23 May 2020

Movie Review: The Half of It (2020)


“How many people find perfect love?”

Tidak peduli itu pria maupun wanita, mayoritas dari kita mendambakan untuk dapat memiliki pasangan hidup yang sesuai dengan keinginan kita, baik dari segi fisik dan kepribadian hingga terkait hal-hal kecil seperti selera musik ataupun rasa favorit terhadap makanan misalnya, sama-sama menyukai makanan pedas mungkin. Tapi di antara mayoritas tadi berapa banyak yang pada akhirnya berhasil menemukan pasangan yang sepenuhnya sempurna seperti itu? Find perfect love? Apakah harus sempurna? Apakah makna dari cinta adalah sebuah rasa yang sempurna? ‘The Half of It’ : a simple but rich love story.

Ellie Chu (Leah Lewis) merupakan wanita muda keturunan Chinese-American yang terkenal di sekolahnya sebagai seorang siswa yang pintar, kemampuan yang ia manfaatkan untuk menghasilkan uang dengan membantu teman-temannya mengerjakan tugas. Namun di luar hal tersebut Ellie tidak populer, hal tersebut karena Ellie memiliki sifat pemalu dan lebih senang menyendiri. Suatu ketika hidup Ellie berubah ketika dia bertemu dengan Paul Munsky (Daniel Diemer), seorang atlit di sekolahnya.

Paul meminta bantuan Ellie untuk menuliskan sebuah surat cinta kepada Aster Flores (Alexxis Lemirs). Paul suka pada Aster meskipun dirinya juga tahu bahwa wanita dambaannya tersebut telah memiliki kekasih, Trig Carson (Wolfgang Novogratz), pria dari keluarga kaya raya yang terkenal seantero kota Squahamish. Ellie menerima permintaan Paul namun celakanya bantuan yang ia berikan tidak berhenti di menuliskan satu buah surat cinta saja, tanpa ia sadari Ellie terlibat “terlalu jauh” di dalam usaha Paul untuk mendapatkan cinta Aster.
Hal yang membuat ‘The Half of It’ terasa sangat berkesan adalah di balik presentasinya yang terasa klasik itu dalam mendaur ulang formula romansa tentang percintaan remaja beranjak dewasa namun di sisi lain ia juga sukses menjadi sebuah penggambaran tentang cinta dengan berbagai pesan yang manis. Sutradara Alice Wu tahu betul hal-hal apa yang ingin ia sampaikan di sini dan juga tahu seperti apa cara yang ingin ia gunakan untuk bercerita. Terdapat berbagai isu dan pesan tentang kehidupan di dalam ‘The Half of It’ dan itu berhasil ditackle dengan baik oleh Alice Wu menggunakan konflik percintaan yang sangat sederhana dan berawal dari upaya menyatakan perasaan cinta.

Dari kulit luarnya ini akan tampak seperti sebuah kisah romance dan benar adanya bahwa itu menjadi tiang utama cerita, namun di dalamnya terdapat sebuah coming-of-age drama berbalut komedi ringan yang mencoba menggiring isu tentang hidup dan proses bertumbuh menjadi dewasa agar meraih atensi penonton. Permasalahan utama yang dikembangkan dengan aksi saling berbalas surat itu ternyata kemudian menjadi sebuah pintu masuk dan jalan bagi masing-masing karakter untuk “menemukan” diri mereka yang selama ini belum mereka ketahui. Namun menariknya adalah perubahan yang dialami karakter dikemas oleh Alice Wu secara halus dan implisit.
Hal tersebut membuat fokus pada cerita tetap tertuju pada upaya menyatakan cinta yang juga menjadi media bagi berbagai hal-hal klise dan klasik tentang cinta untuk hadir. Penonton terpaku ke sana karena memang ada progress yang menarik di bagian tersebut meskipun juga diwarnai dengan berbagai gesekan yang menyenangkan. Dan sembari itu berkembang secara perlahan di sisi lain Alice Wu juga mendorong perlahan berbagai isu lain selain cinta untuk sedikit demi sedikit mencuri atensi penonton. Tidak ada upaya dari mereka yang terasa frontal, semuanya lembut dan tidak menciptakan kesan kehadiran mereka membuat pesona dari cerita menjadi rumit. Yang ada justru mereka menjadi pelengkap yang manis bagi kisah cinta di pusat cerita. 

Mereka tadi itu adalah isu dan pesan tentang kehidupan tadi. Karakter berada di usia beranjak menuju dewasa sehingga apa yang sedang terjadi di antara mereka bertiga pada akhirnya menjadi semacam proses penemuan jati diri bagi masing-masing dari mereka. Kisah klasik itu membawa Ellie, Paul, dan Aster menemukan kejutan yang menyadarkan mereka pada apa yang selama ini mereka inginkan namun belum mampu untuk bergerak untuk berusaha mereka raih. Karakter-karakter itu terjebak di dalam perangkap rasa takut untuk mengekspresikan isi hati, apa yang terjadi di antara Aster dan Trig contohnya yang juga merupakan sebuah penggambaran yang manis.
Ya, klasik memang, namun yang justru membuat ‘The Half of It’ terasa memorable dan impresif adalah ketika Alice Wu tidak menyelipkan upaya dramatisasi yang berlebihan di dalam penyampaiannya. Narasi bergerak tenang dan lembut namun konsisten sukses menghadirkan berbagai punch yang cantik tentang cinta yang kemudian berkembang semakin luas, mengarah ke makna menjadi manusia, menjadi dewasa, serta makna kesempurnaan itu sendiri. Dan Alice Wu juga cermat dalam mengatur komposisi dari materi-materi tadi, ketika ia rasa cukup ia berhenti di situ tanpa mencoba untuk menghadirkan narasi dilebih-lebihkan dan terkesan eksploitatif. Alhasil ‘The Half of It’ terasa efektif dari segi tujuan dan terasa padat dari segi kemasan.

Hal lain yang layak disorot adalah bagaimana Alice Wu dan juga pemeran yang ia arahkan berhasil memberikan “nafas kehidupan” ke dalam masing-masing karakter. Bahkan karakter Edwin Chu, Ayah Ellie, yang diperankan oleh Collin Chou berhasil tidak hanya sekedari menjadi pelengkap belaka. Daniel Diemer berhasil menampilkan seorang pria muda yang kikuk dan masih sangat polos ketika berurusan dengan cinta, perubahan perasaan yang Paul miliki juga ditampilkan secara implisit dengan manis. Alexxis Lemire berhasil membuat Aster menjadi wanita yang ingin keluar dari “penjara” namun masih diliputi dengan keraguan. Bintang utamanya adalah Leah Lewis, sukses memaku atensi penonton sejak awal ia berhasil menunjukkan gejolak batin dan perasaan yang melanda Ellie.
Overall, ‘The Half of It’ adalah film yang memuaskan. Ini merupakan sebuah coming-of-age drama bertopengkan kisah cinta yang tahu ingin menjadi apa dan mengerti cara efektif untuk mencapai tujuan utamanya. Sejak awal Alice Wu tidak mendorong ini untuk tampak besar dan glossy lengkap dengan dramatisasi percintaan yang “pedas” namun ia justru membuat semuanya tampak sederhana dan lembut di dalam narasi yang terus bergerak dengan tenang dan tegas itu, menggunakan konflik tentang cinta untuk menggambarkan menjadi tumbuh dewasa serta makna menjadi manusia yang tidak sempurna, to get lost to be found. Sederhana tapi terasa kaya.













1 comment :

  1. "Love is messy and horrible and selfish...and bold." - Ellie Chu

    ReplyDelete