04 June 2013

Movie Review: Now You See Me (2013)


"Look closely, because the closer you think you are, the less you’ll actually see."

Kalimat tersebut sebenarnya punya sebuah tugas yang sangat besar, sebagai bentuk dari peringatan dini atau mungkin petunjuk film ini kepada calon penontonnya pada cara terbaik untuk dapat menikmati suguhan yang akan ia berikan. Layaknya aksi sulap, mereka ingin agar anda tidak terlalu serius meskipun akan ada balutan tema heist didalamnya. Ya ya, don't take it too serious, he said. Oke, i'll take it lightly, i said from beginning. But, seriously, it was a farce, gentlemen.

Empat pesulap, Ilusionis bernama Daniel Atlas (Jesse Eisenberg) bersama asistennya Henley Reeves (Isla Fisher), bertemu dengan Merritt McKinney (Woody Harrelson) yang ahli bermain dengan pikiran, dan Jack Wilder (Dave Franco) dengan magic gerak cepat miliknya. Unik, dimana hanya Daniel dan Henley yang saling kenal, dan cara mereka di pertemukan yang juga sedikit aneh, sebuah undangan dari seseorang yang misterius. Mungkin itu takdir, karena setahun kemudian mereka justru sudah sangat terkenal sebagai sebuah grup magic bernama The Four Horsemen yang berada di bawah asuhan seorang kaya raya bernama Arthur Tressler (Michael Caine).

Tidak tanggung-tanggung, dengan sebuah panggung besar full circle, The Four Horsemen menghadirkan sebuah pertunjukan magic yang mereka anggap sebagai something new, merampok bank yang berada di Paris, dan memindahkannya ke Las Vegas tempat show berlangsung, secara live. Ini criminal, dan FBI turun tangan dibawah komando Dylan Rhodes (Mark Ruffalo), berkerja sama dengan utusan dari pihak Interpol yang bernama Alma Vargas (Mélanie Laurent). Tidak mudah, karena ternyata ada campur tangan dari ex-magician bernama Thaddeus Bradley (Morgan Freeman).


Jika menilik sisi positif yang ia miliki, Now You See Me berhasil menjadi sebuah penggambaran yang menarik dari ide milik Boaz Yakin dan Edward Ricourt, berbagai pertunjukan magic yang masih mampu mengundang decak kagum meskipun hanya menampilkan trik-trik sederhana yang mungkin sudah pernah anda saksikan bagaimana trik tadi dibongkar oleh seorang magician, film ini sanggup menciptakan sebuah pandangan bahwa magician adalah sosok yang mengagumkan. Hal ini berdampak positif pada kasus lain yang ia bawa, menjadikan perampokan senilai 3 juta Euro dari jarak yang luar biasa jauh itu secara instan langsung menarik perhatian, dan menciptakan sebuah ekspektasi pada bagaimana kasus ini akan diselesaikan.

Namun layaknya caper film, unsur heist dalam bentuk perampokan tadi hanyalah sebuah jalan untuk menuntun para penontonnya menuju informasi bagaimana sebenarnya dunia magic itu bekerja. Lewat show-show yang empat magician itu lakukan, Louis Leterrier sukses membentuk sebuah suguhan magic yang memikat, sangat memikat malah di beberapa bagian. Screenplay yang ikut dibantu oleh Ed Solomon juga bekerja dengan baik, pace cerita yang bergerak cepat mampu menjaga cerita dari sisi magic dan heist tetap sama-sama intens, dialog berkualitas dengan joke-joke implicit skala kecil yang memikat, semua dibantu dengan tampilan visual yang secara mengejutkan tampil memukau.

