30 September 2014

Movie Review: Obvious Child (2014)


"I remember seeing a condom, I just don't know exactly what it did

Jika anda telah akrab dengan salah satu usaha membuat penonton tertawa yang dikenal dengan sebutan stand-up comedy, anda pasti akan merasakan bahwa peran penonton tidak hanya sebagai sosok yang hanya menelan mentah-mentah apa yang diberikan para comic, ada aksi mematangkan materi dan berakhir dengan umpan balik untuk menciptakan aliran yang semakin menarik. Mengapa anda mau terlibat lebih dalam dengan apa yang diberikan para comedian tadi? Karena apa yang mereka berikan perlahan terasa semakin menarik. Hal terakhir tadi tampil kurang baik di film ini, Obvious Child, likeable but unattractive rom-com.    

Setelah tampil sangat meyakinkan berdiri sendiri di atas panggung dengan berbagai lelucon yang mampu membuat pengunjung tertawa bersamanya, sebuah toilet justru memberikan pengalaman yang bertolak belakang dengan apa yang baru saja Donna Stern (Jenny Slate) lakukan tadi. Sang pacar yang sangat ia cintai memilih untuk mengakhiri kisah cinta mereka, yang celakanya justru telah menjalin hubungan dengan salah satu sahabatnya, dan tragedi tersebut seolah melengkapi masalah hidup dari wanita brokenhome yang bahkan sedang memiliki permasalahan di toko buku tempat ia bekerja ini.

Namun suatu ketika ia bertemu dengan Max (Jake Lacy), salah satu pengunjung yang ternyata langsung klik dengan Donna. Mereka minum bersama, berbincang dengan teman Donna, Joey (Gabe Liedman), kemudian minum lagi, bercanda, minum, hingga berakhir di atas tempat tidur. Celakanya one night stand itu tidak berlalu dengan bersih, ada sesuatu yang tertinggal, janin didalam perut Donna yang menghadirkan kegelisahan serta rasa bingung yang terus berkecamuk, hal yang memberikan Donna salah satu hari Valentine yang tidak akan pernah ia lupakan.


Seperti salah satu elemen yang ia gunakan, Obvious Child terasa sangat identik dengan stand-up comedy, apa yang ia tampilkan tidak sepenuhnya masak, dan kemudian mengharuskan penonton untuk sedikit lagi memasaknya agar dapat menikmati kelezatan mereka. Sayangnya kisah yang Gillian Robespierre tulis bersama dengan Karen Maine dan Elisabeth Holm ini tidak semua dapat terasa lezat ketika penonton telah mematangkan mereka, bahkan jika harus ditilik secara kuantitas mereka sangat seimbang, ada beberapa yang mampu menciptakan tawa menyenangkan, aksi mocking yang bahkan sesekali terasa menggelikan, tapi tidak sedikit pula yang seperti berlalu begitu saja dengan meninggalkan dahi penonton mengernyit karena terasa canggung dan kurang menarik.

Penyebabnya adalah penyakit dari stand-up comedy, dimana semakin keras anda mencoba membuat penonton tertawa, semakin kurang lucu apa yang anda tampilkan. Hal tersebut yang menjadi masalah dari film ini, Gillian Robespierre seperti ingin agar penonton  dapat semakin terjebak didalam cerita (baik itu pada drama dan juga komedi) dengan menciptakan ruang yang sangat luas bagi karakter utama untuk bermain-main dengan permasalahan tunggalnya itu bersama dialog santai yang mendominasi. Sayangnya ia tidak pernah mendorong plot untuk bertahap maju, kita seperti terjebak bersama berbagai dilemma yang muncul didalam batin Donna, seperti ingin menarik dan mengulur kita untuk menaruh simpati pada masalah yang dihadapi oleh karakter utama, yang sayangnya kurang berhasil.


Kurang berhasil. Kinerja yang diberikan oleh Jenny Slate pada karakter utama berada di level memuaskan, bahkan ini seolah menjadi sebuah pintu masuk baginya untuk lebih dikenal di industri perfilman, meskipun sesungguhnya ia dapat memberikan performa yang jauh lebih baik lagi. Masalahnya terletak pada materi yang ia miliki, terlalu sempit dan kurang variatif, terasa cukup monoton, dibawa berjalan oleh Gillian Robespierre bersama masalah yang pada dasarnya hanya bersumber pada ketidakdewasaan karakter dalam mengambil keputusan, terasa sulit untuk menaruh empati bahkan simpati padanya. Karakter punya pesona, tapi masalah yang mengelilinginya tidak punya hal yang sama kuatnya, seperti mengapung diatas danau tanpa kehadiran ombak-ombak kecil yang dapat memberikan sensasi yang menarik.

Hal tersebut yang terasa hilang dari kisah yang sebenarnya menjadi sebuah studi karakter ini, sensasi. Pesona yang dimiliki karakter disertai dengan alur yang memiliki dinamika yang kurang konsisten menarik disini, sebuah penceritaan yang seharusnya mampu mengajak penonton untuk ikut merasakan perspektif yang ingin mereka sampaikan terhadap isu aborsi dengan disertai berbagai pukulan kecil didalamnya, bukannya justru menyaksikan karakter menghabiskan waktu tanpa semangat yang perlahan menggerus kualitas dari kekacauan batin yang ia punya. Saya bahkan perlahan mulai merasa isu aborsi itu hanyalah sebagai sebuah gimmick untuk menyelimuti rasa frustasi karakter pada kehidupannya, seperti hanya berbisik tentang isu etika dan juga tanggung jawab secara konsisten tapi tidak berani untuk berteriak lebih kencang dan membuat penonton bersedia menolong karakter.

Tidak heran meskipun terus ia warnai dengan berbagai lelucon yang terkadang ia letakkan secara implisit, perlahan rasa frustasi pada konflik utama juga terus tumbuh besar. Andai saja Gillian Robespierre mau menjadikan salah satu dari karakter atau cerita yang ia punya tampil clear, tidak keduanya berada di zona ambigu, ini mungkin akan terasa lebih menarik. Penyebabnya adalah karena dengan demikian penonton dapat mudah memasak materi setengah matang ini, dan kemudian menaruh simpati dan empati pada karakter ataupun masalah yang disini terlalu sering membuat mereka ragu, apakah ia layak untuk dicintai, atau justru harus dibenci, sehingga mereka akan berani untuk menaruh persepsi pada masalah perempuan yang ditemani komedi yang cukup lucu ini.


Overall, Obvious Child adalah film yang cukup memuaskan. Nilai plus hadir dari beberapa lelucon yang berhasil melemparkan hit dengan kerasnya, dan tentu saja penampilan mumpuni dari Jenny Slate. Di luar dua hal tadi ini adalah sebuah semi mumblecore yang sedikit monoton, subjek yang kontroversial itu kurang berhasil membawa isu aborsi menjadi sesuatu yang benar-benar penting dan menarik, seolah hanya ditempatkan ditengah sebagai sebuah gimmick untuk menyokong karakter untuk bertarung dengan rasa bingung akibat belum siap untuk menjadi dewasa, yang bahkan punya intensitas drama yang kurang menarik. Seperti stand-up comedy, hit or miss. Segmented.




2 comments :

  1. ini film udah dr 2014 ya, saya baru nonton tadi malem hehe jd akhir ceritannya gimana sih? hubungan si donna sama max gimana? dia jd aborsi kandungannya? ceritanya ngegantung gitu soalnya :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya sudah lupa detailnya. Sorry. :)

      Delete