27 April 2020

Movie Review: Bad Education (2019)


“These kinds of inquiries are like setting off a grenade.”

Sulit memang mengharapkan transparansi di dalam setiap aspek kehidupan, karena tidak semua orang pintar dalam mengelola keinginan mereka masing-masing. Dari luar mungkin niat yang dilakukan baik namun siapa yang tahu pada rencana yang tersusun dan tersimpan rapi di dalamnya? Di tahun 2004 seorang siswa Sekolah Menengah Atas secara tidak sengaja menemukan sesuatu yang janggal di dalam sistem manajemen sekolahnya, hal yang kemudian menciptakan sebuah sensasi besar dan menguak kasus yang mereka sebut “the largest school theft in American history.” ‘Bad Education’ : a wickedly funny and fun dark story.

Seorang siswi bernama Rachel Bhargava (Geraldine Viswanathan) sedang mendapat tugas dari Nick Fleischman (Alex Wolff) untuk menulis sebuah artikel tentang proposal pembangunan SkyWalk di sekolahnya. Untuk itu ia kemudian mencoba menemui Pamela Gluckin (Allison Janney), asisten pengawas sekolah untuk bisnis Roslyn High School. Namun ternyata ketimbang hanya meliput respon terhadap rencana pembangunan tersebut Rachel justru menemukan sesuatu yang lebih menarik ketika ia mencari dokumen di gudang arsip sekolahnya.

Dibalik kesuksesan Roslyn High School yang perlahan predikatnya menanjak naik itu ternyata juga tersimpan sebuah skandal di dalam sistem manajemen mereka. Berawal dari sebuah insiden akibat aksi dari James (Jimmy Tatro) terbongkar fakta bahwa selama ini uang yang dimiliki Roslyn High School digunakan dengan peruntukkan yang sangat tidak tepat. Hal tersebut juga menyeret nama Dr. Francis A. Tassone (Hugh Jackman), atau yang biasa dipanggil Frank, sosok penting dibalik pencapaian prestasi yang tengah diraih oleh Roslyn High School.
Keputusan terbaik yang diambil oleh para Produser film ini adalah menunjuk Cory Finley (Thoroughbreds) sebagai Sutradara. Skandal penggelapan uang yang terjadi di Roslyn High School tentu merupakan sebuah topik utama yang dapat diekploitasi secara besar-besaran, namun di tangan Cory Finley isu tersebut justru dikemas menjadi sebuah drama komedi yang terasa seimbang di berbagai aspek. Dari segi drama ia berhasil membentuk dengan baik cerita yang ditulis oleh Mike Makowsky itu menjadi sebuah panggung proses kasus “kriminal” yang menarik, isu utama berhasil ditampilkan secara tajam namun tanpa terkesan overplay. Itu yang saya suka dari ‘Bad Education’ ini, ia menjadi sebuah dramatisasi yang tidak berlebihan.

Menyandang status sebagai whistleblower karakter Rachel justru tidak berada di posisi terdepan, yang memegang kunci cerita adalah Frank. Cory Finley membangun karakter Frank dengan sangat baik, dengan cepat pesona seorang pemimpin yang berhasil membawa tim-nya mencapai kesuksesan berhasil terbentuk, Frank juga terus didorong untuk menjadi sosok yang diidolakan banyak orang. Kemampuan Frank sendiri pada akhirnya duduk berdampingan dengan kelemahannya, yang di sini berasal dari isu percintaan, namun sebagai seorang individu ia adalah pribadi pintar yang menarik. Sama halnya dengan Pamela, ia punya semacam pesona yang electrifying, kita dibuat yakin bahwa perannya sangat penting bagi Roslyn High School.
Dua karakter utama tadi merupakan pusat yang sangat penting bagi cerita, dan misi utama Cory Finley serta Mike Makowsky tampaknya adalah membuat penonton “jatuh hati” pada Frank dan Pam. Itu berhasil, sehingga tidak heran ketika misi berikutnya hadir kemudian lahir gejolak emosi di mana penonton juga ikut merasakan pertentangan terhadap masalah yang dialami karakter. Dengan status mereka yang sangat penting bagi Roslyn High School serta kondisi di mana sekolah yang mereka kelola itu sedang bertumbuh semakin positif, apa jadinya Roslyn High School tanpa kehadiran Frank dan Pam? Dari pertanyaan tersebut Cory Finley coba hadirkan beberapa gesekan lewat konflik yang lebih kecil, sedikit mempermainkan nilai moral untuk sesaat.

