Review: The Lego Batman Movie (2017)


"Iron Man sucks!"

Tiga tahun lalu ‘The Lego Movie’ berhasil memberi kejutan yang cukup besar bagi genre animation, sebuah kisah tentang “ordinaryguy yang merasa bahwa dirinya “special” itu tidak hanya berhasil menceritakan “everything is awesome” and everybody is special namun dengan cepat langsung membawa dunia Lego menjadi populer dan tampak menjanjikan di industri perfilman. Fictional universe langsung terbentuk dengan salah satunya tentu saja sekuel dari The Lego Movie itu sendiri, but first let’s meet ‘The Lego Batman Movie’ yang tidak hanya sukses “bercerita” seperti 'The Lego Movie' saja namun membawa tranformasi dan penyegaran terhadap DC Comics characters dalam bentuk sebuah blockbuster comedy. Everything is cool when you’re part of a team. Always be yourself, unless you can be Batman!

Blogger Tricks

Review: Rings (2017)


"You’re not real!"

The Ring’ yang rilis tahun 2002 serta ‘The Ring Two’ yang hadir tiga tahun berikutnya sebenarnya telah “rampung” menceritakan kisah Samara Morgan, versi english dari Sadako, but “the brand” masih begitu menarik untuk diekploitasi maupun dieksplorasi. ‘Rings’ mencoba untuk melakukan dua hal tersebut, membawa kembali videotape bertuliskan “watch me” itu mengajak penonton bertemu dengan “kebangkitan” Samara 13 belas tahun pasca kejadian di film pertama. It’s a “mute” horror.

Movie Review: La La Land (2016)


“City of stars, are you shining just for me?”

Drama, comedy, action, horror, romance, thriller, sci-fi, mungkin jika dibandingkan dengan genre-genre tadi musical dapat dikatakan tertinggal jauh dalam hal popularitas. Meskipun pernah berada di golden age kini musical genre lebih identik dengan film animasi, tetap berada di kategori “less mainstream” meskipun telah memiliki film-film seperti Moulin Rouge!, Chicago, Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street, Nine, dan Les Misérables sebagai anggotanya. Dapatkah musical genre mencuri atensi dalam skala besar? Of course, here's to the ones who dream, perpaduan contemporary, modern, fantasy, and reality bersama sweet tunes plus catchy dances. La La Land: a joyful ode to love and life, dreams and imagination.

Review: John Wick: Chapter 2 (2017)


“You think he will stop now?”

Rilis pada bulan Oktober ‘John Wick’ berhasil menjadi salah satu the biggest surprise of the 2014 film year, sebuah sajian action dengan staging yang terasa stylish berlandaskan formula yang sangat sederhana, yaitu aksi balas dendam. Tidak hanya a lot of fun yang hadir pada show of force dari Jonathan tersebut namun juga berbagai surprises yang sama seperti ‘The Raid’ sukses membuat genre action seperti terasa segar kembali. Masalah ternyata belum selesai bagi Mister Wick, ‘John Wick: Chapter 2’ membawanya kembali ke dalam berbagai masalah yang seolah menjadi escalation dan transisi bagi franchise. It’s still slick, but how about the surprises?

Review: 20th Century Women (2016)


"Wondering if you're happy is a great shortcut to just being depressed."

Karakter utama film ini, Dorothea Fields, mengatakan bahwa dirinya akan mati akibat kanker pada usia 74 tahun. Yang menarik dari sana adalah alasan bahwa hal tersebut berlandaskan dari rasa sulit atau elusive yang Dorothea alami dalam mengikuti perputaran waktu dan perkembangan era yang semakin modern, sesuatu yang tentunya membawa banyak perubahan, dari manusia, inovasi, hingga berbagai “penyakit” di dalamnya. Perasaan “terancam” dari karakter itu merupakan dasar yang digunakan dengan baik oleh Mike Mills di '20th Century Women', sebuah comedy-drama yang menjadi sebuah ode bagi time, people, youth, and also human spirit. It’s an endearing and soulful dramedy.

2017 Oscar Predictions - Part 1


Ketika membuat sebuah prediksi setiap individu biasanya berharap agar prediksinya sesuai dengan hasil yang kelak akan hadir, namun saya justru tidak demikian, karena dengan menaruh objektifitas di atas subjektifitas maka terdapat asa atau harapan agar di beberapa kategori apa yang telah saya prediksikan justru berakhir tidak tepat dengan di sisi lain apa yang saya harapkan (favorit saya) untuk berhasil meraih kemenangan. And the Oscars goes to…..

Top 12 Films of 2016


Alkisah suatu ketika seorang remaja sedang merasa bosan dengan kehidupan yang kini ia jalani, tidak hanya berisikan hal-hal jahat seperti fitnah, perampokan, dan juga peperangan saja namun ia merasa bosan dengan rutinitasnya yang berjalan di same pattern dan terasa monoton. Tidak ingin kelak menjadi wanita yang kemudian merasa depresi akibat masa lalunya wanita yang kerap diganggu oleh sang ayah yang jahil itu kemudian memutuskan untuk melakukan sebuah petualangan. Dari sana ia bertemu dengan seorang pria charming yang berhasil membuatnya menari gembira, namun sayangnya belum jauh kisah mereka berjalan muncul sebuah bencana, tidak hanya dari sosok misterius saja namun juga para alien yang mengundang banyak tanda tanya. Berikut adalah 12 film terbaik di tahun 2016!

Movie Review: Split [2017]


"The beast is real."

Berhasil mencetak hit lewat ‘The Sixth Sense’ serta ‘Signs’ selama kurang lebih satu dekade M. Night Shyamalan seperti bertemu dengan tembok besar yang menghalangi setiap karyanya untuk bersinar, ‘Lady in the Water’ punya pencapaian box office setara dengan budget sedangkan the one and only ‘The Last Airbender’ punya score mentereng sebesar 6% di Rotten Tomatoes. Dua tahun lalu sutradara yang terkenal dengan plot twists itu berhasil kembali menciptakan hit lewat ‘The Visit’ dan tahun ini ia telah berada di jalan untuk kembali mengulangi pencapaian tersebut bersama dengan ‘Split’, sebuah psychological horror thriller tentu saja dengan kental rasa M. Night Shyamalan.