20 November 2016

Review: Arrival (2016)


"They arrive."

Salah satu pertanyaan yang eksis di bumi dan masih belum memiliki jawaban yang meyakinkan adalah apakah bumi satu-satunya planet di alam semesta yang memiliki penghuni? Jika tidak maka apakah alien itu ada? Manusia terus mencari tahu apakah terdapat bentuk kehidupan lain di alam semesta selain di bumi, hal yang juga tidak pernah berhenti menjadi materi empuk untuk dieksplorasi oleh industri film. Kali ini dengan mengusung pertanyaan “why are they here?” sutradara Sicario and the upcoming Blade Runner 2049 mencoba kembali mengeksplorasi isu "we are not alone in the universe" itu dalam bentuk sebuah hard science fiction berjudul ‘Arrival’. It’s a delightful puzzle about alien, love, and life.

Seorang Professor bahasa bernama Dr. Louise Banks (Amy Adams) sedang bekerja ketika mendapat kabar bahwa alien telah mendarat di bumi. Sebanyak 12 alien pods kini telah "menetap" di berbagai lokasi di bumi. Louise kemudian dimintai tolong oleh Colonel Weber (Forest Whitaker) yang membutuhkan bantuan untuk menerjemahkan bahasa yang digunakan oleh alien sehingga dapat mengetahui maksud atau tujuan dari kedatangan mereka. Bersama dengan scientist bernama Ian Donnelly (Jeremy Renner) Louise kemudian “mendekat” menuju spaceship para alien tersebut, mencoba berkomunikasi lewat tulisan sementara bumi semakin panic dan perbincangan tentang perang semakin keras berkumandang. 


Alien? Lagi? Tidak perlu heran jika pertanyaan singkat itu muncul di pikiran kamu karena harus diakui “alien” dan berbagai macam makhluk asing dengan beragam bentuk dari luar bumi masih menjadi materi yang sangat empuk untuk digunakan para filmmaker. Lihat saja sinopsis di atas, sangat sederhana dengan dasar yang dapat dikatakan mirip dengan berbagai film yang telah terlebih dahulu mencoba mengangkat tema yang sama. Tapi ‘Arrival’ punya Denis Villeneuve (Incendies, Prisoners, Enemy, Sicario) di bangku sutradara, pria yang mahir mengolah materi sederhana menjadi sebuah sajian yang kompleks dan memorable. Di sini kisah yang berdasarkan dari short story berjudul "Story of Your Life" karya Ted Chiang ini tidak lagi mencoba mempertanyakan apakah alien itu ada atau tidak, kita bertemu dengan worst case scenario, terdapat 12 “kapal” alien yang telah mendarat dengan aman dan tenteram di berbagai belahan bumi. 


What happen next? Jika di tangan Marvel langkah selanjutnya adalah mengumpulkan jagoan-jagoan mereka untuk diakhiri dengan aksi heroic Iron Man terbang ke luar angkasa, namun di sini tidak demikian. Meskipun terdapat “kapal” alien ‘Arrival’ bukan sebuah sci-fi yang akan memanjakan penonton dengan sebuah perang galaksi yang spectacular namun dengan "percakapan" antara manusia dan alien hasil akhir yang berikan tetap mampu terasa spectacular. Dari opening yang terasa riveting hingga penutup yang sederhana Villeneuve menerapkan keahliannya memutar-mutar masalah sederhana menjadi sajian yang kompleks, menggunakan sense of wonder untuk menghadirkan sajian yang challenging, thought-provoking, dan juga thoughtful. Fokus utama penonton adalah para alien, setiap 18 jam mereka “terbuka” terhadap manusia, tapi perlahan mereka bukan hal paling menarik di dalam cerita.   


Sama seperti Louise kamu akan bertemu dengan misteri tapi jika dilihat at the bigger picture ini lebih luas ketimbang sekedar pertanyaan “why are they here?” Ini kisah tentang invasi alien tapi itu menjadi alasan bagi kisah tentang humanity untuk menyapa penonton. Fokus perlahan bergeser pada memori yang dimiliki oleh Louise, her dream yang kemudian mendorongnya ke arah yang tidak langsung ia pahami, dari sana ia “belajar” dari teka-teki dan juga terus merasa tertekan karena negara lain mulai mencoba jalan perang. Terasa prosedurial di banyak bagian dari 116 menit durasi ‘Arrival’ merupakan sebuah “examinations” tentang cinta dan kehidupan, dari global war hingga weapon and tool untuk mengajak kamu masuk ke dalam sebuah introspeksi tentang “manusia” lewat jalan kedatangan alien ke bumi. Skenario di dalam cerita ‘Arrival’ memang masih sebatas menggunakan Sapir–Whorf hypothesis tapi ada kesan “real” yang membuat konteks utama tadi jadi semakin terasa menawan. 


