28 September 2014

Movie Review: Han Gong-Ju (2014)


Menyaksikan film ini seperti sedang mengupas sebuah bawang dimana kita tahu bahwa kita mungkin akan menerima kehadiran rasa pedih yang kemudian akan membuat kita waspada, namun semakin banyak kulit yang kita kupas, semakin besar pula rasa pedih atau perih yang kita peroleh. Film ini menerapkan konsep tadi kedalam sebuah petualangan manis yang mengeksplorasi pahit dari sebuah kehancuran, Han Gong-Ju, an engaging and poignant composed rage drama.

Gadis muda bernama Han Gong-ju (Chun Woo-hee) mungkin merupakan satu dari sekian banyak pelajar yang menjadi korban sekolah yang hanya ingin menjaga image mereka, ketika ia dipaksa untuk pindah dari sekolah lamanya setelah mengalami sebuah peristiwa mengerikan dan telah menjadi skandal di lingkungan tempat ia tinggal. Ia bahkan harus menjauh dari kedua orangtuanya, yang pada faktanya seperti tidak bersemangat lagi untuk memberikan kasih mereka kepada Gong-ju, dan lebih memilih menikmati kehidupan mereka, meskipun pada akhirnya ia mendapatkan pertolongan dari seorang guru di sekolah lamanya, sosok yang kemudian berhasil menyelamatkan masa depan Gong-ju untuk sementara.

Ya, sementara. Bukan masalah sekolah baru dimana ia berhasil masuk dengan mudah berkat bantuan sang guru, bukan pula tempat tinggal yang juga telah disediakan oleh guru tadi yang sempat mengundang tanda tanya dari ibunya Ms. Lee (Lee Yeong-lan), bukan pula masalah dari lingkungan barunya, dimana ia bahkan menjadi idola baru dari sebuah grup accapella yang dipimpin oleh Eun-hee (Jung In-sun), namun perempuan yang selalu berlatih berenang ini masih terus dibayangi rasa cemas dengan kasusnya yang masih berjalan itu, kegelisahan yang diciptakan tekanan dari masa lalu yang kelam itu.


Jika anda bertanya hal apa saja yang identik dengan Korea Selatan, maka jawaban yang akan saya berikan bukan hanya sebatas musik K-pop yang menjadi wabah di berbagai belahan dunia itu, drama-drama mereka yang mudah mengundang air mata, bukan pula produk elektronik serta gesekan dengan tetangga mereka di utara. Suicide rate, angka aksi bunuh diri, Korea Selatan sangat tinggi di masalah ini dan menempati posisi kedua di dunia. Alasannya sederhana dimana perkembangan trend yang begitu pesat ikut memberikan dampak yang sangat besar pada tekanan hidup yang kini begitu tinggi di negeri ginseng tersebut, sistem dimana mereka selalu ingin bergerak maju menciptakan kehancuran yang besar ketika apa yang mereka inginkan tidak tercapai, ketika apa yang membuat mereka yakini akan memberikan kebahagiaan tidak berhasil mereka miliki.

Tekanan hidup yang sangat tinggi tadi coba dikupas oleh Lee Su-jin dalam debutnya ini, dan manisnya seperti yang disebutkan di awal tadi ia bentuk seperti mengupas bawang, mengajak penonton untuk secara bertahap mengupas satu persatu masalah yang dihadapi oleh karakter utama, ledakan-ledakan kecil disuntikkan untuk mewarnai susunan cerita dalam struktur yang menggabungkan past dan present, sebuah petualangan komplit yang tidak pernah berhenti membuat penontonnya sibuk bersama cerita. Ya, sibuk, pada sisi cerita dan juga emosi, dari rasa bingung yang akan muncul dengan mudahnya kita seperti dibuat terus terjaga sembari bertanya-tanya oleh Lee Su-jin, bergerak liar namun tetap dituntun sehingga berbagai informasi kecil yang ia sebar itu tidak menjadikan proses merajut cerita yang penonton lakukan terasa rumit, malah sebaliknya jadi terasa menyenangkan.


Unik memang, ibarat present sebagai titik nol kita diajak untuk berjalan bersama dua cerita, flashback yang sebut saja dimulai dari titik minus tiga dengan destinasi titik nol tadi, dan satu laju memajukan present story untuk secara perlahan mencapai kehancuran yang sangat besar dibagian akhir itu. Seperti menyaksikan versi sederhana dari The Broken Circle Breakdown, dengan masalah yang berbeda namun memiliki kompleksitas emosi yang sama, bagaimana kisah yang diambil dari tragedi Miryang di tahun 2004 lalu itu seperti di set agar membawa penonton menghabiskan waktu dalam sebuah tahapan bersama hal-hal kecil yang bahkan sesekali ia warnai dengan sedikit humor didalamnya, namun dengan pendekatan yang hati-hati serta percaya diri ia terus menjaga sesuatu yang mengerikan terkait konflik utama bermain-main secara perlahan di pikiran penontonnya.

Nah itu mengapa dibalik gerak mondar-mandir yang ia terapkan ketika bertemu dengan garis akhir Han Gong-ju sukses meninggalkan kesan mengerikan yang sangat kuat, karena kita seperti terlibat didalam cerita, dari awalnya hanya sebatas simpati, kemudian muncul empati, hingga rasa emosi pada lingkungan sekitar yang sesungguhnya juga menjadi sebuah kritik  sosial yang ingin ia sampaikan. Ini adalah sebuah kehancuran yang menyayat hati tanpa sekalipun terasa mencoba mengemis air mata penontonnya, studi karakter yang menampar dengan sangat keras keadilan dari sistem yang berlaku dengan menggunakan aksi mengamati sebuah perjuangan keras seorang gadis untuk mencoba mengatasi sendiri kejahatan yang menimpanya tanpa harus mengikut sertakan dramatisasi yang berlebihan didalamnya.


Ya, sangat efektif dan efisien, sasaran yang ingin ia raih mungkin para penonton yang berada dalam kondisi siap menggunakan sensitifitas mereka, karena bersama gambar dan suara yang digunakan dengan baik itu ia bergerak sedikit demi sedikit, konsisten untuk tampil bijak dalam menggunakan materi yang sangat kompleks itu, dari keadilan, persahabatan, hingga gejolak batin yang menjadi fokus utama. Hal lain yang saya suka adalah selain kinerja yang kuat dari Chun Woo-hee dalam mempermainkan emosi penonton, Han Gong-ju tidak tampak berupaya membuat anda kasihan dengannya, tapi merasa peduli dengan posisi tak berdaya dari masalah yang ia hadapi, bersama rasa sakit dan takut yang terus ia rasakan masuk kedalam sebuah eksplorasi yang dieksekusi dengan cerdas sehingga terasa manis dibalik kehancuran yang mencekam itu.


Overall, Han Gong-ju adalah film yang memuaskan. Sebuah kemasan komplit yang tidak mau tampil berlebihan, tampil sederhana untuk memberikan petualangan intens yang menyenangkan, membuat penontonnya sesekali tersenyum dan tertawa canggung, namun terus membuat mereka waspada pada rasa sakit yang mampu membuat mereka terdiam tanpa kata, sebuah eksplorasi yang cerdas dan percaya diri dari sebuah kehancuran yang akan sulit untuk dilupakan.







2 comments :

  1. Ini film alur cerianya lambat ya,,
    Rasanya malah bosen aja,,

    ReplyDelete
  2. Han Gong Ju .. Film Bagus .. Sangat cerdas .. Salutt buat yg Terlibat didalamnya ..

    ReplyDelete