29 April 2020

Movie Review: System Crasher (Systemsprenger) (2019)


“Benni. Don’t kill him, okay?”

Anak usia dini merupakan manusia-manusia muda yang berada di fase paling rapuh di dalam lingkaran kehidupan, mereka ibarat gelas kaca yang dapat mudah pecah akibat tindakan yang salah. Yang dibutuhkan oleh mereka selain cinta dan kasih sayang adalah lingkungan dan tentu saja orang tua yang tidak hanya sekedar mampu melindungi mereka saja namun juga memberikan support terhadap tumbuh kembang emosi yang mereka punya. Karena trauma di usia yang sangat muda adalah sesuatu yang sangat berbahaya, dan ketidakberdayaan ketika masih menjadi anak-anak merupakan sebuah malapetaka. ‘System Crasher (Systemsprenger)’ : a lovely and haunting catastrophe.

Warna favoritnya boleh saja pink, warna yang identik dengan hal-hal lembut, namun ternyata hal tersebut tidak serta merta menandakan bahwa anak perempuan bernama Bernadette (Helena Zengel) itu merupakan sosok yang lembut. Ia bahkan mengganti nama panggilannya menjadi Benni, ia benci dipanggil Bernadette karena merasa nama tersebut terlalu “manis”. Secara berkala mendapat wejangan dari para pengajar di sebuah special school yang pada dasarnya sudah “menyerah” dengan Benni, sama seperti banyak keluarga asuh yang menolak untuk menerima Benni.

Hal yang wajar memang, karena meskipun kecil Benni merupakan sosok yang buas. Ia terbiasa berkata kasar, melakukan tindakan kriminal juga bukan masalah baginya apalagi untuk sekedar menyerang dan menyakiti teman-teman yang mengejek dirinya. Mudah tersulut emosi merupakan dampak dari trauma yang pernah dialami oleh Benni yang di sisi lain selalu meminta untuk dapat kembali ke Ibunya, Bianca Klaass (Lisa Hagmeister). Namun suatu ketika seorang pria bernama Michael Heller (Albrecht Schuch) menawarkan sebuah ide, yaitu membawa Benni tinggal di sebuah hutan. 
Nora Fingscheidt membuka debut film layar lebar dirinya sebagai Sutradara ini dengan menampilkan Benni dalam keadaan yang tampak normal, ia menggiring penonton untuk menanggap bahwa anak perempuan tersebut mengalami sebuah penyakit akut yang sedang coba disembuhkan. Namun yang hadir setelah itu sangat mengejutkan. Pada akhirnya kita sadar bahwa memang Benni sedang mengalami rasa sakit yang begitu besar di dalam dirinya, namun celakanya hal tersebut datang dalam bentuk problema yang jauh lebih besar dan lebih rumit. Rasa “sakit” yang dialami oleh Benni ternyata tidak hanya menghasilkan luka bagi dirinya saja, namun juga bagi banyak orang di sekitarnya, baik itu secara fisik dan tentu saja secara emosi.

Benni merupakan ‘system crashers’, mereka yang masuk ke dalam kategori itu adalah orang-orang yang memiliki resiko sangat tinggi untuk terjebak di dalam “lingkaran” interaksi negatif di dalam kesehariannya. Sentuh ia sedikit saja dan jika dirinya menjadi kesal maka Benni akan melemparmu dengan pisau tajam, Nora Fingscheidt membentuk dengan cepat dan padat sebuah image dan kesan menakutkan yang dimiliki karakter utama kita itu. Benni pada dasarnya merupakan monster yang menakutkan, Nora Fingscheidt tidak membatasi ruang gerak Benni dalam hal itu. Justru ia memberikan kebebasan bagi Benni untuk menciptakan berbagai kekacauan dengan aksi hyperactive, dengan energi yang besar ia menghasilkan destruksi yang besar pula untuk lingkungan di sekitarnya. 
Namun yang membuat ‘System Crasher’ terasa menawan adalah dengan subjek dan objek yang terasa sangat kelam tadi ia justru tidak tampil sebagai sebuah eksploitasi yang berlebihan terhadap isu utama. Penuh dengan teriakan dan berbagai benturan emosi, ‘System Crasher’ justru merupakan sebuah haunting drama yang sukses menjadi semacam komentar untuk sistem perawatan terhadap anak di usia dini. Mimpi buruk bernama Benni itu merupakan manifestasi dari dampak yang akan muncul akibat error yang terjadi di dalam sistem “mendidik” anak. Nora Fingscheidt sama sekali tidak mencoba menyudutkan Benni sebagai sosok yang bodoh dan disfungsional, ia justru membentuk Benni sebagai sosok lembut yang sedang mengalami kesulitan yang sangat berat.

