25 April 2020

Movie Review: House of Hummingbird (Beol-sae) (2019)


“Do you ever have moments when you hate yourself?”

Salah satu kegagalan yang paling menakutkan dan bahkan memiliki kemampuan menghancurkan yang sangat besar adalah kondisi ketika kamu merasa bahwa tidak ada satupun manusia di dunia ini yang peduli padamu dan juga menyayangi kamu. Itu berbahaya karena dapat membuat seseorang merasa bahwa eksistensi dirinya merupakan sesuatu yang tidak berguna, terus merasa murung dan salah ketika menjalani hidup dan semakin dekat kepada kehancuran ketika ia mulai membenci dirinya sendiri. Hal tersebut menjadi dasar bagi presentasi di film ini. ‘House of Hummingbird (Beol-sae)’ : a beautifully crafted coming-of-age story.

Ketika tiba di depan pintu, remaja puteri bernama Eun-hee (Park Ji-hoo) menekan bel rumah yang sayangnya tidak mendapat respon dari penghuni di dalam rumah. Ia kemudian kembali menekan tombol bel tersebut sembari mencoba memutar paksa gagang pintu dan memanggil Ibunya (Lee Seung-yeon). Respon yang ia dapat masih sama dan hal tersebut kemudian dengan cepat membuat Eun-hee merasa panik dan merasa takut. Namun setelah sejenak terdiam Eun-hee akhirnya sadar bahwa ia masih berada satu lantai di bawah rumahnya.

Tidak hanya mudah panik, Eun-hee juga hidup dalam kemuraman setiap harinya. Ayahnya (Jung In-gi) yang kasar itu menaruh fokus untuk kesuksesan pendidikan saudara laki-laki Eun-hee, membuat ia bersama saudara perempuannya seperti terkucilkan. Satu-satunya sosok yang dapat membuat Eun-hee merasa gembira adalah sahabatnya Soo-hee (Park Soo-yeon), meskipun tetap saja Eun-hee masih tidak berani untuk menceritakan kepadanya tentang perasaan takut menjalani hidup yang ia terus hadapi. Hal tersebut berubah ketika Eun-hee bertemu dengan Young-ji (Kim Sae-byuk).
Di debutnya sebagai Sutradara ini Kim Bora membawa cukup banyak isu yang ingin ia ceritakan, mereka ia sebar dengan baik di mana pusat utamanya bertumpu pada gejolak batin yang sedang dialami oleh karakter utama, Eun-hee. Secara garis besar berbagai isu tersebut sebenarnya klasik dan cara mereka ditampilkan juga dengan menggunakan konflik-konflik yang klasik, namun yang membuat materi klasik tadi berhasil terasa menarik dan segar adalah cara dan ritme penyampaian yang digunakan oleh Kim Bora. Karakter Eun-hee adalah hummingbird di sini, dari cara ia menjalani kesehariannya untuk kemudian kembali ke rumah yang tampak kurang bersahabat baginya, spotlight benar-benar disorot ke arahnya.

Sepintas Eun-hee memang tampak seperti remaja puteri pada umumnya namun di balik itu setiap hari ia harus berurusan dengan kehidupan yang keras. Klasik memang, karakter yang tertekan lalu harus berhadapan dengan kerasnya kehidupan, namun di sini Kim Bora benar-benar memoles dengan baik “image” dari hummingbird itu. Hummingbird sendiri pada dasarnya merupakan jenis burung yang memiliki tampilan luar yang indah, ia punya bentuk mungil serta berbagai warna yang cantik. Namun dibalik itu Hummingbird merupakan jenis burung yang cemerlang, dari cara ia bertahan hidup dengan memperoleh energi melalui terbang dari satu bunga ke bunga yang lain, hummingbird juga merupakan tipe burung yang tampak kompleks.
Kim Bora menggunakan karakter Eun-hee sebagai perwujudan dari hummingbird, menyajikannya dengan menggunakan sikap realisme. Di sini Kim Bora mencoba menempatkan penonton untuk selalu berada di sisi Eun-hee, seolah menjadi bayangan Eun-hee. Dengan menggunakan long shot ia mencoba menekankan kesepian yang dirasakan oleh Eun-hee, sebuah kehidupan yang terasa muram dan membuatnya membenci dirinya sendiri. Berbagai masalah yang eksis di sekitarnya secara perlahan dan bertahap berkembang menjadi sesuatu yang semakin rumit dan menimbulkan gejolak emosi yang semakin besar bagi Eun-hee, dirinya perlahan tampak seperti hummingbird yang hidup sendiri di dalam dunia yang tidak mengerti dirinya dan juga sulit ia mengerti. Dan penonton dapat ikut merasakan itu.

