31 January 2016

Review: The Dressmaker [2015]


"I'm back, you bastards."

The Dressmaker seperti sebuah pizza dengan topping yang beraneka ragam. Dari judulnya hal pertama yang terlintas di pikiran kamu mungkin adalah tentang fashion yang memang menjadi pusat utama cerita namun materi itu tidak sendirian, kamu akan menemukan komedi dengan nada hitam, sebuah misteri tentang pembunuhan, hingga kisah asmara yang sensual. Tapi menariknya film yang juga mengusung kisah balas dendam ini walaupun bermain dengan ledakan tetap terasa hangat, seorang wanita yang menggunakan pendirian kerasnya ingin membantu orang-orang di sekitarnya untuk berubah menjadi lebih baik. Ini seperti Chocolat yang menikah dengan fashion dan menjadi liar.

Dengan gaya yang terlihat badass, Tilly Dunnage (Kate Winslet) kembali ke kota Dungatar di pedesaan Victoria untuk merawat ibunya yang sedang sakit, Molly (Judy Davis). Namun dibalik misi utama untuk bertemu kembali dengan ibunya perlahan Tilly mulai menggali kembali masa lalunya di kota yang ia tinggalkan lebih dari dua dekade yang lalu itu, kota yang memberinya kenangan buruk karena 25 tahun yang lalu Tilly dituduh sebagai tersangka dari sebuah peristiwa kematian. Tilly berniat untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi pada peristiwa tersebut, namun dengan cara yang stylish. 



Konsep utamanya adalah usaha penebusan dan pengungkapan yang dilakukan oleh karakter utama, namun seperti judul yang ia gunakan The Dressmaker tetap memakai fashion sebagai media untuk menghidupkan konsep di elemen cerita. Dan seperti yang saya sebutkan tadi, ini bermain dengan stylish, bahkan saking stylish-nya mungkin akan menciptakan perasaan bingung bagi beberapa penonton. Mengapa? Karena di tangan Jocelyn Moorhouse kisah yang diangkat dari gothic novel karya Rosalie Ham ini menghadirkan begitu banyak genre di dalam cerita, dari misteri, komedi, romance, hingga unsur revenge yang dikemas dengan menggunakan fashion. Mereka tampil dalam kuantitas yang kecil, so, miss sedikit kamu akan menilai The Dressmaker sebagai kemasan yang melelahkan.



Melelahkan di sini bukan dalam artian tidak ada hal menarik untuk diikuti melainkan di karenakan begitu banyaknya campur aduk genre tadi sehingga The Dressmaker menciptakan kesan ia sendiri bingung ingin menjadi film yang seperti apa. Cerita tentang revenge dengan pengungkapan kebenaran perlahan tumbuh, sementara perbandingan antara latar belakang setting kota yang kusam dan tampilan Tilly yang begitu mengkilau menjadi satu dari sekian banyak humor yang film ini punya. Perlahan The Dressmaker yang menciptakan impresi sederhana di awal yaitu film tentang seorang pencipta pakaian justru bergerak semakin rumit, kamu akan bertemu dengan impresi bahwa ini mulai terbagi menjadi dua bagian, satu sisi sebuah film drama, satu lagi sebuah komedi.



Nah, menariknya adalah meskipun terkesan sangat “sibuk” tadi The Dressmaker berhasil mencapai garis finish dengan meninggalkan perasaan puas bagi saya. Alasannya sederhana, walaupun berjalan penuh liku-liku, romance terkadang terasa canggung, komedi tidak semunya yang berhasil hit, film ini punya karakter-karakter yang begitu menarik untuk disaksikan proses bertumbuhnya terutama karakter utamanya, Tilly Dunnage. Impresi yang diciptakan Tilly serupa dengan Vianne Rocher di film Chocolat, ia wanita berbeda yang berusaha mengubah penduduk di lingkungannya yang “baru” untuk menjadi lebih baik lagi. Kredit besar layak diberikan kepada Kate Winslet, kesan rebel tidak berlebihan namun sikap berani justru meninggalkan pesona memikat. Cast lain juga punya andil dalam kejutan-kejutan yang dihasilkan The Dressmaker, terutama para penduduk kota yang rasa bencinya kepada Tilly begitu stabil.



Hal lain yang akan kamu kenang dari The Dressmaker adalah rasa stylish yang ia ciptakan, dan kredit layak diberikan kepada tatanan produksi terutama costume design yang menyokong terciptanya visual manis bagi mata penonton. Score terasa begitu ringan namun tidak dengan cinematography. Dengan berayun-ayun antara komedi, drama, romance, hingga tragedi pusat cerita harus memiliki emosi yang kuat untuk menjaga agar perpindahan nada acak tadi tidak membuat penonton kehilangan pijakan, dan frame yang dihasilkan Donald McAlpine berhasil menjaga emosi tetap menjadi pusat sehingga ledakan-ledakan kecil di banyak bagian cerita tidak pernah takut untuk tampil gila karena cerita tetap memiliki pijakan yang kuat di pusat.



Memang ada kesan sedikit berantakan dengan gerak penuh swing antar genre yang ia tampilkan, namun dengan karakter dan plot yang sejak awal seperti sengaja dicanangkan untuk tampil stylish Jocelyn Moorhouse berhasil menciptakan sebuah parodi dengan rasa western classic penuh komedi hitam yang menyenangkan untuk diikuti, kamu akan dibuat menebak apa yang akan terjadi selanjutnya karena berbagai kejutan kecil yang ia hasilkan. Tilly dibenci, namun ia berusaha berpindah dari penilaian tersebut dengan cara yang stylish, membuat gaun untuk mereka yang membencinya, itu menjadi pusat yang terus mempesona dari kisah balas dendam yang walaupun tidak punya narasi dan plot kuat namun berkat penampilan cast yang baik, pengarahan yang konsisten, hingga elemen design produksi yang manis, The Dressmaker adalah sebuah drama, komedi, romance, hingga thriller yang sulit untuk dilupakan. Charming.  Segmented. 













Thanks to: rory pinem

0 komentar :

Post a Comment