02 November 2015

Review: Love (2015)


"What is your ultimate fantasy?"

Unsimulated sex dimana dua atau lebih pemeran melakukan "seks" yang tidak di simulasi, alias real sex, sebenarnya bukan “barang baru" di dunia cinema, sebut saja seperti The Bunny Game yang mengejutkan itu serta Stranger by the Lake yang rilis dua tahun lalu. Oh ya, Nymphomaniac. Namun mayoritas diantara mereka kehadirannya lebih seperti “sweeter” dimana posisi serta perannya untuk menguatkan misi dan isi dari cerita. Gaspar Noé ingin menerapkan hal tersebut di film terbarunya ini, Love, yang bahkan ia sokong dengan penggunaan 3D yang terhitung cukup oke, tapi apakah itu mampu menguatkan misi dan isi dari cerita? A love story with hardcore sex from the producer of Blue Is the Warmest Colour.

Murphy (Karl Glusman) punya gairah sangat tinggi terhadap film dimana pria yang jatuh hati pada Taxi Driver itu memutuskan untuk mempelajari dunia film di Paris. Di luar gairah yang ia punya pada film Murphy juga merupakan “pecinta” seks, ia telah putus dari seniman bernama Electra (Aomi Muyock) yang ia pacari selama dua tahun karena hubungannya dengan wanita lain bernama Omi (Klara Kristin) ternyata berakhir di level yang lebih tinggi: memiliki bayi. Hubungan Murphy dan Omi sendiri tidak harmonis, alasan mengapa Murphy bergerak cepat ketika sebuah masalah menimpa Electra. Murphy akhirnya merasa dirinya sedang terjebak akibat gairah yang ia miliki. 



Alasan kenapa saya membuka review ini dengan unsimulated sex karena hal itu adalah jualan utama film ini. Jika memakai pengandaian saya senang menyebut Love sebagai sebuah film porno yang memperoleh ijin untuk tayang dan disaksikan di bioskop. Jika kamu bukan penonton yang naif kamu pasti telah mengerti bagaimana film porno tampil, taruh karakter kedalam masalah yang begitu sederhana, kualitas akting jadi urusan paling belakang, berikan mereka dialog-dialog standar yang tidak jarang terasa menggelikan, buat jalan untuk membawa mereka menuju tempat tidur, dan selesaikan dengan seks. Begitulah film ini tampil, kesan artsy terasa lemah, ia memberikan kamu seks, lalu seks yang seolah berlandaskan cinta, lalu threesome, hingga seks yang terasa kental kesan eksperimen miliknya.



Nah, yang menarik adalah alur tadi itu sebenarnya bukan sesuatu yang baru, Blue Is the Warmest Colour misalnya pernah melakukan pola yang mirip, tapi jika Abdellatif Kechiche membuat Blue Is the Warmest Colour punya isi disamping penggunaan adegan seks sebagai pendamping, disini Gaspar Noé melakukan hal sebaliknya, bahkan cerita sering tidak terasa sebagai pendamping. Gaspar Noé ingin membuat Love sebagai wujud dimana cinta merupakan sebuah seni tapi sejak adegan pembuka yang mengejutkan itu hingga bagian penutup semua terasa mentah, dan celakanya itu akan kamu dapatkan selama dua jam. Karakter dan cerita seperti di set untuk jalan perlahan, seperti ingin membuat penonton merasakan dan membangun imajinasi mereka, tapi dengan dasar yang lemah sulit untuk melihat tiga karakter itu sebagai manusia yang bertarung dengan masalah.



Love sebenarnya punya niat bagus, ingin menggambarkan bahwa suka dan duka dari cinta, tapi bagian pembuka yang sukses besar memberikan rasa gelisah ternyata jadi satu-satunya surprise dari film ini. Sisanya? Tidak ada ketegangan yang oke di sisi drama, yang notabene punya peran untuk menjadikan fungsi dari adegan seks menjadi lebih kuat. Setelah separuh durasi saya bahkan perlahan merasa kantuk dengan drama yang stuck, dan itu terasa aneh karena isi dari materi yang Love jual adalah seks. Ya, bagaimana bisa menyaksikan seks terasa membosankan? Love melakukan itu, memainkan warna serta memanfaatkan gimmick 3D adegan seks yang tidak di koreografi dan beberapa diantaranya memang oke dan seksi, tapi dampaknya mereka tidak terlihat mengagumkan, seringkali terasa monoton, intimitas miskin.



Murphy adalah Gaspar Noé, dan Love merupakan perwujudan dari ego atau gairah yang ia miliki terhadap seks. Ini sebenarnya bisa jadi kisah “perayaan” cinta dan membuat seks tampak mengagumkan, tapi gagal karena yang di poles hanya adegan seks, sedangkan disisi lain dari karakter dan cerita tidak mampu untuk memanipulasi penonton hingga akhir. Love merupakan drama romance mentah yang keluar dari jalur setelah melangkah dari garis start, miskin emosi sehingga terasa monoton dan pada akhirnya bergantung sepenuhnya pada seks yang jadi senjata utamanya. Oh ya, menarik untuk menutup dengan persoalan ini, adegan seks di film ini bukan hanya tidak di koreografi, mereka juga tidak palsu. Ya, mereka nyata, aktor dan aktris benar-benar melakukan seks. Super segmented.








5 comments :

  1. huaaaa....rasanya pengen nangis pas buka blog rorypnm ada postingan terbaru*lebay
    tapi sumpah seneng bgt....kak @riringina gmn cara baca review yg di wordpress disitu byk bgt review yg pgn dibaca sblm nntn film....tolong kasih tau kak email aku nurifitri07@gmail.com *thanks😙
    semangat!!! rorypnm dan terus berkarya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi, iya nih sebulan lebih menghilang lagi karena masalah yang sama kayak summer kemarin. Maaf pass WP ngak bisa aku kasih, kesepakatan bertiga itu di buat terbatas, di share juga hanya di dua forum. Karena rencananya WP sebatas rest area, akan di bawa ke sini tapi nunggu rorypnm di blogspot sudah kembali “oke”. Paling cepat akhir tahun. :)

      Delete
  2. owhhh.....okey :) kak @riringina bisa ngk yg room sama steve jobs dipindah dulu :'( *pgn baca itu

    ReplyDelete
  3. nothing special.jalan ceritanya kurang tegas . Dan hanya membuat penonton salah focus ..ya hanya fokus pd adegan seks nya bukan pd inti ceritany .but itulah kerennya film luar bebas berekspresi !

    ReplyDelete
  4. Aku sedikit kasian sama tokoh cowoknya dimana dia paling cinta sama electra tapi dia sendiri gak bisa ngendalikan tingkahnya. Gak happy ending

    ReplyDelete