Salah satu fokus yang menarik adalah isu yang berputar di dalam keluarga Eun-hee. Ambisi yang dimiliki orangtua Eun-hee justru menjadi penggambaran dari bagaimana penerapan sistem parenting yang kurang tepat, sistem di mana orangtua tidak bisa membaca hati dan pikiran anak-anaknya. Kim Bora menggunakan beberapa adegan yang cukup frontal untuk isu tersebut, tapi cara ia mengemas isu tersebut dalam tampilan yang lebih implisit juga tidak kalah cantiknya, seperti scene percakapan di meja makan misal. Contoh lainnya seperti sebuah adegan bermain trampoline, ada “kebebasan” di sana. Kim Bora konsisten menyentil sistem patriarki di jaman itu, supremasi gender yang menimbulkan berbagai gesekan menarik di dalam cerita.
Hasilnya membuat ‘House of Hummingbird’ berhasil konsisten memberikan berbagai punch yang menarik. Menyaksikan karakter utama seolah terus menerus bertemu dengan kesedihan di dalam hidupnya membuat pemberontakan seperti tinggal menunggu waktu untuk meledak, hal yang menariknya digunakan Kim Bora sebagai sebuah penyimpangan kecil dari hasrat anak-anak yang mendambakan agar mereka memiliki “suara” di dalam kehidupan mereka. Hati serta pikirannya selalu memiliki kombinasi rasa takut dan juga kematian, kesedihan Eun-hee bahkan merupakan sebuah kesedihan yang lebih universal di sini, bagaimana kelamnya dunia saat itu dan semakin kelam saat ini. Eun-hee tidak hidup untuk dirinya sendiri, ia justru hidup untuk kebahagiaan orang lain.

Itu sebuah isu yang cukup berat memang, namun meskipun terus menekankan sisi gelap di dalam kehidupan Eun-hee namun di sisi lain Kim Bora juga tidak lupa menyelipkan harapan di dalam cerita. Harapan itu tidak mati, dan itu dapat dilihat pada Eun-hee yang mencoba untuk menjalani kehidupan yang ia inginkan. Ideologi tentang bagaimana semuanya tampak “dijahit” untuk memperoleh hasil akhir yang baik dibentuk dengan halus namun begitupula dengan proses dari seorang remaja yang mencoba untuk belajar terbang karena ia melihat sebuah harapan di dalam rasa putus asa juga tidak kalah menawannya, upaya untuk keluar dari false life yang selama ini “mengganggu” kesehariannya.
‘House of Hummingbird’ terasa penuh warna karena meskipun di panggung utama kita berjalan bersama kisah seorang remaja yang merasa tertekan dengan kehidupannya, namun di sisi lain Kim Bora juga menghadirkan berbagai metafora yang ia kemas dengan cerdik. Ambil contoh kematian pemimpin Korea Utara, Kim Il-sung, yang seolah menunjukkan matinya ideologi dari sebuah era, hal yang hadir pula lewat konflik runtuhnya Seongsu Bridge. Sangat implisit namun berbagai metafora seperti tadi kehadirnya menciptakan impact yang terasa kuat dan tajam, pencapaian yang tidak terlepas dari kinerja akting para pemerannya. Sebagai Eun-hee emosi yang ditampilkan Park Ji-hoo terasa menawan, dan Kim Sae-byuk berhasil menjalankan tugas karakternya sebagai sebuah cahaya terang yang “menyelamatkan” karakter utama. Last but least, kualitas cinematography di sini sangat baik. Manis.
Overall, ‘House of Hummingbird’ adalah film yang sangat memuaskan. Kim Bora jelas mendaur ulang berbagai isu dan juga konflik klasik di sini, namun eksekusi yang ia lakukan terhadap materi-materi tersebut terasa segar dan menawan. Lewat karakter remaja yang mengalami gejolak batin dan emosi di dalam hidupnya ia sukses membawa penonton ke dalam sebuah coming-of-age drama yang mengamati berbagai “sisi gelap” dari kehidupan manusia, ada yang frontal, banyak pula yang hadir secara implisit, namun tanpa sedikitpun kesan menggurui. Yang ada hanya sebuah upaya untuk mencari cinta dan jalan keluar serta meraih hidup penuh harapan. Segmented.









3 comments :

  1. "What's the right way to live?" :)

    ReplyDelete
  2. " Salah satu kegagalan yang paling menakutkan dan bahkan memiliki kemampuan menghancurkan yang sangat besar adalah kondisi ketika kamu merasa bahwa tidak ada satupun manusia di dunia ini yang peduli padamu dan juga menyayangi kamu. Itu berbahaya karena dapat membuat seseorang merasa bahwa eksistensi dirinya merupakan sesuatu yang tidak berguna, terus merasa murung dan salah ketika menjalani hidup dan semakin dekat kepada kehancuran ketika ia mulai membenci dirinya sendiri."*suka kalimat pembuka ini
    Meskipun belum menonton film ini tapi ikut merasakan apa yang dialami tokoh utama perasaan bahwa tak ada satupun orang didunia ini yg "benar- benar" mencintai kita,mereka mencintai "hanya sekedar " atau mencintai "karena kewajiban dan keadaan".

    ReplyDelete