14 May 2022

Movie Review: Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022)

“I love you in every universe.”

Salah satu kelebihan yang kini dinikmati Marvel Cinematic Universe ialah flexibility, bagaimana sejak awal telah membentuk pondasi yang kuat bagi kelompok superhero mereka yang kemudian dapat diutak-atik sesuai dengan kebutuhan konsep yang coba disajikan. Aksi mix and match itu telah berjalan dengan baik sejak awal, hingga the blip terjadi, momen ketika Thanos snapping his fingers dan mengubah “tatanan” yang telah tersusun. Penyesuaian dilakukan sejak major event itu, diawali dengan ‘WandaVision’ yang terjadi tiga minggu pasca ‘Endgame’ kini Marvel mengembangkan dunia mereka dengan travel through the multiverse. Ya, that “Spider-Man reunion” thing adalah permulaan. ‘Doctor Strange in the Multiverse of Madness’: an example of imagination triumph over the programmed of commercial calculation. (Warning: the following post might contains mild spoilers)


Ketika sedang menghadiri acara pernikahan mantan yang masih ia sayang, Christine Palmer (Rachel McAdams), Dr. Stephen Strange (Benedict Cumberbatch) mendadak dihadapkan pada sebuah masalah yang berasal dari octopus demon berukuran raksasa. Monster itu mencoba menyerang remaja bernama America Chavez (Xochitl Gomez). Dengan bantuan Wong (Benedict Wong), Chavez berhasil diselamatkan, yang kemunculannya ternyata membawa Stephen ke dalam masalah yang lebih rumit. Chavez memiliki kemampuan untuk melakukan travel through the multiverse, dan dia sebelumnya ditemani Defender Strange, yang terbunuh in the space between universes ketika bersama America mencari the Book of Vishanti.

Chavez membuat portal dan terdampar di Earth-616, tempat ia diselamatkan oleh Stephen dan Wong. Stephen berkonsultasi dengan Wanda Maximoff (Elizabeth Olsen) yang setelah memperoleh Darkhold kini berubah menjadi Scarlet Witch, dan masih menyimpan ambisi untuk dapat bersatu kembali dengan kedua anaknya, Billy dan Tommy. Ia percaya caranya adalah dengan mengendalikan kekuatan Chavez, yang lantas menciptakan perseteruan antara dirinya dengan Stephen, Kamar-Taj rusak dan Stephen bersama Chavez terlempar ke Earth-838. Di sana mereka berhadapan dengan alternate version dari Wanda di dunia tersebut, yang “dikendalikan” dengan menggunakan dream-walk oleh Wanda.

Sutradara Sam Raimi memang tidak terlalu sering muncul lewat karyanya beberapa tahun belakangan ini, tapi sulit untuk tidak mengasosiasikan dirinya dengan genre horror yang lantas membuatnya masih populer di beberapa golongan, salah satunya tentu pencinta film horror. Mungkin itu pula yang lantas membuat posisinya sedikit “berbeda” di sini sehingga terkesan memperoleh treatment yang lebih khusus dari Kevin Feige ketimbang Sutradara film-film Marvel Cinematic Universe sebelumnya. Banyak mengingatkan saya pada keleluasaan yang diterima Kenneth Branagh di film pertama ‘Thor’ satu dekade yang lalu, di sini Sam Raimi terasa sangat bebas dalam mengeksploitasi elemen yang ia sukai, yakni horror yang seolah memutar posisi di balik hasil akhir, yaitu sebagai sebuah gift darinya untuk Marvel.


Sederhananya, film-film MCU pasti akan “tunduk” pada rencana besar seorang Kevin Feige dan tim, meskipun tetap diberikan kebebasan berekspresi tapi para Sutradara mayoritas film di MCU “terkunci” sehingga tidak heran warna tiap film kerap serupa tapi tak sama. ‘Doctor Strange in the Multiverse of Madness’ tetap tunduk pula pada syarat dan ketentuan yang berlaku di MCU itu, tapi kuantitasnya tidak sebesar jika dibandingkan dengan film MCU pada umumnya. Kevin Feige memberi ruang yang lebih luas dan bebas bagi Sam Raimi dan Michael Waldron mengeksploitasi elemen horror, sometimes over the top horror menggunakan berbagai signature yang identik dengan film Sam Raimi, dari ‘The Evil Dead’ hingga ‘Drag Me to Hell’ yang lantas coba dikombinasikan dengan genre superhero, sesuatu yang tidak lagi asing bagi Raimi.

Tidak heran jika charm film ini banyak mengingatkan saya pada Sam Raimi’s Spider-Man, atau beberapa judul film MCU lainnya seperti ‘Guardians of the Galaxy’, ‘Thor: Ragnarok, dan juga ‘Black Panther’ di mana ada kesan “fresh” yang kuat dan berbeda. Di sini the action sequences still dazzle tapi fokusnya sendiri lebih sering tertuju pada kesan “menakutkan” yang ditebar oleh karakter antagonis, memutar posisi dari Wanda Maximoff dengan menggunakan permasalahan emosi miliknya pasca the Blip dan menempatkannya ke posisi semi-antagonis sebagai Scarlet Witch, sosok yang selama ini di MCU sulit mendapat kesempatan tampil. Hasilnya sangat memuaskan, terutama bagi mereka yang telah terlebih dahulu menonton ‘WandaVision’ maka aksi Scarlet Witch di film ini merupakan salah satu yang paling diantisipasi. She's scary!


