07 April 2020

Movie Review: Never Rarely Sometimes Always (2020)


“A positive is always a positive.”

Sebenarnya sebelum internet menjadi salah satu bagian penting dari umat manusia di jaman dahulu umat manusia itu sendiri sudah mengenal yang namanya pergaulan bebas. Namun perkembangan jaman yang disertai dengan berbagai kemudahannya itu telah membawa hal tersebut naik beberapa level lebih tinggi. Sama halnya dengan salah satu dampak dari pergaulan bebas, yaitu aborsi, aksi "membuang" janin yang kini tampaknya bukan lagi menjadi sesuatu yang “menakutkan” untuk dilakukan meskipun masih dipandang taboo. ‘Never Rarely Sometimes Always’ : an immersive drama. 

Wanita muda bernama Autumn Callahan (Sidney Flanigan) suatu ketika dihadapkan pada sebuah masalah. Autumn melakukan cek kesehatan dan ia dinyatakan telah hamil dengan usia kehamilan yaitu sepuluh minggu. Berasal dari keluarga yang tidak begitu harmonis di mana ia kerap menjadi bahan candaan kasar dari ayahnya, Autumn kemudian memutuskan untuk tidak memberitahu tentang kehamilannya kepada keluarganya.

Satu hal yang pasti, Autumn telah berniat untuk menggugurkan kandungannya tersebut. Setelah mencoba cara yang kasar Autumn memutuskan untuk berangkat dari Pennsylvania menuju New York City dengan ditemani sepupunya yang bernama Skylar (Talia Ryder) untuk melaksanakan niatnya tersebut tadi. New York menjadi pilihan karena di sana ia tidak membutuhkan persetujuan orang tua untuk menggugurkan kandungan.
Tentu saja aksi aborsi masih menjadi sesuatu yang taboo hingga saat ini, tidak peduli telah seberapa besar dan pesat dunia berkembang di mata banyak orang image dari aksi aborsi masih tetap identik sebagai sesuatu yang salah untuk dilakukan. Di film ini sutradara dan screenwriter Eliza Hittman mencoba membawa penonton menyaksikan proses rencana aborsi yang dilakukan oleh seorang wanita muda, mengeskplorasi isu tersebut secara efektif tanpa mengikutsertakan berbagai embel-embel yang rumit seperti politik hingga agama. Cerita tidak mengandung banyak argumen untuk mendramatisasi upaya Autumn, yang ada hanya krisis kehamilan dari wanita muda yang belum siap menjadi seorang ibu.

Hal terakhir tadi menarik, alasan dari mengapa Autumn membuat keputusannya tersebut. Pada awalnya memang terasa sulit untuk memahami Autumn, seorang wanita yang introvert membuat ia berkepribadian tertutup, bahkan reaksinya juga tidak memiliki range yang lebar atau luas. Quiet, sedari awal Eliza Hittman membuat semuanya tampak tenang bahkan ketika karakter utama berhadapan dengan berbagai aspek prosedurial. Namun ada satu momen di mana penonton mulai merasakan rasa putus asa yang sedang dialami oleh Autumn, dari sana empati terhadap situasinya tersebut berubah drastis menjadi besar karena memang di sisi lain krisis kehamilan itu sendiri dikemas oleh Eliza Hittman untuk terasa sangat real.
Sifat introvert karakter utama sebenarnya merupakan senjata utama Eliza Hittman, dengan cerdik ia membuat penonton masuk ke dalam kehidupan Autumn, mengamati dan menyelidikinya, terutama emosi. Dari sana ketenangan itu membentuk kondisi berat yang sedang Autumn lalui, Eliza Hittman kemas agar tetap terasa personal tanpa menghadirkan ekposisi yang terlalu jauh. Di satu sisi keputusan tersebut memang tidak membuat latar belakang masalah menjadi kuat namun tidak masalah karena bukan itu yang yang menjadi sorotan utama. Ini adalah tentang bagaimana gejolak hati dan emosi Autumn, wanita yang belum siap dan belum mau menerima kehadiran dari janin di dalam hidupnya, ia menciptakan batasan dan ingin penonton menghargai itu.

Hasilnya bagus karena berdampak pula pada “image” dari upaya aborsi itu sendiri. Ya, aborsi merupakan sesuatu yang taboo namun kondisi Autumn yang “tersiksa” itu justru menghasilkan sebuah perdebatan menarik tentang isu aborsi itu sendiri. Eliza Hittman letakkan gesekan itu dengan cara yang sangat elegan, didn’t want to judge dan mengumbar aspek yang mengerikan dari aborsi ia justru menghadirkan sebuah investigasi kecil tentang mengapa aborsi merupakan sesuatu yang taboo. Ada ekplorasi yang kompleks tapi tidak berlebihan di sini melalui krisis dan perspektif Autumn, ia mengajak penonton untuk “menghormati” emosi Autumn dan memahami keadaannya tanpa menuntun mereka ke dalam stigmatisasi negatif.
Ya, Eliza Hittman menempatkan aborsi di posisi terdepan tapi ia membentengi isu tersebut dengan cara menolak untuk berargumen secara berlebihan. Untuk menemani proses aborsi ia justru menggunakan karakter Skylar untuk menghadirkan kisah tentang persahabatan. ‘Never Rarely Sometimes Always’ punya sedikit warna road trip dan itu juga dibentuk dengan baik oleh Hittman sama seperti ketika ia berurusan dengan hal-hal atau detail kecil lainnya. Saya juga suka cara implisit yang digunakan di sini, dari menyetel tali bra hingga bagaimana di satu adegan interview dengan close up shots kamera menangkap berbagai emosi yang dialami oleh Autumn, dari rasa putus asa hingga rasa takut, mereka dikemas sederhana namun terasa sangat tajam dan intens.

Sejak awal hingga akhir Eliza Hittman fokus memainkan emosi secara subtle namun tajam, dan itu tidak hanya tercipta berkat elemen teknis seperti cinematography serta bagaimana film editing bekerja, namun juga berkat kinerja akting. Kita punya dua karakter yang mendominasi layar hingga akhir. Yang pertama tentu Autumn, ia diperankan dengan baik oleh debutan Sidney Flanigan, pesona wanita yang tenang, teguh namun naif ia tampilkan dengan baik, menyuntikkan energi dalam kapasitas yang oke pada setiap emosi yang dimiliki Autumn. Di sampingnya ada Talia Ryder, juga merupakan debutan yang menjadikan Skylar sebagai sosok yang mengagumkan, ia mengerti kondisi Autumn dalam diam dan rela berkorban untuk membantunya menyelesaikan niatnya tersebut.
Overall, ‘Never Rarely Sometimes Always´adalah film yang memuaskan. Apa yang Eliza Hittman lakukan di sini mengingatkan saya pada apa yang Debra Granik lakukan di Leave No Trace, mengangkat isu menarik yang dikemas dengan fokus kuat, melindunginya dengan cara yang manis seperti tidak menghadirkan ekplorasi dan eksploitasi yang berlebihan, namun dengan kesederhanaan itu hadir sebuah moving drama yang terasa subtle and soulful, sebuah extraordinary story yang mengalir lembut di mana emosi penonton bermain bersama empati mereka. Such a beautiful and immersive drama. Segmented.







1 comment :

  1. "Your mother wants me to tell you, how great you are."

    ReplyDelete