Hal tersebut yang pada akhirnya membuat penonton perlahan mulai menaruh simpati pada Benni. Ia memang menghadirkan ledakan dari satu momen ke momen yang lain, bahkan terkadang aksi agresifnya tersebut terasa sangat horror, namun di sisi lain Nora Fingscheidt berhasil membentuk humanisme di dalam cerita sehingga kondisi rapuh dan rentan yang dimiliki Benni terasa autentik. Ketidakberdayaan dan perlawanan yang Benni tunjukkan menciptakan pesona yang bersinar terang, dan hasilnya adalah rasa kasihan terhadap kondisi Benni yang seolah sedang menjalani “pertempuran” di dalam dirinya itu terus bertumbuh semakin besar, terlebih ketika ia berulang kali meminta untuk dapat bertemu dengan sang Ibu.
Tidak ada dramatisasi untuk mengemis simpati dan empati, justru dengan terampil Nora Fingscheidt membentuk situasi dan kondisi emosi Benni untuk menekankan betapa penting penerapan children care sejak usia dini. Ia bahkan tidak menggunakan “jalan” yang mudah untuk menyelesaikan permasalahan itu, tidak membuat semua itu hanya sekedar menjadi sebuah alarm bahwa dengan tetap melakukan hal-hal yang “benar” saja belum tentu akan membuat semua akan baik-baik saja. Nora Fingscheidt justru merangkai cerita bukan hanya sekedar hitam dan putih namun ia membentuk ini menjadi pink, dalam gerak cepat menggambarkan kelembutan serta kekuatan yang dimiliki oleh cinta dan kasih sayang.

Impact dan punch yang ditinggalkan oleh ‘System Crasher’ terasa manis, sama manisnya seperti cinematography dari Yunus Roy Imer dan juga score dari John G├╝rtler yang secara konsisten menjadi kombinasi manis baik pada momen tenang hingga berbagai uncomfortable moment. Dan ya, gerak cepat begitu pula intensitas yang dimiliki cerita tidak lepas dari kinerja akting seorang Helena Zengel. Pemeran lain tampil baik, terutama Albrecht Schuch sebagai Micha, namun di sini Helena Zengel merupakan nyawa yang tak tergantikan. Cara ia menampilkan emosi Benni sangat memikat, meskipun di satu sisi membuat Benni sebagai sosok yang sesungguhnya rapuh dan rentan namun Helena Zengel terus menyuntikkan energi eksplosif ketika Benni mulai berurusan dengan situasi ekstrim.
Overall, System Crasher (Systemsprenger) adalah film yang memuaskan. Dari luar ini tampak layaknya sebuah malapetaka dengan beberapa materi ekstrim yang intens, namun dibalik itu tersimpan sebuah kisah tentang ketidakberdayaan seorang anak kecil yang sukses membawa penonton ke dalam rollercoaster emosi yang manis. Nora Fingscheidt pakai itu untuk menyoroti “sistem” children care dengan cara yang sensitif tanpa terkesan mendakwa bahkan menunjukkan kesentimentalan yang salah, menunjukkan bagaimana cinta, kasih sayang, dan support emosi merupakan beberapa hal penting bagi anak di usia dini. Seperti Benni, yang ia minta adalah sang Ibu dan kembali ke rumah. Such a lovely and haunting catastrophe.










1 comment :