19 November 2022

Movie Review: Rosaline (2022)

"One day, we will be together forever."

Pria dengan inisial “R” belakangan ini menjadi salah satu topik perbincangan yang hangat lewat beberapa kasus tentang cinta dan retaknya hubungan asmara. Tentu saja tidak bisa disamaratakan tapi jika ditarik jauh ke belakang pujangga kenamaan asal Inggris, William Shakespeare, seolah juga punya ketertarikan yang sama pada huruf “R’ itu, sehingga ia menamai karakter utama dari salah satu karyanya: Romeo. Orang awam pada umumnya mengenal Romeo sebagai seorang pria yang rela mati demi memperjuangkan cintanya pada Juliet, tapi sebelum Juliet ada Rosaline di hati Romeo yang sayangnya tak berbalas, asal mula yang pada akhirnya membuat Romeo berpaling. Jadi, semua karena Romeo? ‘Rosaline’ : a feisty alternative retelling.


Rosaline Capulet (Kaitlyn Dever) sedang mabuk asmara, meski kuantitasnya tentu tidak sebanyak sang kekasih, Romeo Montague (Kyle Allen) yang berani menyusup dan memanjat masuk ke dalam rumah kekasihnya itu. Hubungan mereka memang rahasia mengingat status keluarga mereka merupakan rival. Rosaline terus-menerus coba dijodohkan oleh sang Ayah, Adrian Capulet (Bradley Whitford), dengan pria yang memenuhi kriterianya, hal yang sangat ditentang oleh Rosaline. Bukan hanya karena prinsip yang ia pegang namun dengan berbagai kekurangan yang dimilikinya sosok Romeo memang telah membuat Rosaline jatuh hati. Suatu hari Romeo berjanji akan datang ke pesta topeng Capulet.

Celakanya menjelang pesta tersebut Rosaline diminta oleh Adrian untuk menemani salah satu pria yang ingin dia jodohkan dengan anak perempuannya itu. Namanya Dario Penza (Sean Teale) yang kemudian mengajak Rosaline kencan, berlayar menggunakan perahu miliknya. Seolah alam tidak mengijinkan, masalah lalu datang menghampiri kencan tersebut, awal mula terjadinya bencana susulan yang jauh lebih besar menimpa Rosaline. Romeo menepati janjinya tadi dan di Pesta topeng Capulet ia bertemu dengan Juliet Capulet (Isabela Merced), yang dengan cepat membuatnya jatuh hati. Dengan menggunakan rayuan yang dulu ia gunakan pada Rosaline, Romeo berhasil membuat Juliet terpikat, wanita muda yang merupakan sepupu Rosaline.

Dengan lantang menempel “Meet Romeo’s Ex” jelas merupakan sebuah strategi yang sangat jitu untuk menarik atensi, membangun rasa penasaran terhadap salah satu kisah cinta paling dikenal itu. Tidak banyak memang yang mengenal sosok Rosaline meski sebenarnya turut berperan di dalam tragedy karya William Shakespeare yang tidak dapat dipungkiri punya impact tergolong besar jika berbicara tentang cinta.  Dan juga perfilman. Sudah banyak yang mencoba menggunakan dan mendaur ulang formula klasik Romeo and Juliet, lengkap dengan perspektif mereka masing-masing tentu saja. Tapi tidak semua adaptasi baru itu mampu to justify its own existence, sehingga muncul pandangan bahwa versi baru dari dari versi awal yang terkenal dan terus diulang itu tidak bersifat penting, apalagi dibutuhkan.


‘Rosaline’ berbeda, dan bahkan ini dibutuhkan bagi mereka yang selama ini fokusnya hanya tertuju pada dua karakter utama, yakni Romeo dan Juliet. Template utamanya tetap dari karya William Shakespeare tapi Screenwriter Scott Neustadter dan Michael H. Weber, sosok di balik film-film adaptasi terkenal seperti ‘(500) Days of Summer’, The Pink Panther 2, ‘The Spectacular Now’, ‘The Fault in Our Stars’, dan ‘The Disaster Artist’ menulis script dengan basis novel ‘When You Were Mine’ karya Rebecca Serle. Memakai kalimat “What if the greatest love story ever told was the wrong one?” film ini mengutak-atik plot sampingan itu secara nakal, tetap mempertahankan setting utama cerita di kota Verona lengkap dengan design seperti costume misalnya tapi di sisi lain menyuntikkan nafas modern ke dalam presentasinya. Dan berhasil.

