22 November 2015

Review: Carol (2015)


"Some people change your life forever."

Apakah cinta punya masa kadaluarsa? Apakah cinta punya batasan yang melarang dua insan saling melengkapi gairah asmara yang mereka miliki? Ketika melihat pasangan kakek dan nenek jalan bergandengan tangan selalu ada rasa iri pada mereka, karena mereka mampu mendapatkan dan mempertahankan rasa cinta yang mungkin saja mereka mulai setengah abad sebelumnya. Ya, perjuangan mempertahankan lebih sulit ketimbang perjuangan saat mencoba mendapatkan. Mendapatkan cinta, merasakan cinta, mempertahankan rasa cinta, Carol tampilkan itu dengan gairah yang indah dan mewah. Romance with orchestra.

Carol Aird (Cate Blanchett) sedang menghadapi masalah dalam pernikahannya dengan Harge Aird (Kyle Chandler) yang berada di ambang perceraian. Satu-satunya hal yang menyebabkan mereka masih bersama adalah putri kecil mereka. Suatu ketika Carol lupa membawa sarung tangan ketika ia membeli mainan bagi putrinya yang di rekomendasikan oleh pekerja di department store tersebut, Therese Belivet (Rooney Mara). Therese yang memiliki hobby fotografi itu mengirimkan sarung tangan Carol ke rumahnya di New Jersey, dan sebagai bentuk terima kasih Carol mengundang Therese untuk makan siang bersama. Celakanya pertemanan Carol dan Therese tumbuh sangat besar. 


Carol ini seperti panggung teatrikal dengan iringan orchestra yang membuat penonton seperti terhipnotis ketika sedang menikmatinya. Masalahnya sangat sederhana, polemik tentang cinta, tapi di tangan Todd Haynes semua elemen di kemas dengan begitu indah seolah-olah Carol datang sebagai sebuah kesatuan di mana seperti tidak ada pembatas yang membuat cerita, karakter, hingga elemen pendukung seperti score, sinematografi, dan tatanan desain terasa terpisah hingga akhir. Sejak awal script yang ditangani oleh Phyllis Nagy sudah berhasil menetapkan dasar yang kuat, dan dibawah kendali penuh percaya diri dari Haynes film ini terus tumbuh untuk membawa kamu merasakan kembali romance dengan cita rasa retro yang begitu manis.



Apa yang menjadi kekuatan utama dari Carol? Banyak. Ya, banyak. Hal-hal yang disebutkan di paragraph sebelumnya tadi seperti saling kerjasama untuk membuat penonton terus terpesona sampai akhir. Suatu ketika kamu akan tenggelam ketika mengamati bagaimana desain begitu detail dalam menyokong feel dari cerita, di momen lain score hadir menyentil, setelah itu selesai kita diberikan kualitas akting yang tidak hanya bersinar pada dua pemeran utama saja tapi hingga pemeran pendukung. Dan semua itu dilengkapi dengan nyawa yang begitu kuat. Jika harus memilih kekuatan utamanya, saya akan memilih nyawa atau emosi sebagai bagian tercantik dari Carol, kamu bisa merasakan ia terus bernafas tapi posisinya itu terus bersembunyi. Itu bagian tercantik film ini, ada gairah yang kuat namun misterius.



Menariknya, meskipun membawa tema lesbian sulit untuk memberikan label film LGBT secara frontal kepada film ini. Carol seperti versi softcore yang berkelas dari jenis tersebut, ia sangat terkendali dan tepat sasaran dalam memberikan emosi yang di bakar perlahan dan sedikit-sedikit. Sangat suka dengan ketegangan yang film ini berikan, thrill dari erotisme yang ditampilkan membuat penonton terus haus dengan apa yang akan terjadi selanjutnya, di mana level hubungan antara Carol dan Therese akan berakhir. Babak pertama memang tampak seperti sebuah proses build-up, tapi setelah itu Carol akan memberikan kamu ledakan-ledakan kecil namun tajam yang mengasyikkan. Hanya dari gerakan bibir, tatapan mata, hingga sentuhan-sentuhan kecil hadir erotisme halus yang nikmat.



Nah, itu juga salah satu keistimewaan film ini, ia memberikan kisah cinta dengan mengandalkan masalah kasih sayang dibumbui erotisme yang bukan sekedar membuat kamu duduk mengamati saja tapi juga merasakan yang karakter rasakan. Semakin menarik karena yang dapat kamu rasakan dari Carol itu ternyata banyak. Ini tidak sebatas tentang dua wanita yang saling jatuh cinta belaka, hadir kesedihan dan perjuangan yang menjadikan ia tambah manis. Carol dan Therese seperti kutub magnet yang saling tarik menarik secara perlahan, tapi di sisi lain lingkungan sekitar mencoba memisahkan mereka. Sederhana? Iya, itu jika di dalam cerita ada batas antara antagonis dan protagonist. Carol tidak punya itu. Kita dibuat ingin agar Carol dan Therese menemukan kebahagiaan, tapi kita juga dibuat memahami motivasi dari orang-orang yang mengancam hubungan dua wanita ini.



Semua keindahan yang diberikan oleh Carol mungkin akan sulit tercapai tanpa kinerja yang kuat dari cast, terutama dari dua pemeran utamanya. Blanchett dan Mara menghadirkan dynamic duo dengan chemistry yang luar biasa, membuat hubungan antara dua Carol dan Therese tampak normal tapi menegangkan, gairah dan nafsu dikemas dengan elegant. Sulit untuk membahas Cate Blanchett karena itu akan seperti menggunakan sebuah template, kualitas akting Cate Blanchett disini adalah kualitas yang kita kenal dari seorang Cate Blanchett. Kesan bitchy dan glamor dari Carol seperti tersembunyi penuh misteri, martabat versus rasa rindu, ia seperti serigala yang siap menerkam domba polos yang ia incar. Dan kinerja Rooney Mara adalah kejutan menyenangkan, setiap gerakan dan sentuhan kecil yang ia lakukan menghasilkan dampak kuat, ekspresi mata dan wajah yang kuat, ia buat Therese tumbuh dari domba menjadi serigala sopan seperti Carol.



Berawal dari kesulitan cinta antara dua wanita di tahun 1950an, Carol berakhir sebagai sebuah kisah cinta dengan komposisi dasar yang sangat klasik namun tampil menawan karena dikemas dengan elegant. Tidak banyak yang terjadi dari segi konflik, tapi cara Carol memainkan materi membuat hal yang tampak sederhana itu menjadi cantik. Ini sebuah romance yang solid, menggunakan isu lesbian untuk memberikan kamu sebuah kisah cinta yang cerdas, dikendalikan dan dirakit dengan sangat baik oleh Todd Haynes dan dibantu penampilan cast yang oke terutama dua pemeran utamanya, sejak awal hingga akhir Carol seperti malu-malu kucing dalam mengumbar gairah yang efektif ia tebar, kuat dalam mencengkeram penonton sehingga tidak pernah jatuh menjadi melodrama yang berlebihan tapi tumbuh menjadi gejolak cinta yang mengagumkan. Segmented. 













Thanks to: rory pinem

0 komentar :

Post a Comment