clueless mom, helicopter mom, sensible mom, and scoundrel mom. Adults don't make friends without motives, she got new fake friends. At first. 


TV Series Review: Woori the Virgin - Part 1

“I only have one chance to make a baby.”

Tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah adalah janji yang dipegang teguh oleh seorang wanita yang berprofesi sebagai asisten penulis sebuah drama populer. Dan ia beruntung karena pacarnya juga mendukung, tapi suatu ketika janji tersebut runtuh namun lewat cara yang tidak biasa. Sumbernya ialah seorang pria necis anak konglomerat yang baru saja sembuh dari penyakit kanker, coba diikat oleh sang Istri yang telah ia gugat cerai, yaitu dengan menggunakan his husband last frozen sperm. Aksi sang istri yang ingin hamil agar tidak diceraikan itu justru menggagalkan janji teguh si asisten penulis dan menciptakan banyak masalah baru lainnya.


Movie Review: Morbius (2022)

"How far are we allowed to fix something that's broken?"

Sampai saat ini karakter dari Marvel Comics sudah dibuatkan 63 buah film, tersebar memang di mana Marvel Studios yang kita kenal dengan MCU baru memproduksi film mereka di tahun 2008 lewat ‘Iron Man’. Sedangkan 22 tahun sebelumnya ada ‘Howard the Duck’, film pertama dari Marvel Comics publications dan di dua dekade itu ada beberapa studio yang mencoba, salah satunya Columbia Pictures yang pernah membuat lima film Spider-Man sebelum akhirnya “berbagi” dengan Marvel Studio sejak tahun 2017. Mereka juga mencoba membuat “dunia” mereka sendiri, yakni Sony's Spider-Man Universe dan ini adalah film ketiga. Tapi bukankah archenemies Spider-Man hanya tiga: Doctor Octopus, the Green Goblin, dan Venom? ‘Morbius’: Sony without Marvel is nothing but a speck of dust?


Movie Review: Fantastic Beasts: The Secrets of Dumbledore (2022)

“There’s nothing you can do to stop me.”

Harry Potter dan teman-temannya memang telah mengakhiri petualangan mereka sekitar satu dekade yang lalu di media film, tapi jelas petualangan itu membekas di hati para penonton dan tentu saja penggemarnya. Tidak heran banyak pihak yang menginginkan lebih, berharap agar dibuatkan kelanjutan. Potensi besar tersebut tentu saja tertangkap radar milik Warner Bros., tidak heran selang dua tahun dari rilis film ‘Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2’ proyek the Fantastic Beasts film series pun digaungkan, jadi bagian ‘The Wizarding World’ dan mencoba memperluas dunia sihir yang telah dimulai oleh Harry Potter dan juga teman-temannya. Film pertama, appealing start. Film kedua, low-stakes entertainment. Film ketiga? ‘Fantastic Beasts: The Secrets of Dumbledore’: sometimes imaginative, often struggles to juggle.


Movie Review: Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022)

“I love you in every universe.”

Salah satu kelebihan yang kini dinikmati Marvel Cinematic Universe ialah flexibility, bagaimana sejak awal telah membentuk pondasi yang kuat bagi kelompok superhero mereka yang kemudian dapat diutak-atik sesuai dengan kebutuhan konsep yang coba disajikan. Aksi mix and match itu telah berjalan dengan baik sejak awal, hingga the blip terjadi, momen ketika Thanos snapping his fingers dan mengubah “tatanan” yang telah tersusun. Penyesuaian dilakukan sejak major event itu, diawali dengan ‘WandaVision’ yang terjadi tiga minggu pasca ‘Endgame’ kini Marvel mengembangkan dunia mereka dengan travel through the multiverse. Ya, that “Spider-Man reunion” thing adalah permulaan. ‘Doctor Strange in the Multiverse of Madness’: an example of imagination triumph over the programmed of commercial calculation. (Warning: the following post might contains mild spoilers)


TV Series Review: WandaVision - Part 3 (Felina)


"You are my sadness and my hope. But mostly, you're my love."

Setelah pertempuran di Avengers: Endgame, dua superhero The Avengers mencoba melanjutkan kehidupan mereka sebagai manusia biasa, menyembunyikan kekuatan super mereka dari para tetangga di lingkungan baru yang menawarkan kehidupan pinggir kota yang indah. Namun ketika mulai menikmati hidup sebagai orang normal sepasang kekasih tersebut mulai merasa curiga dengan segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup mereka yang mulai dipenuhi dengan berbagai hal ganjil dan aneh.


TV Series Review: All of Us Are Dead - Part 1

“No matter what happens, don't die. And don't let anyone else die.”

Sebuah virus mengubah manusia menjadi zombie, berasal dari eksperimen sains yang gagal dan celakanya dilakukan di sebuah sekolah, sehingga virus yang berubah menjadi wabah itu dengan cepat menyebar, menginfeksi para siswa dan mengubah mereka menjadi zombie. Sembari menunggu bantuan dari pemerintah yang di sisi lain juga sedang berjuang menghentikan penyebaran wabah tadi yang telah masuk ke pusat kota, sekelompok siswa mencoba untuk bertahan hidup dengan melindungi diri dan memberikan perlawanan, harus terus berpindah mencari tempat aman dan menghindar dari gigitan para zombie.


TV Series Review: Monstrous - Part 1

“As time passed by, the evil spirits must’ve gotten more evil.”

Sebuah kota kecil berubah menjadi kota zombie setelah hujan hitam melanda kota sehari sebelumnya. Masyarakat yang terkena hujan hitam tersebut akan mengalami perasaan aneh dan kesulitan untuk mengendalikan diri mereka, berujung pada aksi anarkis dan brutal. Hujan hitam tersebut diduga berasal dari roh jahat yang kembali bebas setelah sebuah patung berukuran raksasa dipindahkan dari sebuah gunung ke pusat kota, dalam rangka upaya meningkatkan sektor pariwisata kota. Fenomena menakutkan yang misterius itu coba ditemukan solusinya oleh sekelompok orang, terdiri dari Polisi, anak muda, dan arkeolog.


TV Series Review: Hellbound - Part 1

"Why haven't we been paying any attention all these years?"

Setiap manusia yang punya banyak dosa akan dibunuh secara brutal. Konsep itu datang dari sebuah organisasi yang menilai bahwa hukum buatan manusia tidak lagi mampu membuat manusia takut dan berusaha menjauhi dosa. Oleh sebab mereka mereka yakin kini Sang Pencipta telah murka, tidak ada lagi pengampunan di mana manusia yang memiliki banyak dosa akan menerima dekrit berupa tanggal kematian mereka. Ketika momen itu tiba maka tiga sosok monster hitam berukuran besar akan datang untuk mencabut nyawa manusia tersebut, menyakitinya terlebih dahulu lalu mengambil nyawanya secara cepat. Itu dapat terjadi di manapun, baik di tempat sepi maupun di tempat ramai dalam bentuk sebuah pertunjukan.