29 May 2020

Movie Review: Portrait of a Lady on Fire (2019)


“I'll remember the first time I wanted to kiss you.”

Dengan adanya Parasite tahun lalu yang kemudian berhasil merajai berbagai ajang penghargaan film hingga berakhir di posisi tertinggi dengan menyabet predikat Best Picture di Oscars, membuat film ini harus puas untuk sekedar menjadi nominasi dan runner-up di berbagai kompetisi dalam kategori film berbahasa non-english. Berbicara kualitas ia sebenarnya berada di kelas yang tidak jauh berbeda, sebuah penggambaran lembut tentang hasrat dan juga cinta dengan menggunakan lukisan sebagai jalan. ‘Portrait of a Lady on Fire’ : a charming autopsy of love, passion and desire.

Pada akhir abad ke-18 seorang wanita bernama Marianne (Noémie Merlant) sedang mengajar sebuah kelas melukis dan suatu ketika pelukis muda tersebut menerima sebuah pertanyaan dari muridnya. Mereka menanyakan lukisan yang juga hadir di dalam kelas tersebut, lukisan yang diberi nama ‘Portrait de la jeune fille en feu’ oleh Marianne. Lukisan tersebut merupakan kenangan yang "disimpan" oleh Marianne ketika ia berkunjung ke sebuah pulau terpencil bernama Brittany.


Di pulau Brittany kala itu Marianne dibayar untuk melukis sebuah wanita bernama Héloïse (Adèle Haenel), sosok yang dalam waktu dekat akan menikah dengan bangsawan dari Milan. Namun Marianne bukan pelukis pertama yang diundang, sudah banyak yang gagal karena Héloïse sendiri menolak untuk berpose agar dapat dilukis. Karena rintangan tersebut Marianne mencoba mengggunakan cara lain, yaitu menemani keseharian Héloïse untuk mengingat wajah dan tubuh wanita tersebut lalu memindahkannya ke dalam bentuk sebuah lukisan.
Di karya terbarunya ini Sutradara Céline Sciamma (Water Lilies, Tomboy, Girlhood) kembali mewarnai kanvas yang ia gunakan dengan berbagai warna yang mencoba untuk membentuk komposisi dengan “kesan” sederhana. Kali ini ia menaruh konflik tentang melukis wanita yang tidak mau dilukis sebagai konflik utama namun di sisi lain ia juga mewarnai konflik tersebut dengan berbagai isu menarik tentang hasrat dan juga cinta dalam tampilan yang sederhana. Ada di satu momen film ini di mana yang dilakukan oleh karakter Marianne serta Héloïse hanyalah melihat satu sama lain dan saling bertukar tatap, namun aksi observasi dari dua sisi tersebut berhasil memancarkan aura cinta yang kuat.

Ya, aura yang sensual menjadi andalan Céline Sciamma di sini dan hal tersebut ia gunakan dengan sangat baik untuk mengembangkan kesan manis yang dimiliki dari dasar sebuah rasa gairah atau hasrat. Intelektual memiliki porsi yang dominan di sini, meskipun berurusan dengan cinta dan hasrat namun tidak ada eksplorasi yang terasa berlebihan dan murahan. Justru sejak awal hingga akhir kesan artsy terasa sangat kental di sini, Céline Sciamma bentuk secara tajam dan presisi sehingga berbagai gambar yang ditangkap oleh kamera terus memupuk semangat tentang cinta dan juga hasrat yang bersembunyi di belakang dan secara perlahan mulai tampil.
Dengan setting cerita di abad ke-18 ‘Portrait of a Lady on Fire’ bermain layaknya sebauh opera klasik, dengan staging yang tenang dan tertata penonton bertemu dengan sebuah upaya "pemberontakan" dari karakter utama yang dilakukan layaknya air yang sedang dipanaskan. Mereka mendidih secara bertahap dan perlahan tapi kita tahu bahwa panas yang terkandung di dalam air tersebut semakin tinggi pula, begitulah cara ‘Portrait of a Lady on Fire’ bermain, ada semacam api erotic yang semakin lama terasa semakin intens tapi tetap dalam tampilan yang sederhana dan lembut. Terdapat hidden attraction yang keindahannya muncul dan terasa secara perlahan di sini.

Dua karakter utama mengalami gejolak di mana mereka mencoba menahan diri dari hasrat yang mendadak hadir, namun usaha tersebut justru menciptakan semacam frustasi yang membuat api kemudian bergelora semakin besar. Hal tersebut menjadi nafas bagi cerita yang manis itu, kisah tentang di mana karakter berada dalam kondisi terluka baik itu hati maupun pikirannya lalu kemudian menemukan cahaya yang ia yakin dapat membuatnya kembali merasakan bahagia dan kebebasan yang telah ia rindukan. Isu tentang emansipasi wanita juga terselip manis di sini, sebuah penolakan ketika peran dan statusnya direduksi menjadi sebuah objek tanpa kebebasan.
Ini menarik karena Céline Sciamma sendiri tidak menunjukkan isu-isu human rights seperti kontrol terhadap tubuh, pilihan seksual, takdir serta isu tentang aborsi tersebut ke dalam bentuk yang gamblang lalu diberikan tackle yang keras, justru mereka tampil dalam bentuk perlawanan yang bersembunyi. Tapi jangan salah di tangan Céline Sciamma cara tersebut justru membuat output jadi terasa genuinely "disturbing", itu karena meskipun kisah yang berawal dari cinta pada pandangan pertama ini dibentuk seperti sebuah observasi atau character study yang sederhana dan tampak simple tapi ia berjalan dengan energik dan terus membuat penoton merasa bahwa ada “bom waktu” yang akan segera meledak di dalam cerita.

Dan benar memang, dibantu dengan camerawork yang membungkus kinerja cantiknya sepanjang cerita dengan sebuah shot ke arah wajah Héloïse serta musik yang hanya muncul sesekali saja sejak awal, scene penutup menghasilkan sebuah emotional climaxes yang sangat menawan. Perubahan emosi di wajah Héloïse juga berhasil menjadi penutup yang cantik dari seorang Adèle Haenel atas kinerja aktingnya di sini, menjadi subjek observasi sembari cerita terus digerakkan dengan manis oleh Noémie Merlant (Curiosa). Noémie tidak menggunakan emosi dengan range yang terlalu besar di sini, tapi gerakan dan ekspresi kecil yang ia tunjukkan sukses membuat emosi yang hadir dari Marianne terasa memikat.
Overall, ‘Portrait of a Lady on Fire (Portrait de la jeune fille en feu)’ adalah film yang sangat memuaskan. Céline Sciamma berhasil menghadirkan sebuah proses lahirnya hasrat dan cinta yang manis, menggunakan human rights sebagai pondasi serta menaruh konflik utama pada masalah lukisan ia berhasil membuat ‘Portrait of a Lady on Fire’ menjadi sebuah drama yang sederhana namun sukses menghujam penonton dengan sangat kuat. Berisikan proses yang terus berkembang perlahan untuk menjadi sebuah gejolak emosi yang rumit ‘Portrait of a Lady on Fire’ adalah sebuah aksi “pemberontakan” yang sangat menarik, membedah secara indah isu-isu tentang love, passion, desire, and of course, pleasures. Segmented.












1 comment :

  1. “When you're observing me, who do you think I'm observing?”

    ReplyDelete