03 April 2020

Movie Review: Vivarium (2019)


“Creepy little mutant.”

Tidak semua film hadir untuk mengajak penonton mengamati sebuah masalah lalu menyelesaikannya dengan cara yang mudah, ada dari mereka yang justru hadir untuk mencoba “mengguncang” penonton dengan berbagai masalah lewat misteri yang unik dan bahkan terasa aneh. Diselesaikan atau tidaknya masalah tersebut bukan fokus utama mereka, namun kesuksesan diukur dari seberapa besar provokasi yang berhasil mereka tinggalkan bagi penonton. ‘Vivarium’ : a fun and creepy little experiment.

Gemma (Imogen Poots) and Tom (Jesse Eisenberg) merupakan pasangan muda yang sedang merencanakan untuk hidup bersama, dan untuk mewujudkan mimpi tersebut mereka memutuskan untuk mencari rumah untuk mereka huni bersama. Menggunakan mobil mereka mengunjungi sebuah agen property, yaitu Yonder, dan kemudian bertemu dengan pria bernama Martin (Jonathan Aris). Tanpa menunggu waktu lama Martin langsung memperkenalkan perumahan yang sedang dikembangkan oleh Yonder kepada Tom dan Gemma, dan kemudian “memaksa” mereka untuk melihat langsung rumah tersebut.

Perumahan itu tampak unik, semua rumah memiliki tipe, ukuran, tatanan letak, serta warna yang seragam. Tertata sangat rapi perumahan itu masih tampak kosong, sunyi dan seolah berada di dunia yang lain. Calon rumah bagi Tom dan Gemma adalah rumah nomor sembilan, namun ketika mereka sedang berkeliling rumah tersebut Martin yang sejak awal sudah berperilaku aneh itu melakukan sebuah tindakan aneh. Merasa tidak senang dengan tindakan tersebut Tom dan Gemma kemudian memutuskan untuk pulang, namun celakanya semua jalan yang mereka putari membawa mereka kembali titik yang sama, yaitu rumah nomor sembilan.
Bagian terbaik dari ‘Vivarium’ adalah bagaimana screenplay yang ditulis oleh Garret Shanley serta cara dari sutradara Lorcan Finnegan membangun setup di bagian awal sukses menghasilkan kesan unik dan aneh yang sangat kuat. Semua tampak normal ketika penonton bertemu dengan Tom dan juga Gemma, namun ketika mereka dibawa bertemu dengan Martin kita dapat merasakan aura aneh yang terpancar dari dirinya. Senyumnya sendiri terasa creepy, dan upaya Martin yang tidak hanya setengah namun sepenuhnya memaksan Tom dan Gemma untuk ikut dengan dirinya adalah contoh dari hal aneh yang lain. Memang pada bagian ini yang terasa hanya perasaan aneh, namun kemudian berkembang semakin besar ketika masuk ke dalam perumahan itu.

Visual memiliki peran yang sangat besar di bagian tersebut, bagaimana Lorcan Finnegan membentuk perumahan dengan desain yang sama adalah sebuah keputusan yang tepat jika melihat impresi yang tercipta. Kesan weird dari Martin naik satu level ketika melihat perumahan itu, dan kembali naik satu level ketika Martin melakukan tindakan aneh. Hadir dengan irama yang dikontrol oke Lorcan Finnegan melakukan pekerjaan yang baik dalam membentuk surreal atmosphere di dalam cerita dan tentu saja pesona dari misteri itu sendiri. Dari awalnya sekedar merasa aneh penonton ia bawa untuk mulai bertanya-tanya, apa yang sebenarnya tersimpan di dalam perumahan tersebut?
Berbagai keanehan yang kemudian hadir, di mana beberapa dari mereka berhasil memberikan kejutan yang baik, sukses terus tumbuh menghantui pikiran penonton. Kita dibuat bertanya-tanya dan itu terbantu karena semuanya memang dibentuk dengan sedikit sentuhan dreamy oleh Lorcan Finnegan, coba ikut mencari jawaban dari pertanyaan mengapa hasil dari semua hal aneh yang sedang mengelilingi Tom dan Gemma. Kondisi terkurung yang dialami oleh dua karakter utama terasa haunting, menyaksikan mereka kemudian secara perlahan mengalami gejolak emosi akibat tersiksa dengan keadaan tersebut. Itu unik, karena Tom dan Gemma mendapat “support” yang sebenarnya oke, namun lingkungan tersebut justru membuat kecemasan mereka tumbuh semakin negatif.

