Movie Review: The King's Man (2021)

“Let's end this as gentlemen! After all, manners maketh man.”

Istilah dalam bahasa Inggris kuno “Manners Maketh Man” melambung tinggi ketika diucapkan oleh karakter Harry Hart di film Kingsman: The Secret Service, ia pakai untuk menunjukkan kepada beberapa orang anak muda London pelajaran tentang bagaimana cara bersikap sebagai seorang gentlemen. Momen tersebut terasa sangat berkesan karena hadir dalam bentuk adegan action yang mempertontonkan pesona posh British yang lantas berkembang menjadi sajian action spy comedy stylish serta lucu meskipun di beberapa bagian terasa sedikit over-the-top. Dan yang terpenting adalah film itu sukses secara komersial, and what is profitable must be exploited, that's how Hollywood wants it. Back story sounded like a good idea, which always comes with a certain risk. The King's Man’ : a concentrated nonsense.


Blogger Tricks

Movie Review: The Humans (2021)

“The horror stories for the monsters are about humans.”

Why do so many family fights occur on Thanksgiving? Salah satu pertanyaan yang sangat menarik sekalipun ditarik lebih luas lagi konteksnya, yakni mengapa liburan keluarga kerap menjadi tempat terjadinya pertengkaran di dalam keluarga? Hal itu seperti sudah menjadi rahasia umum dan membuatmu telah mengantisipasi potensi kemunculannya, keluarga yang telah terpisah jarak dan waktu kemudian berkumpul dan saling bertukar cerita, tawa dan canda. The problem is: everyone wants to say something, but not everyone wants to hear or even care about others' stories. Apalagi ketika perbincangan melibatkan emosi yang berubah bentuk menjadi amarah akibat kata yang terucap keluar dari ranah “lumrah.” Because families are complicated and there are always little things! ‘The Humans’: a horror in disguise, one of the most disturbing family drama I've ever watched.


Movie Review: Ghostbusters: Afterlife (2021)

“Take a little advice. Don't go chasing ghosts.”

Fungsi film ini mengingatkan saya pada Star Wars: Episode VII - The Force Awakens yang kala itu hadir membuka kisah baru setelah ‘Prequel trilogy’ dianggap kurang mampu menyamai kualitas ‘Original trilogy’. ‘Ghostbusters II’ tentu saja sangat jauh dari kata buruk tapi jelas ada penurunan kualitas dibandingkan dengan film pertama yang tidak hanya sukses di box office saja tapi juga mendapat pujian dari penonton serta kritikus, perpaduan komedi, aksi, dan horor yang berhasil menjadi cultural phenomenon sampai saat ini. Bringing back a popular franchise jelas bukan sebuah pekerjaan mudah dan film ini memberanikan diri to travel back in time and connect directly to the originals serta “melanjutkan” kisah yang dimulai oleh tiga Professor doyan hantu itu. ‘Ghostbusters: Afterlife’: timeless classics updated and handover.


Movie Review: Mass (2021)

"The last gunshot, 1:36, goes into my son's neck."

Tuhan saja Maha Pemaaf serta Maha Pengampun, kenapa manusia tidak? Faktanya praktik memaafkan dalam kehidupan sehari-hari bukan sesuatu yang mudah untuk dilakukan, terlebih jika rasa sakit yang membekas merupakan hasil dari kehilangan sosok atau sesuatu yang sangat kamu sayangi dan “diambil” secara tidak adil. Film ini dibuka dengan proses persiapan sebuah ruangan meeting, koordinasi antara tiga orang yang bukan merupakan empat karakter utama, namun dari raut wajah mereka sejak awal penonton telah dibuat mengantisipasi munculnya sesuatu “mengerikan” dan menguasai ruangan tersebut tadi. Dan itu terjadi. Mass’: playing with agony.


Movie Review: Eternals (2021)

"When you love something, you protect it. It is the most natural thing in the world."

Momen Thanos menjentikkan jari di ‘Avengers: Infinity War’ menciptakan masalah bagi para superhero di MCU, namun juga ruang untuk berbicara lebih tentang arti penting the human race yang kala itu membuat momen perpisahan Iron Man terasa sangat heroic. Timeline mereka memang jadi sedikit “kacau” pasca Endgame tapi itu bagian dari rencana Marvel mengembangkan universe, memakai media televisi yang dimulai dari ‘WandaVision’ tiga minggu pasca Endgame lalu disusul ‘The Falcon and the Winter Soldier’, ‘Loki’, dan ‘Hawkeye’ di tahun 2021. Sama seperti serial televisi tadi setting waktu dua film Spider-Man juga berlangsung pasca Endgame, mengalami time jump ke tahun 2023 dan 2024. Termasuk pasukan superhero terbaru ini, which Marvel considered to be a perfect transition into its next phase of films. ‘Eternals’: an explicit statement from Marvel.


The 11th Annual PnM Awards - Nominations

Tahun 2021 merupakan tahun terberat bagi saya dalam menentukan film terbaik, sampai daftar ini telah selesai disusun masih belum ada yang berhasil berlari kencang sendirian di posisi terdepan. Sejak awal di edisi ke-11 PnM Awards yang juga menjadi perayaan dari satu dekade usia blog ini pada tanggal 15 Desember 2021 yang lalu, saya memang telah menetapkan akan memberi 11 buah slot bagi nominasi film terbaik. Awal tahun lalu saya sempat merasa tidak yakin slot tersebut akan terisi penuh, karena untuk apa menaruh film yang tidak layak diberi label calon film terbaik hanya demi memenuhi slot yang tersedia, right? Tapi di luar ekspektasi saya slot itu penuh dan saya bingung harus memilih yang mana. 


Movie Review: Benedetta (2021)

“Extraordinary accusations require extraordinary proof.”

Sekarang semua bisa dimanfaatkan, termasuk agama demi meraih kekuasaaan, tapi hal tersebut gaungnya semakin kencang sekarang ini karena kemudahan mengakses informasi yang semakin mudah pula padahal hal licik seperti itu sebenarnya telah eksis sejak lama. Karena manusia pada dasarnya senang jika dirangsang pikirannya dan itu semakin mudah dilakukan saat ini, fenomena kemunculan orang-orang yang “menyimpang” dari ajaran dan aturan yang berlaku serta berujung hoax merupakan bukti kesuksesan pihak-pihak tidak bertanggungjawab meraih keuntungan dengan cara menstimulasi isi pikiran manusia di sekitarnya. Seperti karakter utama film ini, menyebut dirinya sebagai tangan kanan Tuhan. Benedetta’: a sacrilegious inversion.


Movie Review: C'mon C'mon (2021)

“My feelings are inside me. You don't know what they are.”

Pertanyaan pertama yang terlontar dari karakter di film ini adalah “when you think about the future, how do you imagine it'll be?” Terkesan sederhana dan mudah untuk dijawab memang namun ada kerumitan yang menarik di dalamnya, bahkan mereka yang telah sukses dan meraih mimpinya juga akan merasakan hal yang sama dengan mereka yang baru mulai, sedang berjuang, atau yang baru sekedar bermimpi tentang masa depan. Sikap optimis memang wajib mendominasi tapi bohong jika menyebut tidak ada rasa takut dan cemas di dalamnya, hal yang baik because fear helps protect us, makes us alert to danger and prepares us to deal with it. So, you're hopeful for the future? Like, when you think about the future, you think it'll be better or worse? C'mon C'mon’: damn this movie.