24 November 2015

Review: The 33 (2015)


"I knew this place was dangerous!"

Kecelakaan pertambangan Copiapó yang terjadi pada tahun 2010 merupakan salah satu perisitiwa menakutkan yang dapat membunuh 33 penambang yang terperangkap di bawah tanah. Usaha penyelamatan yang memakan waktu 69 hari menjadi perhatian dunia kala itu, dan fakta bahwa 33 orang penambang tadi berhasil tetap hidup dan selamat dari maut yang siap menghampiri mereka kapanpun itu menjadi sebuah kisah perjuangan hidup yang inspiratif. Jangan heran lima tahun kemudian muncul film yang berusaha menggambarkan kembali kisah yang memang layak dibawa ke layar lebar tersebut. Masalahnya adalah apakah The 33 mampu menghadirkan magic dari kisah ajaib tersebut?

Pagi hari tanggal 5 Agusus 2010, 33 orang pekerja turun menuju tempat kerja mereka di San Jos√© mine, sebuah tambang emas tua yang sudah dinilai tidak stabil oleh ahli geologis. Walaupun mendapat peringatan dari mandor Luis "Don Lucho" Urzua (Lou Diamond Phillips) namun tuntutan dari boss perusahaan memaksa para pekerja melakukan kewajiban mereka. Nasib buruk datang tidak lama, tambang tersebut runtuh dan membuat 33 orang pekerja tadi terjebak pada elevasi 2.300 kaki di bawah tanah. Pemerintah Chile melakukan upaya penyelamatan, namun di sisi lain para pekerja juga harus menyelematkan hidup mereka dengan sumber daya yang terbatas. 



Patricia Riggen bersama dengan tim penulis script pada dasarnya mengerti apa yang kekuatan kisah di tahun 2010 tadi, tapi sepertinya mereka juga berniat untuk tidak menjadikan perjuangan di atas dan di bawah tanah yang memakan waktu dua bulan itu hadir dalam bentuk yang sederhana. Memang tidak salah memasukkan beberapa dramatisasi misalnya yang bisa membuat cerita utama semakin manis, tapi The 33 memperoleh hasil yang sedikit melenceng dari sasaran. Film ini terasa kuat di pusat cerita, tapi apa yang menemani cerita utama menimbulkan distraksi pada feel dari kisah ajaib tersebut. Cukup disayangkan memang karena The 33 ternyata memiliki beberapa bagian yang kehadirannya terasa “terlalu dipaksakan” sehingga perjuangan bertahan dan menyelematkan hidup ini terasa sesak.



Rasa yang diberikan oleh The 33 ini sama seperti yang dilakukan oleh Everest, tugas menggambarkan cerita dilakukan dengan baik tapi “punch” dari kisah perjuangan yang dibawa tidak mengagumkan. Pada dasarnya The 33 punya potensi yang tidak bisa dikatakan buruk, dan meskipun sedikit menghadapi kendala dengan penggunaan english kinerja dari para pekerja yang terjebak juga terhitung oke, meskipun pesona mereka memang terasa seadanya dan hanya beberapa yang standout seperti Antonio Banderas dan Lou Diamond Phillips misalnya, sama seperti Juliette Binoche. Hal positif lain dari The 33 adalah ia berhasil membuat penonton merasakan sensitifitas dari isu didalam cerita, dari masalah keluarga sampai politik. Di beberapa bagian kamu akan menemukan emosi yang terasa oke, walaupun tidak mengikat kamu begitu dalam.



Yang jadi masalah adalah dengan niat mencampur drama dengan unsur thriller tapi juga disertai dengan sisi mellow, Patricia Riggen tidak cekatan dalam mengemas itu semua, dan hasilnya The 33 sering terasa dipaksakan di banyak bagian. Presentasi The 33 bukan sesuatu yang sangat buruk, tapi hal terpenting dari survival story seperti ini adalah kemampuannya dalam membawa penonton seolah menjadi bagian dari perjuangan! Feel yang saya rasakan mixed, terdapat bagian dengan thrill yang oke seperti bagian penyelamatan penuh frustasi di kompleks gurun dengan susunan geologi rumit itu, tapi ada pula bagian yang seperti melayang-layang, rasa claustrophobia misalnya terasa minim, cerita juga sudah di set untuk kompleks tapi justru berjalan sangat-sangat lancar, minim tensi, apalagi ada melodrama yang dapat dikatakan mengganggu.



Itu yang sangat disayangkan dari The 33, seperti kehilangan cengkeraman di titik tengah, sesuatu yang sudah dibangun dengan baik untuk terasa kompleks justru berjalan dengan sangat sederhana. Kisah heroik dari upaya penyelamatan di tahun 2010 itu sebenarnya tidak perlu di push terlalu berlebihan, durasi dua jam yang diisi dengan mondar-mandir lamban dan melodrama yang tidak perlu. The 33 dapat terasa lebih menarik andai saja bagian utamanya: upaya penyelamatan di atas tanah, upaya bertahan hidup di bawah tanah, dan unsur family dibentuk lebih padat, lebih ramping, sehingga upaya menginspirasi bisa meninggalkan punch yang lebih kuat. Tidak buruk, tapi sangat jauh dari kesan memukau, keajaiban yang ia ciptakan lemah, dan itu hal yang mengecewakan.







0 komentar :

Post a Comment