Ya, ‘Vivarium’ tampaknya mencoba menjadi semacam eksperimen tentang rasa cemas. Yang paling sederhana adalah Tom dan Gemma di sini merupakan manifestasi dari kecemasan yang pasti semua orang akan rasakan ketika berada di situasi yang seolah tanpa solusi, dan dari sana kemudian hadir koneksi dengan isu terkait humanity. Tidak besar memang namun secara implisit ‘Vivarium’ menjadi pengejawantahan dari kondisi dunia masa kini yang dipenuhi dengan tujuan kapitalis, era di mana konsumerisme dan keserakahan semakin merajalela dan semakin beracun. Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling indah justru menjadi penjara bagi Tom dan juga Gemma, ada parallel yang aneh pula di mana sang penguasa tahu apa yang dilakukan bahkan dibutuhkan oleh Tom dan Gemma.
‘Vivarium’ punya misteri yang menyenangkan untuk diamati dan diikuti, bahkan ada sedikit penggambaran tentang isu menjadi pasangan yang kemudian berhadapan dengan emosi dan kecemasan, begitupula dengan isu menjadi orangtua ketika berhadapan dengan anak yang sulit diatur. Namun di sisi lain terlepas dari nilai positif tadi ‘Vivarium’ terasa sedikit longgar di bagian tengah, ketika semua kunci misteri telah hadir. Plot di dalam cerita tidak terlalu banyak terlebih ketika di antara Tom dan Gemma telah hadir sosok lain yang menjadi bagian dari “tugas” mereka, sehingga ketika semua telah settled cerita mulai memiliki beberapa bagian yang terasa kurang menggigit, jika dibandingkan dengan kejutan-kejutan yang hadir sebelumnya.

Namun hal tersebut tidak terasa mengganggu terlebih dengan kemampuan Lorcan Finnegan dalam membuat plot-line yang ringan itu menjadi arena bagi dua karakter utama bertarung dengan emosi mereka masing-masing. Rasa frustasi yang dialami oleh Tom dan Gemma bersifat kumulatif, dan ketika telah sampai di puncak kita dapat merasakan sanity perlahan mulai pergi dari mereka. Tom diperankan dengan baik oleh Jesse Eisenberg, seorang pria yang mudah naik emosinya dan keras kepala dengan bersikeras mencari jalan keluar. Sedangkan Imogen Poots tampil baik sebagai Gemma, menjadi fokus psikologi terkait emosi dengan sedikit sentuhan yang menarik terkait jiwa seorang ibu. Spesial mention adalah pemeran sosok aneh di antara Tom dan Gemma, mereka tampil baik dari Senan Jennings, Eanna Hardwicke, dan terutama Jonathan Aris.
Overall, ‘Vivarium’ adalah sebuah film yang cukup memuaskan. Sukses mencuri perhatian sejak awal lalu kemudian mengunci atensi penonton lewat kesan aneh dan unik yang hadir di dalam cerita, Garret Shanley dan sutradara Lorcan Finnegan berhasil membangun sebuah “eksperimen” yang menarik dengan membawa dua karakter masuk ke dalam sebuah “dunia” penuh misteri yang menarik. Hasil akhirnya memang tidak super kuat namun lewat Sci-Fi dengan misteri dan sentuhan horror yang tepat ini mereka sukses memprovokasi pikiran penonton dengan cara yang menyenangkan. Cukup menghibur. Segmented.







1 comment :