09 February 2020

Movie Review: 1917 (2019)



“I hoped today would be a good day. Hope is a dangerous thing.”

Apa yang kamu harapkan diberikan oleh sebuah film yang mengangkat tema peperangan? Kekacauan dan teror adalah contoh dua aspek penting dari war film, seberapa mampu ia membawa penonton masuk ke dalam medan peperangan tersebut untuk kemudian mengelilingi mereka dengan berbagai kekacauan dan meninggalkan kesan menakutkan dan teror setelahnya. Experience, itu salah satu elemen penting dari sebuah war film, elemen yang di tahun 2017 lalu sukses diberikan oleh ‘Dunkirk’. Bagaiman dengan film ini? ‘1917’ : a lovely battlefield experience.

April 1917, divisi pengintaian udara milik tentara Inggris menyampaikan laporan bahwa tentara Jerman yang menduduki the Western Front di bagian utara Perancis kini telah menarik diri, mereka mundur dari panggung utama Perang Dunia I tersebut. Hal tersebut membuat Jenderal Erinmore (Colin Firth (Kingsman: The Secret Service, Mary Poppins Returns)) memutuskan untuk mengambil tindakan cepat, yaitu mengirimkan pesan kepada Kolonel Mackenzie (Benedict Cumberbatch (The Imitation Game, Star Trek Into Darkness, August: Osage County)), pemimpin the Second Battalion of the Devonshire Regiment, untuk membatalkan serangan yang telah dijadwalkan.

Karena saluran telepon terputus maka dipilih dua prajurit untuk menyampaikan pesan tersebut, yaitu Lance Corporal Thomas Blake (Dean-Charles Chapman) dan sahabatnya Lance Corporal William Schofield (George MacKay). Tom dan Will mengemban misi yang sangat penting, karena jika sampai pesan tersebut tidak berhasil sampai tepat waktu maka akibatnya serangan tersebut akan terjadi dan dapat mengakibatkan Inggris kehilangan sekitar 1.600 prajurit, salah satunya adalah Lieutenant Joseph Blake (Richard Madden), saudara Tom yang bertugas di Second Battalion.


Di atas tadi adalah sinopsis yang sangat sederhana, sebuah misi dengan start dan finish yang dapat “terasa” sangat dekat, konflik utama yang jelas serta berbagai tekanan dan konsekuensi yang sudah clear sedari awal. Mungkin pertanyaan yang tersisa adalah apakah benar Pasukan Jerman telah menarik diri dari the Western Front? Pertanyaan tadi digunakan dengan sangat baik oleh Sam Mendes (American Beauty, Revolutionary Road, Skyfall, Spectre), script yang ia tulis bersama Krysty Wilson-Cairns memuat banyak momen yang jelas-jelas mengandalkan pertanyaan tadi, menciptakan rasa cemas dan waspada yang terasa oke terkait kondisi sesungguhnya di the Western Front.

Atensi penonton akhirnya terpaku pada setiap gerak-gerik Tom dan Will ketika membawa misi tersebut, rasa cemas dan sikap waspada mereka juga berhasil ditransfer kepada penonton. Dari sana kemudian Sam Mendes dengan cerdik memasukkan berbagai macam ancaman dan bahaya ke dalam medan peperangan, dari skala kecil dengan menggunakan tikus tersebut hingga ketika Tom dan Will bertemu dengan pesawat dan masuk ke dalam sebuah kota di malam hari. Tidak ada observasi yang terlalu mendalam di sini terkait konflik pada peperangan yang sedang berlangsung, fokus utama adalah membawa karakter terus bergerak dengan dipenuhi rasa cemas bercampur urgensi tingkat tinggi.



‘1917’ punya momen yang mencoba sedikit mengekplorasi sisi “human” yaitu dengan menggunakan wanita Perancis dan bayinya, insiden pesawat juga salah satunya, namun "posisi" dan porsi mereka tidak besar. Sangat jelas bahwa Sam Mendes ingin agar perjuangan Tom dan Will tidak “diganggu” dengan hal-hal yang membuat jalur utama cerita menjadi tidak lurus frontal, semua harus tampil simple dan efisien. Tidak ada intrik politik, tidak ada dramatisasi psikologis yang kompleks, dua prajurit tersebut adalah pembawa pesan dan tugas mereka adalah untuk terus berjalan, berlari, dan bersembunyi agar selamat di tempat tujuan mereka. Karakter berpacu dengan waktu dan itu menjadi media yang diisi dengan berbagai sekuens action penuh ketegangan yang berlimpah.

Apakah berhasil? Ya, berhasil. ‘1917’ terasa seperti video game di mana penonton menjadi orang ketiga di samping Tom dan Will, merasa seolah "terperangkap" bersama mereka. Hal tersebut terasa semakin kuat berkat feel di mana seolah titik start dan titik finish dipertemukan dengan satu garis yang tidak pernah terputus. Ya, nilai jual utama dari ‘1917’ sedari adalah technical gimmick tersebut, cinematography yang membawa kamera bergerak ke sana ke mari seolah tidak terputus sejak awal hingga akhir, one take a la 'Birdman'. Di bawah kendali Roger Deakins kamera bergerak halus dan terampil, sukses membawa penonton untuk semakin tenggelam bersama bahaya yang siap menghampiri karakter kapan saja.



Tentu saja, pencapaian tersebut tidak lepas dari kualitas film editing yang ditangani oleh Lee Smith (The Dark Knight, Inception, Dunkirk), berbagai long-take sequences berhasil ia jahit dengan rapi dengan produk akhir yang terasa halus. Sam Mendes juga terus mencoba memborbardir penonton dengan berbagai kepanikan namun ia juga harus berterima kasih pada score dari Thomas Newman (14 Oscar Losses) yang menambah kualitas kesan mengigit yang dimiliki setiap scene. Production design juga manis, dari kuda, peralatan perang, hingga mayat, mereka diciptakan dengan sangat meyakinkan dan berperan penting pada tensi dan kesan horror yang tersimpan di dalam cerita.

Namun saya mungkin adalah satu dari beberapa penonton yang pada akhirnya merasakan dampak atau efek dari kurangnya human and personality depth dari karakter dan cerita. Sangat mudah mengagumi kualitas dari aspek teknis ‘1917’ dan jika menilik kinerja cast juga tidak berada kelas yang jelek, mereka sangat impresif dari pemeran pendukung hingga dua karakter utama, Dean-Charles Chapman (Before I Go To Sleep) dan George MacKay (Pride, Captain Fantastic) sukses menampilkan berbagai emosi lewat ekspresi wajah dan gerak tubuh mereka, sesuai dengan tugas mereka. Tapi ketika film ini berakhir tidak ada punch yang super kuat dan begitu menohok, garis finish itu terasa sedikit superficial for me. A bit.



Overall, ‘1917’ adalah film yang memuaskan. Berlari di reruntuhan kota dengan nyala api yang perlahan berganti cahaya matahari pagi, ‘1917’ punya banyak momen mengasyikkan, sukses memberikan penonton pengalaman untuk ikut merasakan penggambaran intens perjuangan di panggung utama Perang Dunia I. Sam Mendes berhasil mengeksekusi ambisi besar itu terlebih pada pencapaian pada aspek teknis yang hingga sampai saat ini masih sangat mudah untuk dikagumi, dan yeah, at least mampu untuk menutupi sedikit kekurangan yang ‘1917’ punya. Segmented.









1 comment :