26 August 2016

TV Series Review: W - Part 6


Seorang wanita, anak dari kartunis terkenal, mengalami sebuah insiden yang membawanya masuk ke dalam “dunia” yang berbeda, dunia di mana telepon selulernya tidak berfungsi dan dua bulan sama dengan tidak lebih dari setengah jam di “dunia” tempat dia berasal. Di sana wanita yang berprofesi sebagai dokter ahli bedah tersebut bertemu dengan seorang pria mantan atlet dengan popularitas yang tinggi, pria yang secara tidak langsung "mengikat" si wanita di dalam “dunia” baru tersebut. Masalahnya adalah sang pria merupakan “ciptaan” dari ayah si wanita.

Blogger Tricks

24 August 2016

Review: Imperium (2016)


"For evil to triumph, it only takes good men to do nothing."

Ketika berbicara tentang aksi terorisme fokus kita kerap selalu mengarah pada arah yang sama, baik itu yang melibatkan kelompok, negara, dan yang paling gila mengikutsertakan agama. Namun sesungguhnya aksi terorisme dapat lahir dalam berbagai bentuk dan dari berbagai arah, salah satunya dari “dalam” setiap negara. Mereka yang merasa ditindas serta diabaikan oleh negara mereka sendiri itu dapat menghasilkan kekacauan atau mimpi buruk yang lebih besar dari apa yang diperoleh suatu negara dari serangan negara lain. Itu yang diceritakan oleh ‘Imperium’ dengan cara yang efektif, aksi menyusup dan rasa cemas, when Harry Potter shaving his hair and doing undercover mission as a Nazi skinhead.

22 August 2016

TV Series Review: W - Part 5


Seorang wanita, anak dari kartunis terkenal, mengalami sebuah insiden yang membawanya masuk ke dalam “dunia” yang berbeda, dunia di mana telepon selulernya tidak berfungsi dan dua bulan sama dengan tidak lebih dari setengah jam di “dunia” tempat dia berasal. Di sana wanita yang berprofesi sebagai dokter ahli bedah tersebut bertemu dengan seorang pria mantan atlet dengan popularitas yang tinggi, pria yang secara tidak langsung "mengikat" si wanita di dalam “dunia” baru tersebut. Masalahnya adalah sang pria merupakan “ciptaan” dari ayah si wanita.

20 August 2016

Review: Viral (2016)


"I can feel it inside of me."

Diproduksi oleh Blumhouse Productions menarik ketika mendapati ‘Viral’ dirilis lewat video on demand. Memang selain beberapa “produk” andalannya yang telah populer film-film dari movie production company yang fokus di genre horror ini kerap terasa seperti trial and error, putar kembali premis klasik bersama budget yang kecil. Apakah treatment yang ia peroleh menandakan ‘Viral’ tidak lebih baik dari film-film lain Blumhouse yang mendapat kesempatan rilis di layar lebar? No, together with ‘Hush’ so far this one is this year not-bad-film from the studio that brought you Paranormal Activity, Insidious, Sinister, The Purge, Oculus, Ouija, The Visit, and Whiplash.

19 August 2016

Review: Into the Forest (2016)


"Anybody there?"

Banyak cara yang dapat digunakan oleh sebuah film untuk meninggalkan impresi menarik bagi penontonnya, cara termudah tentu saja dengan menciptakan kehebohan penuh ledakan, jika film tentang kiamat maka libatkan manusia dalam pertarungan dengan alien dan zombie misalnya. ‘Into the Forest’ mencoba sisi sebaliknya, sebuah kisah tentang “kekacauan” yang terjadi di sebuah bencana dengan pendekatan yang minimalis, menyaksikan karakter bertahan hidup and shaping their life, keep you wondering with survival and sisterhood story. Produced by Juno MacGuff, it feels like ‘Into the Wild’ meets ‘Ex Machina’ without robots presences.

18 August 2016

Fresh Fifteen: July


15. Shawn Mendes - Three Empty Words

'Three Empty Words' merupakan tipikal lagu tentang cinta dan heartbreak namun apa yang membuatnya sukses mencuri perhatian adalah cara Shawn Mendes yang dengan baik menggunakan petikan gitar yang sepenuhnya mendominasi sejak awal hingga akhir untuk menemani ia bercerita tentang sebuah situasi sulit dalam sebuah hubungan cinta. Acoustic ballad ini punya hook yang manis karena di setiap lirik yang  dinyanyikan oleh Shawn Mendes pendengarnya dapat merasakan situasi dan rasa sakit yang ia alami.

17 August 2016

Review: Pete’s Dragon (2016)


"Dragon! It’s a dragon!"

Disney belum berhenti untuk bercerita tentang believing in wonder di tahun ini. Di awal tahun kita sudah bertemu dengan Zootopia bersama seekor kelinci yang berjuang meraih mimpinya, yang kemudian disusul oleh ‘The Jungle Book’ dan Finding Dory. Kini ‘Pete's Dragon’ hadir mencoba meneruskan pencapaian tadi, sebuah redesign yang sehat pada a tale of a magic tentang kisah persahabatan antara seorang manusia dengan seekor naga dengan kombinasi heart, semangat, dan visual yang menyenangkan. It’s ‘The Good Dinosaur’ meets ‘The Jungle Book’ with good heart and magic.