06 June 2013

Movie Review: After Earth (2013)


Mencoba terlalu kuat untuk dapat tampil menarik sebenarnya seperti sebuah koin dengan sisi hitam dan putih. Jika berhasil tampil memikat para penonton upaya yang ia lakukan akan mendapat apresiasi, dan sebaliknya. After Earth punya potensi untuk tampil menarik, menawarkan kembali duet ayah dan anak, Will Smith dan Jaden Smith, yang tentu menjadi daya tarik utama, serta Shyamalan dengan filmnya yang kedua pada genre action adventure, yang sayangnya justru terasa seperti The Last Airbender jilid kedua. 

Di masa depan, bumi kembali digambarkan telah dalam kondisi yang tidak layak huni. Kini semua umat manusia telah menetap di Nova Prime, hanya menyisakan makhluk hidup lainnya di bumi. Namun meskipun telah berlalu seribu tahun kemudian, masih ada musuh besar yang mengancam manusia, yang kali ini terletak pada kemampuan manusia itu sendiri. Ursa, predator yang menjadi musuh utama manusia, tidak bisa melihat namun punya indera yang sangat kuat dalam menangkap rasa takut yang dipancarkan manusia. Oleh karena itu dibawah komando Jenderal Cypher Raige (Will Smith), yang punya teknik menghindar dari rasa takut yang disebut "ghosting", organisasi keamanan The Ranger Corps memutuskan untuk membawa Ursa menjauh dari Nova Prime.

Celakanya pesawat mereka menabrak asteroid dan mendarat di bumi yang sudah dalam status bahaya. Pesawat terbelah dua, seluruh awak tewas, dan Cypher yang menjadi tombak utama justru mengalami luka parah. Yang tersisa hanyalah Kitai (Jaden Smith), di bawah komando sang ayah berupaya menemukan kembali bagian lain dari pesawat untuk menemukan alat yang dapat mengirimkan sinyal bantuan. Sebuah misi yang sulit, karena tidak hanya medan asing yang berat serta udara beracun, Kitai juga harus berupaya untuk menahan rasa takutnya akibat memori buruk yang menimpa kakaknya, yang disebabkan oleh Ursa, makhluk yang kini bergerak bebas di bumi dan dapat mengancam nyawanya.


Faktor utama yang menjadikan "After Earth" tampak menjanjikan tentu saja adalah tema cerita yang ia angkat, kisah post-apocalyptic pasca kehancuran bumi yang bahkan dengan sangat berani mengambil setting waktu seribu tahun kedepan. Berikutnya mungkin adalah rasa ingin tahu bagaimana kombinasi dari ayah dan anak pada duo Smith itu akan bekerja (kembali). Dan yang terakhir, mungkin juga justru menjadi daya tarik film ini bagi penikmat film adalah sang sutradara, M. Night Shyamalan, dengan pertanyaan utama apakah kali ini ia akan berhasil dengan egonya yang masih begitu tinggi untuk mencoba film action dan adventure padahal ia sudah gagal di The Last Airbender, ketimbang memilih untuk kembali pada kisah misteri berbalut thriller yang menjadikan ia terkenal.

Sayangnya hasil yang film ini berikan tidak jauh berbeda, masih sama. After Earth seperti sebuah kisah sempit tanpa nyawa yang membawa penontonnya berjalan dalam sebuah konflik sederhana yang coba di ulur dengan hal-hal yang tidak dieksekusi dengan baik, beberapa bahkan terasa buruk. Cerita yang ditulis oleh Will Smith sangat mudah untuk dilabeli sebagai sebuah kisah yang pemalas, sama malasnya dengan karakter yang ia mainkan. Celakanya, kekurangan tersebut tidak mampu ditutupi oleh M. Night Shyamalan, yang untuk pertama kalinya mengambil rekan dalam menulis screenplay pada seorang Gary Whitta. Ya, karena terlalu sempit cerita akhirnya sulit untuk dikembangkan lebih jauh lagi, hanya punya dua karakter penting, satu misi tanpa konflik pendukung yang berarti, sehingga ketika satu persatu plot hole itu muncul dampaknya kisah menjadi goyang dan kehilangan fokus.

