02 March 2020

Movie Review: The Invisible Man (2020)



“I’m not crazy.”

Memang, ketika seseorang melihat hantu ia mungkin akan berteriak, lari, atau bahkan mungkin pingsan setelahnya. Trauma yang tersisa mungkin besar, namun coba bayangkan jika yang terjadi sebelum itu adalah sebuah terror penuh ketidakpastian, kondisi di mana kamu merasakan ada “seseorang” yang sedang berdiri di sudut ruangan namun tidak terlihat, ada di belakangmu namun ketika kamu menoleh tidak ada siapa-siapa di sana. Yes, because what you can’t see can hurt you. The Invisible Man: a very smart horror.

Di suatu malam wanita bernama Cecilia Kass (Elisabeth Moss) beranjak dari tempat tidurnya, bergerak perlahan menjauh dari tempat tidur tersebut Cecilia mencoba memanggil namanya kekasihnya, Adrian Griffin (Oliver Jackson-Cohen). Rupanya hal tersebut merupakan upaya Cecilia untuk memastikan bahwa Adrian telah tidur pulas. Dengan langkah penuh waspada Cecilia mencoba mengatur posisi kamera CCTV yang dapat ia cek langsung dari handphone dan kemudian mematikan semua alarm di kediaman mereka. Cecilia mencoba melarikan diri dari Adrian!

Dibantu oleh saudarinya, Emily Kass (Harriet Dyer), Cecilia kemudian menetap di kediaman teman masa kecil mereka, James Lanier (Aldis Hodge) yang tinggal bersama putrinya Sydney (Storm Reid). Yang menjadi masalah adalah meskipun telah diyakinkan oleh James dan Emily bahwa kekasihnya yang kasar itu tidak dapat melacak lokasi di mana ia kini berada, Cecilia tetap dihantui rasa cemas. Cecilia percaya bahwa Adrian yang merupakan seorang scientist itu punya kemampuan untuk menemukannya, sekalipun jika Adrian telah mati.
Sutradara Leigh Whannell (Insidious, Insidious: Chapter 2, Insidious: Chapter 3) berhasil menyajikan bagian pembuka yang dapat dikatakan merupakan salah satu yang terbaik dari berbagai film horror dalam satu dekade ini, sebuah situasi di mana karakter utama Cecilia berhasil mengundang masuk penonton ke dalam upaya melarikan diri. Berbagai adegan disusun dengan ritme yang cantik, dari bagaimana tensi dari situasi tersebut hingga keberhasilan menciptakan pertanyaan utama di bagian awal yang terasa kuat, yaitu apa yang sedang terjadi? Ya, kunci penting dari cerita ditampilkan sekilas, namun dari bagian pembuka tersebut impresi yang tercipta adalah Cecilia tampak sedang berada di dalam sebuah bahaya besar, apa penyebabnya?

Tidak jauh dari titik tersebut Leigh Whannell memang langsung memberikan jawaban, ia tidak menggunakan hal tersebut untuk bermain-main terlalu lama di dalam cerita yang merupakan remake dari film berjudul sama rilisan tahun 1933 karya James Whale. Kita langsung tahu bahwa Adrian adalah sumber “kekacauan” emosi yang sedang Cecilia hadapi dan ketika momen tersebut muncul Leigh Whannell dengan cermat memberikan kesempatan bagi Cecilia untuk bermain dengan paranoia. Begitupula penonton, trauma Cecilia diekplorasi dengan baik, kita perlahan dibawa masuk oleh Leigh Whannell ke dalam situasi Cecilia yang diselimuti rasa waspada karena Adrian dapat muncul kapan saja. Hingga sebuah kejutan dari kondisi Adrian muncul.
Sederhananya, Adrian tidak dapat lagi “mengganggu” Cecilia secara fisik, lalu siapa sosok asing yang masih mengganggu Cecilia kini? Leigh Whannell mulai membawa konflik naik satu tingkat lebih tinggi, pondasi emosi yang telah terbentuk dengan sangat baik itu kemudian dikembangkan dengan kemunculan berbagai hal aneh yang mengasyikkan. Ada tahap “persiapan” yang dibentuk Leigh Whannell dengan baik di sini, berbagai macam “hal aneh” yang mencoba menggoda dan memberi tahu penonton bahwa apa yang Cecilia rasakan itu benar, bahwa ada sosok "tidak terlihat" yang sedang mengintai karakter utama kita, dari momen menggunakan pisau di dapur itu hingga pengungkapan besar menggunakan selimut.

