15 January 2019

Movie Review: Mary Poppins Returns (2018)


“Mary Poppins, it is wonderful to see you!”

Mary Poppins, practically perfect in every way. Ya, itu memang, because it's Supercalifragilisticexpialidocious! Menjadi salah satu karakter paling ikonik yang pernah hadir di industri perfilman dunia, butuh waktu selama lima dekade dan empat tahun untuk Mary Poppins mendapat kesempatan berikutnya untuk menyapa para penonton, kesempatan untuk menyuntikkan energi gembira sesuai dengan prinsipnya, yaitu in every job that must be done, there is an element of fun. Hasil akhirnya? ‘Mary Poppins Returns’: a spoonful of sugar.

Pada tahun 1935, Michael Banks (Ben Whishaw) kini telah tumbuh dewasa hidup bersama tiga orang anaknya, John (Nathanel Saleh), Anabel (Pixie Davies), dan Georgie (Joel Dawson). Dibantu housekeeper, Ellen (Julie Walters), dan tentu saja saudara perempuannya Jane Banks (Emily Mortimer), Michael mencoba untuk keluar dari duka kehilangan sang istri yang masih menyelimuti dirinya. Seolah tahu bahwa Michael juga sedang berjuang untuk melunasi pinjamannya di Fidelity Fiduciary Bank, Mary Poppins (Emily Blunt) kembali ke Cherry Tree Lane.

Mary Poppins menawarkan diri untuk membantu mengurus dan mengajari anak-anak Michael, as a nanny. Dibantu oleh lamplighter bernama Jack (Lin-Manuel Miranda), Mary Poppins membawa John, Anabel, dan Georgie ke dalam berbagai petualangan gila penuh pelajaran berharga yang pernah sang ayah dan saudara perempuannya rasakan dahulu. Siapa sangka, petualangan tersebut memiliki benang merah dengan perjuangan Michael yang berpacu dengan waktu dan berada di bawah tekanan management Bank yang dipimpin oleh William Weatherall Wilkins (Colin Firth).


Datang setelah 54 tahun dari the original ‘Mary Poppins’, di sini Rob Marshall mencoba menciptakan dunia magical “Mary Poppins” yang baru namun dengan cita rasa yang tetap membuat penonton masih merasa akrab dan familiar dengan pendahulunya itu. Berbeda namun terasa sama, Rob Marshall (Chicago, Nine, Into the Woods) kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam mengendalikan sebuah film musical. Di sini ia berhasil menghadirkan sebuah big-budget musical yang membuka lebar pintu masuk bagi penonton muda maupun dewasa untuk ikut “tenggelam” dan “terbang” bersama Mary Poppins, bertumpu pada beragam sequences yang terasa playful namun tetap berupaya menaruh Disney “magic” di posisi terdepan.

Sama seperti ketika Mary Poppins diperankan oleh Julie Andrews dahulu, di sini konflik utama bertumpu pada “petualangan” yang dijalani oleh pemeran anak-anak. Kali ini tiga orang, goals utama juga sederhana yakni menemukan surat saham, penonton dibawa berpindah dari petualangan yang terasa episodic, terasa imajinatif dengan tetap mengemban fungsi penggerak dari plot utama cerita. Hal tersebut pula yang kerap membantu cerita yang ditulis oleh Rob Marshall bersama David Magee dan John DeLuca dari buku karya P. L. Travers ini dapat terus “berayun” dengan baik antar tiap sequence, mengingat pada dasarnya tone yang terdapat pada plot utama adalah dark.


Di tangan Rob Marshall ‘Mary Poppins Returns’ seperti ingin menyentuh berbagai macam heavy subject, seperti kematian misalnya, lalu kebohongan hingga penipuan. Tidak straightforward memang, itu hadir dalam storyline yang berputar ke banyak arah tentu untuk menciptakan banyak ruang “bermain” bagi musical numbers hingga upaya mempertebal resonansi emosi di dalam cerita. Tapi sayangnya plot sendiri terasa tipis, dan itu eksplisit. Pada akhirnya grafik dan kualitas excitement tidak terasa stabil, ada yang terasa “too far” hingga terasa predictable. Alhasil ada bagian di mana cerita terasa draggy, ada pula sequence yang terasa terlalu lama sehingga punch akhir yang dihasilkan terasa tidak terlalu istimewa.

Andai beberapa bagian storyline tidak “diperas” terlalu jauh sehingga alur cerita jadi terasa padat, excitement di bagian cerita mungkin dapat duduk sejajar dengan excitement di elemen lain, seperti musical misalnya hingga elemen teknis. Dengan memadukan visual effect dan juga animasi Rob Marshall berhasil menutup beberapa kekurangan di ‘Mary Poppins Returns’ seperti di atas tadi. Seperti sebuah children's storybook ‘Mary Poppins Returns’ punya beberapa sequence berisikan animasi yang terasa playful dan imajinatif, layar seperti dipenuhi dengan gula yang sukses membawa perasaan happy menghampiri penontonnya.


Departement teknis dari film ini melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Art direction terasa menawan, dari design produksi hingga kostum yang digunakan para karakter, masih terasa sangat kental “darah” dari film pertama pada mereka. Score dan Visual Effect yang ditampilkan juga terasa catchy, sama seperti lagu-lagu di dalam musical numbers itu. Dipenuhi dengan beragam lagu ceria musical numbers terasa menghibur, ada memang yang terasa “too far” namun selebihnya lagu-lagu seperti "The Place Where Lost Things Go", "Nowhere to Go But Up”, hingga “Trip a Little Light Fantastic”, menciptakan kombinasi musical yang mengandung tunes sangat oke dan sukses menyuntikkan energi menyenangkan kepada penonton.

Pencapaian tersebut di atas tidak lepas dari kinerja para pemeran dalam menjalankan tugas mereka. Interpretasi Emily Blunt pada karakter Mary Poppins sangat baik, kesan “mistis” dan mischievous terus hidup namun berpadu manis dengan citra hangat yang terasa halus. Tapi karena performa charismatic dari Lin-Manuel Miranda terkadang Mary Poppins terasa seperti pemeran pendukung. Pemeran pendukung lain juga tampil oke, dari tiga pemeran anak, kemudian Ben Whishaw, Emily Mortimer, Colin Firth, dan juga Julie Walters. Namun yang mencuri perhatian justru penampilan singkat Dick Van Dyke sebagai Mr. Dawes Jr. serta Meryl Streep sebagai sepupu Poppins yang eksentrik, Tatiana Antanasia Cositori Topotrepolovsky aka Topsy.


Overall, ‘Mary Poppins Returns’ adalah film yang cukup memuaskan. Tugas yang diemban tidak mudah namun seolah ingin menaruh fokus lebih besar feel-free-flow sutradara Rob Marshall kembali berhasil menyajikan sebuah musical film yang menarik. Plot cerita memang tipis sehingga excitement kerap tidak stabil dan punch akhir tidak istimewa, namun hal tersebut dapat ditambal oleh aura dan juga sense of magic dari pendahulunya yang berhasil Rob Marshall hidupkan kembali ke dalam sebuah petualangan yang imajinatif, dipenuhi dengan berbagai song dan juga dance numbers yang oke bersama charm Disney sebagai cherry on top.  










0 komentar :

Post a Comment