Movie Review: Logan (2017)


"You, who the hell are you?"

First of all kita sepertinya harus mengucapkan terima kasih kepada Deadpool karena berkat kesuksesan yang ia capai tahun lalu film superhero dengan R-rating kini tampak menjanjikan dan menarik. Mass appeal tentu akan memperoleh "dampak" signifikan namun di sisi lain hal tersebut juga membuat filmmakers semakin “bebas bernafas” dalam menyajikan para superhero. Hal tersebut menjadi salah satu faktor penyebab mengapa film yang (mungkin) akan menjadi akhir dari era salah satu karakter paling ikonik di Marvel Universe’s ini seperti menjadi sebuah angin segar bagi film-film superhero yang kini terasa semakin generic. Logan: the ultimate Wolverine film with lovely heat and heart.

Blogger Tricks

Review: A Cure for Wellness [2016]


"No one ever leaves."

Terdapat tiga hal yang mencolok dari film terbaru dari sutradara yang pernah menukangi ‘The Ring’, tiga buah film ‘Pirates of the Caribbean’, ‘Rango’, dan ‘The Lone Ranger’ ini yaitu ia punya unsur sci-fi dan fantasy, lalu horror, dan juga thriller, ketiganya ditemani dengan misteri yang eksis pada sebuah “lokasi” misterius. Hmmm, Ex Machina? Mencoba tampak unik and strange ‘A Cure for Wellness´ dapat dikatakan “serupa” dengan ‘Ex Machina’ namun pertanyaannya adalah apakah kualitas mereka juga sama mengingat menghadirkan sebuah kisah “unik and strange” yang konsisten tampil menarik sejak awal hingga akhir bukan sebuah pekerjaan yang mudah.

TV Series Review: Strong Woman Do Bong-Soon - Part 1


Tubuhnya memang mungil namun seorang wanita yang sangat mencintai video game memiliki sebuah kekuatan super, tangannya mampu mengangkat sebuah traktor dan ayunan kecil dari kakinya mampu mematahkan tulang belakang manusia. Bermimpi untuk menjadi wanita yang elegant suatu ketika ia justru menerima pekerjaan sebagai bodyguard bagi seorang pria kaya raya pemilik sebuah perusahaan game, pria yang yakin bahwa wanita tersebut merupakan sosok yang tepat untuk melindunginya dari anonymous threats. 


2017 Oscar Predictions - Part 2


Ketika membuat sebuah prediksi setiap individu biasanya berharap agar prediksinya sesuai dengan hasil yang kelak akan hadir, namun saya justru tidak demikian, karena dengan menaruh objektifitas di atas subjektifitas maka terdapat asa atau harapan agar di beberapa kategori apa yang telah saya prediksikan justru berakhir tidak tepat dengan di sisi lain apa yang saya harapkan (favorit saya) untuk berhasil meraih kemenangan. And the Oscars goes to…..

Review: Fifty Shades Darker (2017)


"I don't know whether to worship at your feet or spank you."

Sulit untuk menampik bahwa ‘Fifty Shades of Grey’ merupakan sebuah erotic romantic drama film yang terasa medioker meskipun ia berhasil meraup $571 juta, lebih dari sepuluh kali lipat dari budget yang ia punya. Hingga ketika review ini ditulis penerusnya, ‘Fifty Shades Darker’ ternyata telah menjadi “follow-up” yang baik bagi ‘Fifty Shades of Grey’ di box office, namun pertanyaannya adalah bagaimana dengan kualitas yang ia punya? Apakah saga berisikan jeratan asmara di antara Mister Grey dan Anastasia yang dipenuhi BDSM itu berkembang ke arah yang lebih baik ketimbang kontes saling bertatap mata di antara dua jiwa yang “rusak” untuk kemudian diselesaikan dengan having sex?

Review: The Lego Batman Movie (2017)


"Iron Man sucks!"

Tiga tahun lalu ‘The Lego Movie’ berhasil memberi kejutan yang cukup besar bagi genre animation, sebuah kisah tentang “ordinaryguy yang merasa bahwa dirinya “special” itu tidak hanya berhasil menceritakan “everything is awesome” and everybody is special namun dengan cepat langsung membawa dunia Lego menjadi populer dan tampak menjanjikan di industri perfilman. Fictional universe langsung terbentuk dengan salah satunya tentu saja sekuel dari The Lego Movie itu sendiri, but first let’s meet ‘The Lego Batman Movie’ yang tidak hanya sukses “bercerita” seperti 'The Lego Movie' saja namun membawa tranformasi dan penyegaran terhadap DC Comics characters dalam bentuk sebuah blockbuster comedy. Everything is cool when you’re part of a team. Always be yourself, unless you can be Batman!

Review: Rings (2017)


"You’re not real!"

The Ring’ yang rilis tahun 2002 serta ‘The Ring Two’ yang hadir tiga tahun berikutnya sebenarnya telah “rampung” menceritakan kisah Samara Morgan, versi english dari Sadako, but “the brand” masih begitu menarik untuk diekploitasi maupun dieksplorasi. ‘Rings’ mencoba untuk melakukan dua hal tersebut, membawa kembali videotape bertuliskan “watch me” itu mengajak penonton bertemu dengan “kebangkitan” Samara 13 belas tahun pasca kejadian di film pertama. It’s a “mute” horror.