‘The Invisible Man’ secara konsisten mampu membuat penonton merasa terlibat di dalam masalah yang dihadapi oleh Cecilia, dari rasa takut dan paranoia kita dapat merasakan kondisi putus asa yang perlahan mulai menghampiri Cecilia. Kondisi yang dikemas dengan baik sehingga terasa "real" itu merupakan kunci bagi kesuksesan terror yang kemudian muncul dari sosok yang tidak terlihat itu, bukan hanya Cecilia namun penonton seolah ikut merasakan situasi terisolasi, kondisi yang dipenuhi kekosongan sehingga membuat kesunyian terasa menakutkan. Alhasil, berbagai momen yang mencoba “mengejutkan” penonton berhasil bekerja dengan baik, bahkan pesan singkat berisikan kata “surprise” itu saja sukses membuat merinding.
Di sisi lain ‘The Invisible Man’ juga berhasil menjadi presentasi bagaimana efek yang di alami korban perlakuan kejam, dari trauma, rasa sakit, hingga putus asa, mereka dieksplorasi dengan baik oleh Leigh Whannell. Ada perpaduan rasa iba pada Cecilia, namun penonton juga merasa tegang dengan kondisi “terjebak” yang ia hadapi, bagaimana semua tampak sulit baginya. Dan penonton telah diberi tahu bahwa kekerasan akan menghampiri Cecilia tidak heran setiap kali kamera bergerak ke area kosong tanpa karakter manusia ada kesan sosok tidak terlihat yang sedang berdiri di sana. Itu adalah taktik menakut-nakuti yang dieksekusi dengan baik, gambar sukses mempermainkan perspektif karakter di layar.

Hal terakhir tadi adalah pencapaian yang tidak mudah dilakukan untuk menciptakan ketegangan dengan cara yang terasa subtle, yang kemudian didampingi dengan berbagai kejutan yang tajam. Special mention adalah score dari Benjamin Wallfisch (Lights Out, Hidden Figures, Annabelle: Creation, Blade Runner 2049, Shazam!) yang menjadi salah satu nyawa kegelisahan di dalam cerita, di samping tentu saja kinerja akting dari Elizabeth Moss (Queen of Earth, The Handmaid's Tale, Us). Ini adalah very strong performance dari Elizabeth Moss, emosi yang ia tampilkan terasa kuat sejak awal hingga akhir, ekspresi wajah yang ia tunjukkan terasa sangat konkret, dan ia mampu membuat dua sisi dari Cecilia terasa menarik: Cecilia yang rapuh dan menderita serta Cecilia yang tangguh dan siap mengalahkan musuhnya.
Overall, ‘The Invisible Man’ adalah film yang memuaskan. Endingnya mungkin tidak untuk semua orang, namun proses atau perjalan yang dihadirkan Leigh Whannell untuk mencapai garis finish tersebut merupakan sajian yang mengasyikkan. Eksploitasi dan manipulasi dari berbagai taktik menakut-nakuti klasik yang dikemas secara efektif, kombinasi psychotic dan paranoia yang tampil tajam dalam bentuk sederhana, dibantu dengan kinerja akting yang mumpuni terutama very strong performance from Elizabeth Moss, ‘The Invisible Man’ sukses menjadi shocker yang pintar, perpaduan horror, mystery, dan sci-fi penuh dengan ketegangan, kegelisahan, dan tentu berbagai kejutan yang menyenangkan.










1 comment :

  1. Wherever you go, I’ll be standing right behind you. :)

    ReplyDelete