Ya, nilai moral dengan menggunakan isu bisnis di dalamnya. Namun kembali lagi, tidak ada dramatisasi yang berlebihan di sana, begitupula dengan upaya perlawanan yang tentu saja hadir namun tidak dikembangkan terlalu jauh. Cory Finley tampak mencoba untuk tidak merusak image yang dimiliki karakter utama, menghancurkan “keindahan” positif yang sebenarnya juga dimiliki Frank dan Pam. Dampaknya cukup siginifikan memang terutama pada kualitas dari hukuman yang mungkin akan terasa kurang menggigit bagi sebagian orang, namun cara yang dipilih oleh Cory Finley justru membuat hasil akhir terasa understated dan membuat semua konflik termasuk proses investigasi yang dilakukan Rachel menjadi satu kemasan yang terasa padat.
Solid dan efektif lebih tepatnya. ‘Bad Education’ berhasil mencapai target utamanya dengan cara yang efektif, namun di sisi lain juga mampu membuat kisah berisikan skandal penggelapan uang tersebut secara mengejutkan meninggalkan kesan hangat bagi penontonnya. I'm not saying it’s heartwarming, namun cara bercerita yang diterapkan oleh Cory Finley justru mampu memproteksi value dari kesuksesan yang pernah diukir oleh karakter utama yang menyandang status “evil” akibat ulah mereka itu. Hal tersebut juga dibantu oleh kualitas emosi yang dihasilkan oleh karakter itu sendiri, di bawah arahan Lyle Vincent kamera konsisten menciptakan komposisi gambar yang padat dan berisi, score dari Michael Abels menyuntikkan nyawa dan tensi ketika dibutuhkan dengan film editing yang mumpuni pula dari Louise Ford.

Tapi dibalik pencapaian di bagian teknis tersebut yang akan menjadi hal paling memorable dari ‘Bad Education’ adalah bagaimana ini menjadi acting showcase bagi Hugh Jackman (The Wolverine, LesMis√©rables, Prisoners, Logan), Frank ia bentuk menjadi sosok yang memiliki pesona seorang pemimpin pintar dan dapat diandalkan, namun di sisi lain ia juga menampilkan gejolak emosi yang terasa padat ketika Frank berurusan dengan kasus utama. Yes, the best work of his career so far. Sementara itu Allison Janney (I, Tonya; Bombshell) kembali membuktikan ia seorang aktris yang dapat memaksimalkan setiap kesempatan yang ia punya, membuat karakternya memorable tidak peduli sekecil apapun porsinya. Di belakang mereka berdua ada dua nama lain yang juga sukses mencuri atensi besar, yaitu Geraldine Viswanathan dan Ray Romano.
Overall, ‘Bad Education’ adalah film yang memuaskan. Oh, last but not least, di balik crime story yang sedikit dark itu Cory Finley berhasil menyeimbangkan drama dengan komedi dalam takaran yang sangat manis, menjadi kompatriot bagi upaya investigasi dan penyelesaian masalah. Sejak awal hingga akhir tidak pernah terasa overplayed, dan mungkin juga akan dikenang sebagai salah satu kinerja akting terbaik dari seorang Hugh Jackman, ‘Bad Education’ berhasil mempresentasikan kasus yang menyandang status the largest school theft in American history itu dengan cara yang lembut dan efektif, berisikan sebuah proses penghakiman yang terasa bermartabat.









1 comment :

  1. “We're gonna get through this and you're gonna land on your feet.” :)

    ReplyDelete