Tapi bukan cuma jadi temporary villain saja, Scarlet Witch juga membantu Stephen Strange mengukuhkan posisi dari konsep “travel through the multiverse”, sesuatu yang mungkin akan jadi arena bermain utama film-film MCU kedepannya. Ambisi Wanda untuk bisa bertemu kembali dengan kedua anaknya, Billy dan Tommy dipakai menjadi penggerak sub-plot, sedangkan jalannya adalah the dream-walk dan pintu masuknya adalah the Darkhold. Dengan cepat Scarlet Witch menjadi complex villain yang menarik, boasted as an entertaining villain with a deeper emotional focus oleh Sam Raimi yang otomatis tugasnya pun menjadi semakin mudah. Karena cerita jadi punya dua sosok kuat dan menarik di posisi terdepan, tinggal dibagi sama rata to keeping its parallel plots alive and moving. Earth-616, Earth-838, di manapun itu.

Tapi kembali lagi ke travel through the multiverse tadi yang diawasi oleh organisasi The Time Variance Authority (TVA), merupakan salah satu trick paling cantik yang sejauh ini Marvel terapkan ke dalam universe mereka. Terkesan ganjil memang pada awalnya tapi dari sisi kreatifitas konsep tersebut justru membuat pekerjaan mereka untuk mengembangkan MCU jadi lebih mudah. Otomatis kini penonton tahu bahwa di MCU planet yang disebut bumi tidak berjumlah satu, karena pada “alam semesta” lain planet bumi juga exist dan menjadi bagian dari infinite realm. Marvel mencoba melebarkan sayap “dunia” mereka ke dalam bentuk yang lebih luas dan rumit lagi, ‘WandaVision’ berhasil membentuk pondasi yang kemudian dikembangkan semakin kokoh oleh film ini, dengan emosi dan tentu saja dentuman elemen aksi.


Visual ‘Doctor Strange in the Multiverse of Madness’ cantik, tetap mencerminkan kualitas CGI dari film-film superhero Marvel pada umumnya, tapi yang tidak kalah cantik di sini adalah elemen drama pada cerita, terasa effortlessly special. Banyak supporting characters hadir dan beberapa di antaranya baru diperkenalkan, seperti America Chavez misalnya, lalu sedikit pengembangan bagi karakter Stephen Strange melalui Christine Palmer, dan beberapa nama beken seperti Professor X, Peggy Carter, Maria Rambeau, Black Bolt, serta Mister Fantastic, semuanya dalam bentuk alternate version dari karakter yang pernah mereka perankan. The script is busy with so many supporting characters and plot detours, tapi tidak membuat narasi jadi terasa bising dan kehilangan pesona utamanya, terus bergerak teratur dan cekatan.

Ya, terlepas dari banyaknya karakter, action, dan plot pada cerita, ‘Doctor Strange in the Multiverse of Madness’ tidak pernah terasa “terbebani” apalagi membosankan. Karena di tangan Sam Raimi ada emosi dengan kualitas oke setelah tiap slam-bang action sequence hadir, dikalkulasikan secara cermat sehingga alur cerita dapat terus bergerak cepat dan juggling antara drama, fantasi, dan horror dengan sedikit misteri di dalamnya. Sam Raimi memanfaatkan ruang lebih bebas tadi untuk menanamkan signature keren miliknya dengan gaudy comic-book colors yang manis, tidak terlalu dark tapi berperan dalam membentuk excitement. Memang ada elemen yang terasa predictable tapi pendekatan yang ia terapkan membuat penonton bertemu dengan kejutan yang tak terduga dengan kesan estetis yang kuat. Ya, itu tadi, terasa segar.


Yang tidak kalah kuat jelas pesona dari karakter, ditunjang kinerja akting yang oke membuat elemen seperti drama, komedi, hingga horror berhasil menjalankan tugas mereka dengan baik. Berkombinasi sebagai tim yang terasa mumpuni pula, seperti Benedict Wong yang menemani Benedict Cumberbatch dengan banter oke bersama humor sesekali, Xochitl Gomez juga oke sebagai remaja yang belajar tentang power yang ia miliki. Tapi bintang utamanya adalah Elizabeth Olsen, she "grabs" this film dengan menyuntikkan pesona mengerikan lewat Scarlet Witch serta emosi sebagai seorang Ibu dalam diri Wanda. Banyak aktor MCU yang berhasil membentuk pesona karakter mereka, but Olsen’s performance here is on the next level, definitely fyc material, and her "eye acting" is tremendous.

Overall, ‘Doctor Strange in the Multiverse of Madness’ adalah film yang memuaskan. Sam Raimi memberikan "hadiah" kepada MCU namun dengan tetap "tunduk" pada rencana besar, menyuntikkan nafas segar dalam upaya mengukuhkan konsep “travel through the multiverse” dalam timeline MCU, bagian dari upaya Marvel melebarkan sayap “dunia” mereka. Visualnya cantik tapi juga punya drama dengan emosi yang tidak kalah menarik, bergerak cekatan dengan beberapa kejutan menyenangkan, ditunjang kinerja akting memikat terutama dari Elizabeth Olsen yang berperan sebagai penjahat. And a bit cameo-fest tentunya. Komersial juga berhasil menang, tapi jelas imajinasi menang tipis di sini. Marvel Studios step up their own game, and here they are, easily one of the most complex and deftly orchestrated superhero epic ever filmed. An unfathomable magic, horror and superhero can be fun (again) with Marvel, and Marvel literally made a Sam Raimi movie. 






1 comment :

  1. "Dreams are windows into the lives of our multiversal selves."

    ReplyDelete