03 September 2013

[Special Feature] Does Arsenal need Mesut Özil?


Transfer Deadline Day (TDD), mungkin bukan sesuatu yang menarik satu dekade yang lalu, namun beberapa tahun kebelakang telah menjadi 24 jam yang menyenangkan bagi pecinta sepakbola, penuh warna hitam dan putih dari pendukung klub penjual dan pembeli, saling ejek yang dibarengi rasa cemas dari pengamatan transfer yang bergerak seperti bola liar. Yap, selain sebagai momen untuk mengamati kekuatan lawan, melakukan pembenahan minor pada tim, TDD adalah arena jual-beli layaknya pasar tradisional, saling tawar yang intens, beli murah melawan jual mahal, tempat bermain bagi klub yang berorientasi pada dana. Salah satunya Arsenal, klub asal London yang sudah delapan tahun tanpa gelar.

Benar, tidak perlu malu, klub yang pernah menjadi kekuatan utama Liga Inggris bersama Manchester United sebelum invasi gila yang dilakukan pengusaha Rusia dan Arab ini terakhir kali menangkat trofi tahun 2005 silam. Membangun stadion baru dengan menggunakan sistem sponsor tanpa bantuan “sugar daddy”, hutang menumpuk, sistem pemakaian dana yang diperketat dalam upaya pelunasan, imbasnya cukup besar. Membeli pemain murah, dan menjualnya kembali dengan harga mahal, perlahan hal tersebut menjadi wajah baru Arsenal, sistem yang menjadikan mereka dijuluki akademi sepakbola, bahkan banyak diantara pecinta bola menganggap bahwa pemain yang hijrah ke Arsenal membuat keputusan yang penuh resiko, karena mereka masuk ke klub yang tidak memiliki ambisi juara.

Yap, “Arsenal tidak punya ambisi juara.” Dari mana saya dapat berkata seperti itu, mari ambil contoh rekor transfer Arsenal, £15juta, Andrey Arshavin, tahun 2009. Benar, hanya berada dalam lingkup belasan juta pound. Apakah dengan begitu untuk menunjukkan mereka punya ambisi juara sebuah klub harus menghamburkan puluhan juta pound? Tidak benar, namun tidak pula salah. Kualitas memang harus sebanding harga, namun jika cermat anda memang dapat membeli kualitas tinggi dengan harga yang rendah. Bahkan jika menilik beberapa tahun terakhir Arsenal sebenarnya punya skuad yang kualitasnya masih berada di level atas. Namun bukan disitu masalahnya, melainkan mental.


Menjual pemain bintang tiap tahun, dan mengganti mereka dengan nama-nama yang kurang begitu terkenal, Gooners mungkin mengerti maksud dari tindakan yang diambil Wenger tersebut, namun tidak dengan publik umum. “Wah, cuma itu? Apakah mereka serius untuk bertarung memperebutkan gelar? Apakah sasaran mereka hanya masuk empat besar?” Sederhana, namun pertanyaan-pertanyaan tadi punya dampak domino yang sangat destruktif. Arsenal tidak lagi dipandang sebagai penantang kuat untuk berlari menuju tahta juara, bahkan ada yang menyebut bahwa Arsenal bukan lagi klub kelas atas Liga Inggris (Hello?). Minim ambisi ini melahirkan rasa frustasi, dari Gooners, bahkan pemain (Hi, Robin van Persie), karena meskipun punya kualitas namun Arsenal sudah tidak lagi ditakuti.

Nah, “Apakah Arsenal perlu Mesut Ozil?” Jawabnya, Ya. To be honest, kedatangan Ozil tidak memberikan dampak yang begitu ekstrim pada perubahan kualitas skuad Arsenal, sedikit menambah opsi pemain tengah yang berorientasi menyerang, lini yang sejak awal tidak menjadi fokus Wenger yang lebih memilih kiper, bek, dan seorang penyerang sebagai sektor yang akan ia perkuat. Namun kehadiran Ozil punya fungsi lain dibandingkan sekedar menambah kualitas, sebagai sebuah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan diatas, sebuah pernyataan tidak langsung bahwa Arsenal serius untuk masuk kembali kedalam peta perebutan gelar juara. Pasti ada yang tertawa sembari bergumam “hey buddy, tidak semudah itu.” namun jawabannya sederhana, “tentu buddy, tentu semudah itu.”

Kehadiran Ozil bukan hanya membawa nilai individu untuk menambah nilai rata-rata skuad yang telah ada, namun dibalik itu turut menaikkan nilai para pemain lama. Mengapa? Karena dengan menyandang label harga £42.5 juta, hampir tiga kali lipat rekor yang pernah ia lakukan, Ozil adalah sebuah pembuktian dari Wenger bahwa ia yakin tim yang ia bangun dengan tambal sulam sejak Emirates Stadium berdiri itu sudah punya kapabilitas untuk bersaing dengan dua Manchester dan juga Chelsea, ikut menciptakan sebuah sasaran tembak yang jelas, sebagai kode terselubung darinya kepada para pemain bahwa mereka bisa bergerak lebih jauh lagi ketimbang apa yang mereka lakukan selama ini, posisi empat besar, sebuah motivasi yang telah lama hilang.


Apakah saya optimis? Jika tahun lalu berada di score 75, tahun ini harapan itu berada di angka 90. Yap, saya percaya tahun ini Arsenal hanya perlu konsisten dalam eksekusi, karena peluang yang telah mereka bangun beberapa tahun belakangan ini telah mencapai puncaknya. Tapi ingat, masih ada 10 yang tertinggal. Nilai tersebut berasal dari kedalaman tim di dua sektor lain, seorang target man yang “mumpuni” sebagai pelapis dan kompetitor Giroud, serta bek tengah pelapis tiga bek utama, Arsenal sangat perlu ini, walaupun Sagna dan Flamini dapat beroperasi di lini tersebut. Ya, mungkin Wenger punya rencana lain di bulan januari jika menilik rencananya mendatangkan Demba Ba hanya dengan status pinjaman (finger crossed, jangan ada cedera parah).

Ya, sepertinya ini akan menjadi batu loncatan bagi Wenger, atau mungkin sebagai tanda ia telah sadar bahwa di era sepakbola modern dengan menyajikan permainan sepakbola yang indah dan atraktif sudah mengalami degradasi yang cukup signifikan dalam hal penggemar. Ini pula yang menjadikan banyak Gooners pindah ke lain hati, mereka menemukan tim yang punya ambisi, pemain bintang, hingga mereka yang telah bosan terus menunggu selama delapan tahun terakhir. Mungkin tidak akan semahal Ozil, namun ada keyakinan bahwa pemain lain siap datang ke Arsenal (meskipun saya berharap transfer Ozil bukan hanya sekedar panic buy untuk menghindar dari cecaran fans yang sudah terlanjur dijanjikan sebuah transfer besar).

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir Arsenal tidak menjual pemain bintangnya (sorry Gervinho), mereka tidak mengurangi apa yang telah mereka capai tahun lalu, dan sejujurnya itu sebuah pencapaian yang gemilang. Hanya menambah satu pemain bintang, dengan harga yang dapat dikatakan Fantastis (mengingat tradisi “strict” Wenger dalam hal transfer), memang tidak serta merta langsung menjadikan Arsenal sebagai favorit juara, namun at least mereka melakukan apa yang selama ini hilang, motivasi dan ambisi. Arsenal seperti macan yang bangun dari tidurnya, menjadikan seisi hutan waspada, dan mengaum "Let's Fight!!"




In God we trust. VCC


2 comments :