Tidak mudah memang untuk sepenuhnya klik terlebih bagi penonton yang menaruh ekspektasi bahwa film ini akan bermain dengan nafas baroque drama yang sangatlah kental. Ekspektasi yang tidak salah karena dari sisi kostum memang image tersebut yang coba dijual, dan memang tetap coba dipertahankan olehnya. Namun di sisi lain Sutradara film ‘Yes, God, Yes’ itu berhasil menyuntikkan nafas segar pada kisah yang telah berulang kali didaur ulang tadi dan membuat ‘Rosaline’ berhasil to justify its own existence. “Meet Romeo’s Ex” tadi bukan sekedar tempelan mengecoh saja, kamu benar-benar dibawa bertemu dengan Rosaline yang dengan tingkah laku centil with a little bit pick me girl charm langsung mencuri perhatian, sosok yang di awal cerita sedang menjalin hubungan asmara dengan Romeo.


Lantas jika pada akhirnya Romeo jatuh cinta pada Juliet, seperti yang banyak orang ketahui, apa fungsi Rosaline di sini? Rosaline berperan sebagai plot device, dan yang menarik adalah perannya bukan hanya sekedar menunjukkan proses terbentuknya saja tapi juga “membantu” memoles nilai dari cinta sejati di antara Romeo dan Juliet. Script sangat baik dalam membentuk dua point penting tadi, di satu sisi mendorong Rosaline sebagai mata bagi penonton untuk menyaksikan perjuangan di antara dua primadona utama, tapi di sisi lain juga mengangkat berbagai nilai penting dari aksi mencintai dan dicintai dengan cara yang fun namun hit the target. Romeo's love for Rosaline is childish infatuation, sedangkan bersama Juliet mereka punya apa yang kini kita kenal sebagai cinta sejati, true love yang berawal dari an impossible love.

Karen Maine gunakan dua hal tadi dengan baik, terutama dalam membentuk narasi sehingga memiliki dua sisi yang berjalan beriringan dan sama menariknya. Rosaline tentu mendapat panggung utama tapi segala bentuk aksi forward-thinking energik yang ia lakukan sebagai protagonist not marginalizing Romeo and Juliet himself. Di sini ia justru berperan sebagai heroine yang mencoba untuk memberontak melawan masyarakat patriarki di lingkungannya, termasuk sang Ayah yang menginginkannya menikah dengan pria yang bahkan tidak ia suka. Maine suntikkan sentuhan feminis yang manis dan membuat ‘Rosaline’ tidak hanya sekedar mempertemukan penonton dengan Romeo’s ex saja tapi juga memoles kisah young adult dari novel menjadi semacam fresh air bagi outdated tragedy, with a change of perspective.


Dan saya suka konsistensi Karen Maine menjaga goals utama yang telah ditetapkan di awal, yakni membungkus segala macam isu dan pesan menarik di dalam cerita primarily for entertainment. Karakter dominan menjadi sumber lelucon, diperankan dengan baik oleh Kaitlyn Dever, Isabela Merced, Kyle Allen, Sean Teale dan pemeran pendukung lain, mereka mampu membuat karakter masing-masing memiliki magnet yang oke sehingga ketika narasi kehilangan tenaga di bagian akhir daya tarik tidak terguncang. Change of perspective membuat ‘Rosaline’ punya ruang yang luas untuk berekspresi dan itu dimanfaatkan dengan baik, dari karakter quirky yang dipercantik oleh Karen Maine dengan penggunaan bahasa modern dan juga beberapa pop songs, kombinasi yang membuat kisah lama itu jadi terasa segar and appealing.

Overall, ‘Rosaline’ adalah film yang memuaskan. Sebuah appealing romantic comedy yang sejak awal memang ingin bersenang-senang meski memakai salah satu tragedy terkenal karya William Shakespeare yang juga merupakan basis dari novel sumber utama cerita. It does not bring any new insights tapi dikomandoi sepupu Juliet film ini berhasil memoles berbagai isu dan pesan klasik menjadi menarik di dalam sajian rom-com yang tampil energik. Well-acted and somehow sympathetic, narasi memang sedikit kehabisan nafas di babak akhir namun tetap berhasil mendarat dengan baik, setelah membawa penontonnya terbang bersama aksi pemberontakan wanita muda yang membentuk retelling tragedy klasik itu menjadi sajian dengan semangat yang  segar and appealing.





1 comment :

  1. "You're a woman. You're not supposed to talk about what you want."

    ReplyDelete