Memang pesan yang "After Earth" bawa bukan terletak pada misi yang Kitai lakukan, namun terletak pada bagaimana seorang ayah menuntun atau bisa dikatakan mendidik anaknya dalam proses bertumbuh menjadi dewasa, serta seorang anak yang masih berperang dengan dirinya sendiri, dari mental mengatasi rasa takut hingga ego. Sebenarnya ini sangat potensial, menarik bahkan, tapi sayangnya cara ia disampaikan yang justru sangat sangat mengganggu. Banyak adegan yang terasa overdo, mencoba terlalu keras untuk membuat anda sebagai penonton mengerti apa yang ia maksud, dan mengerti apa yang karakter rasakan. Namun itu gagal, dan berakhir dengan sebuah rasa menyebalkan.


Penyebab utamanya justru berasal dari otak film ini, Will Smith. Apa yang ia lakukan sepanjang film tidak punya sisi menarik, hanya duduk manis menahan sakit bersama teknologi yang hampir mati, dan gagal menjalankan fungsinya sebagai karakter yang bertugas memperkuat sisi personal cerita. Kisah masa lalu yang berkaitan dengan istrinya Faia Raige (Sophie Okonedo) dan anak perempuan mereka Senshi Raige (ZoĆ« Isabella Kravitz) seperti hanya sebuah tempelan tanpa makna. Cara Smith menyampaikan cerita juga sangat menyebalkan, bukan mengajak penonton untuk menelaah sendiri namun justru seperti seorang guru yang mengajarkan materi A to Z kepada muridnya, terkesan menggurui. Dan yang paling mengesalkan adalah ekspresi wajah yang ia tampilkan, lol, I can’t see your charisma.

Hal tersebut justru berdampak langsung pada M. Night Shyamalan, yang mungkin akan menemukan banyak komentar bahwa ia kembali masuk kedalam proyek yang salah. Sedikit aneh karena ketika berakhir tidak muncul rasa kecewa yang begitu besar pada Shyamalan karena After Earth sendiri sudah salah sejak pondasi awal, cerita yang sangat lemah, cast utama yang seperti dipaksakan untuk memenuhi kembali ambisi pribadi, hingga ke bagian teknis yang ia miliki. Seribu tahun pasca kehancuran, hanya itu yang mereka punya? Set yang tidak imajinatif dan sedikitpun tidak mampu menggambarkan kondisi evolusi yang telah terjadi (perhatikan asap di puncak gunung ketika Kitai berlutut, tidak bergerak?), ini seperti menyaksikan Katniss dalam wujud seorang pria bermain dan bergerak bebas di sebuah taman bunga penuh kehancuran tanpa ancaman dan tekanan yang berarti.

Dalam sebuah rangkuman singkat, After Earth = extremely boring. Hanya punya sedikit chemistry pada Will dan Jaden, sisanya adalah sebuah petualangan yang soulless, meskipun telah di bantu score dari  James Newton Howard yang sebenarnya punya kaitan pada betapa datarnya tensi film ini. Shyamalan seperti masih mencoba mencari teknik terbaik yang ia miliki untuk film bergenre action dan adventure, bertolak belakang dengan Will Smith yang dipenuhi rasa percaya diri baik pada cerita yang ia tulis walaupun sangat lemah, hingga karakter Cypher yang justru tampak hyper dan annoying. Begitupula dengan Jaden Smith, terutama pada mimik wajahnya yang didominasi tampilan awkward, walaupun dibeberapa titik ia sempat tampil baik. Sebuah harga yang mahal pastinya jika film ini adalah sarana bagi mereka bertiga untuk belajar, dan sebuah piala Razzie Awards mungkin layak sebagai hadiah penghibur.


Overall, After Earth adalah film yang tidak memuaskan. Once again, After Earth = extremely boring. Tidak perlu upaya yang begitu besar untuk menemukan berbagai hal mengganggu dari petualangan yang ia tampilkan, dan hal sebaliknya justru terjadi pada upaya menemukan sisi menarik yang ia miliki. Jika anda ingin menciptakan The Pursuit of Happyness yang telah tumbuh dewasa, sebaiknya minta orang lain untuk menulis ceritanya, Mr. Will Smith. 



0 komentar :

Post a Comment