Screenplay yang ditulis oleh Eric Heisserer dapat dikatakan merupakan salah satu yang terbaik di tahun ini tapi cara Denis Villeneuve mengeksekusi cerita yang membuat ‘Arrival’ sangat menawan. Salah satu smartest storytellers itu di sini kembali bergembira dengan pertanyaan, menyajikan sebuah eksplorasi berisikan frustasi dan antisipasi di dalam tensi yang tinggi. Villeneuve berhasil mempertahankan kualitas surprises yang dimiliki cerita, perlahan membuat fantasi itu looks like a reality dengan membuat kamu mengamati karakter dengan dikelilingi emosi. Dia juga sangat berhasil ketika menggunakan “komunikasi” untuk melakukan tackle terhadap kondisi manusia sekarang ini, kedamaian dunia yang tidak lagi satu tapi sudah dipisahkan oleh batas seperti political and national. Itu merupakan pusat daya yang dimiliki cerita film ini, capture every tense dengan narasi yang bergerak bolak balik. Di awal saya mengatakan ini merupakan sebuah puzzle karena seperti itulah ‘Arrival’ tampil, jumps around yang mungkin akan menciptakan kesan random. 


Arrival harus diakui terasa sedikit uneven di paruh kedua tapi juga sama seperti ciri khas film Villeneuve yang memang segmented: pertanyaan yang fantastis namun jawaban (mungkin) belum tentu seperti itu untuk semua orang. Hanya sepintas memang dan tidak tidak akan jadi hal yang menganggu jika kamu telah “tenggelam” bersama Louise. Unsur teknis juga berperan penting pada hal tersebut, special effects menampilkan “tone” yang low-key tapi suspenseful, cinematography terasa mesmerizing, dan itu dilengkapi dengan score dari salah satu rekan setia Denis Villeneuve sejauh ini, Jóhann Jóhannsson, memberikan sesuatu yang cukup segar ketimbang karya sebelumnya lewat score yang subtle tapi terasa affecting. Last but not least tentu saja performa akting, Amy Adams dengan salah satu penampilan terbaik sepanjang karirnya sebagai wanita yang hangat dan empathy, Forest Whitaker tampil baik sebagai pria yang berhadapan dengan konflik dan ketidakpastian, dan Jeremy Renner sebagai “penyegar” dan pendamping yang oke bagi Louise. 


Melihat cara Denis Villeneuve bermain dengan science fiction di sini membuat ekspektasi pada Blade Runner 2049 menjadi meningkat, menggunakan pertanyaan tentang apa yang akan manusia lakukan jika kelak alien datang untuk mengambil alih “tanah” para manusia Villeneuve menyajikan sebuah thought provoking drama yang menyamar sebagai sebuah science fiction. Krisis global, kedamaian dunia, komunikasi, love and life, mereka disandingkan dengan manis dengan proses komunikasi antara manusia dan alien di dalam cerita. Misteri oke, suspense and thrill oke, emosi oke, bergerak nonlinear ‘Arrival tidak hanya terasa seperti sebuah awakening tapi juga sebuah experience yang berhasil “expanding” pikiran kamu terhadap love, life, and humanity. Afterall, once again, Denis Villeneuve does not disappoint. Segmented.










3 comments :

  1. Wow highscore. Ada peluang Oscars ga bang? Oia, tayang di Indonesia kapan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada. Jika menilik jadwal rilis di Singapore dan Malaysia mungkin awal tahun depan, di sana tayang 12 Januari. Semoga lebih cepat.:)

      Delete
  2. Arrival ini asik, fiksi-ilmiah tapi unsur misteri khas Villeneuve gak ilang. Untuk Oscar tapi kayanya berat, apalagi Moonlight, La La Land & Manchester By The Sea lebih tipikal Oscar banget. Sinopsis dan Jalan Cerita Film

    ReplyDelete