Well, bagian awal film seperti punya sebuah misi tersendiri. Selain mengenalkan anda kedalam kisah The Four Horsemen, membangun pondasi dari sebuah tahapan penuh trik yang menarik, Louis Leterrier ternyata juga ingin menjadikan anda terhipnotis dengan cerita yang ia miliki. Ia ingin membuat anda terlena bersama suguhan menarik dari unsur magic, dan terus menaruh fokus pada kisah Dylan membongkar kasus perampokan yang ternyata cukup rumit bagi polisi yang pernah menaklukkan seorang mafia besar. Dibantu dengan editing memikat, Now You See Me seperti punya dua wajah, dia mengikat anda dengan berbagai tipuan menarik yang sanggup menjadikan anda bergumam “ah, aku terkecoh”, terus mencuri perhatian anda, padahal sejak awal ia telah memberi anda sebuah peringatan.


Benar, itu dia, sebuah jebakan. Anda telah berhasil di hipnotis oleh mereka dengan berbagai suguhan trik menarik yang memanjakan mata dan imajinasi, membuat anda yakin pada magic padahal hal tersebut sempat mereka singgung didalam cerita, dan akhirnya menjadikan anda kurang concern pada kualitas cerita yang sesungguhnya perlahan mulai kehilangan sisi enjoyment yang ia miliki. Terus berlanjut hingga kehadiran sebuah twist besar di akhir cerita yang bagi saya terasa sangat bodoh. Terdapat perbedaan score yang cukup besar andai saja twist itu tidak hadir.

Tujuan utama dari film ini selain hendak mengungkap dunia magic, juga sebagai sebuah hiburan yang ingin menguji para penontonnya dengan maksud membuat mereka sadar dengan sendirinya betapa bodohnya mereka hingga percaya pada hal-hal yang bodoh. Sebuah konsep yang menarik dan brilliant, namun sayangnya harus berakhir tragis karena bagian akhir cerita merusak semua upaya yang telah ia bangun. Ya, itu bagian paling krusial yang langsung menghancurkan film ini. Seperti yang saya katakan di bagian awal, i take it lightly, itu pula mengapa saya masih merasa film ini menarik hingga paruh pertama berakhir, namun tidak di paruh kedua ketika saya mulai lepas dari pengaruh hipnotis yang ia berikan.

Hal tersebut pula yang akan membagi penonton film ini kedalam dua kategori. Mereka yang terhipnotis di bagian awal dan mulai sadar di bagian tengah cerita, atau mereka yang sejak awal hingga akhir terus terjerat oleh hipnotis, dan tidak ambil pusing bahkan mungkin tidak sadar dengan fakta sesungguhnya bahwa mereka telah di bodohi dengan sesuatu yang sangat bodoh sepanjang film. Fooling by a movie bukan sebuah masalah yang besar, tentu dengan sebuah syarat mutlak dimana sejak awal hingga akhir film tersebut tidak menyajikan materi yang justru menjadikan dirinya sendiri yang terlihat sangat bodoh.

Cukup tragis memang, karena divisi akting yang ia miliki sebenarnya tidak bermain dengan buruk. Yang cukup mengejutkan adalah bagaimana fungsi dari The Four Horsemen dan tugas yang dimiliki Mark Ruffalo. Meskipun punya chemistry yang mumpuni serta penampilan apik layaknya seorang pesulap sesungguhnya, Eisenberg, Isla Fisher, Harrelson, dan Dave Franco ternyata tidak dominan di barisan terdepan. Berulang kali Mélanie Laurent dan Morgan Freeman mampu mencuri perhatian, serta Mark Ruffalo yang justru punya peran lebih besar, mampu tampil dominan di setiap adegan yang ia miliki.


Overall, Now You See Me adalah film yang kurang memuaskan. Dibandingkan dengan The Prestige? The Illusionist? Sulit. Punya bagian awal yang sangat menarik dan memukau, film ini perlahan mulai kehilangan power hipnotis yang ia miliki di paruh kedua yang ikut menyadarkan beberapa penontonnya. Tidak peduli closer ataupun further, diakhir cerita anda pasti akan merasa tertipu dengan berbagai trik yang ia hadirkan, sekecil apapun itu. Yang lebih menarik adalah apakah anda dapat sadar dari hipnotis yang ia berikan, yang akan menentukan di kategori penonton mana anda berada. 



1 comment :