26 December 2016

Review: Silence (2016)


"I pray but I’m lost. Am I just praying to silence?"

Martin Scorsese merupakan salah satu “finest” director yang pernah dimiliki oleh industri film, dari Raging Bull, kemudian Goodfellas, hingga yang terbaru The Wolf of Wall Street, Scorsese selalu berhasil menunjukkan mengapa ia disebut sebagai seorang “Master”, dia mampu mengolah berbagai materi berbeda menjadi sebuah sajian yang sangat impresif dan berjenis “tidak untuk dilupakan”. Lewat film terbarunya ini, Silence, Martin Scorsese kembali sukses meneruskan pencapaiannya itu, not only poignant and engrossing this one is one of the best cinematic experience from Martin Scorsese.

Pada abad ke 17 dua Jesuit priests bernama Sebastião Rodrigues (Andrew Garfield) dan Francisco Garrpe (Adam Driver) melakukan perjalan ke Jepang. Misi mereka tidak hanya untuk menyebarkan agama Katolik saja namun juga untuk mencari mentor mereka, Father Cristóvão Ferreira (Liam Neeson), seorang imam yang dikabarkan telah murtad setelah disiksa. Rodrigues dan Garrpe sadar bahwa misi yang mereka lakukan berbahaya karena pada saat itu Jepang sedang gencar menyiksa orang-orang Katolik.  


Sinopsis di atas terasa “segmented”, right? Memang demikian namun bukan berarti materi yang terasa segmented itu tidak bisa diolah menjadi sajian yang tidak segmented. Namun harus diakui itu tidak dilakukan oleh Martin Scorsese di sini, Silence merupakan sebuah cinematic experience yang terasa cukup segmented. Silence seperti sebuah karya yang “personal” dari Scorsese, sebuah proyek yang ambisius dengan passion yang terasa memikat. Materi yang digunakan memang berisikan agama tapi di sini Scorsese bukan mencoba membuat versi kedua dari ‘The Last Temptation of Christ’, di sini dia mencoba untuk mencoba untuk mendorong “batasan”. Scorsese hadirkan sebuah pondasi yang oke, dia bentuk soul yang menarik terhadap karakter dan juga konflik, lalu kemudian dari sana kisah yang menaruh fokus pada justice and faith ini mencoba membuat para penontonnya secara “quite enough” merasakan putus asa yang ‘Silence’ punya. 


Overall it’s a bit quite tapi justru terdapat berbagai “scream” di dalam ‘Silence’. Pesan yang Scorsese coba hadirkan di sini punya berat yang oke sehingga dia menjadi jangkar dari berbagai pertanyaan yang kemudian muncul. Terdapat berbagai pertanyaan yang muncul dari Silence dan jika harus sedikit spoiler not all of them akan terasa “clear” di bagian akhir. Tapi menariknya adalah kamu akan tertarik untuk mencoba searching jawaban dari pertanyaan tadi. Sounds like ‘Silence’ merupakan sebuah film provokatif? No, meskipun mengandung materi agama di dalam cerita Silence dibentuk Scorsese untuk terasa universal (karena kita tahu bahwa agama yang baik selalu mengajarkan pemeluknya berbuat baik, right?), hanya saja presentasi yang ia tampilkan memang terasa segmented. Silence seperti mencoba untuk “memanaskan” kamu terhadap isu justice and faith tadi di dalam ruang yang sejak awal telah coba ia ciptakan agar terasa sangat luas dan lega.  


Apa yang membuat ‘Silence’ berhasil membuat tema yang ia bawa terasa segar adalah ini tidak mencoba untuk menjadi sebuah pertunjukkan yang menunjukkan siapa yang benar dan siapa yang salah, memang ada penderitaan di dalam cerita tapi misery tidak menjadi kunci. Scorsese mencoba membuat penonton mempertanyakan pertanyaan yang ia ciptakan tidak hanya secara implisit saja bahkan itu juga hadir lewat apa yang kamu lihat di layar. Berjalan slow dengan pace yang stabil Scorsese memahat dengan baik script yang ia tulis bersama Jay Cocks dan mengambil dasar dari novel berjudul ‘Silence’ karya Shūsaku Endō itu. Silence di satu bagian tampak sederhana tapi di bagian lain akan terasa rumit, dua bagian itu selalu hadir dengan complexity yang oke. Ini merupakan sebuah examination yang mungkin akan tampak simple tapi dengan tidak lupa membuat cerita agar tetap memiliki kesan casual Scorsese berhasil mengemas kesan simple tadi bersama feeling dari penonton bahwa ini akan bergerak menuju sesuatu yang menarik. 


Paruh pertama harus diakui punya kesan misterius yang terasa besar, Scorsese mencoba untuk tidak membuatnya mereka “clear” agar kemudian dapat menghadirkan kejutan. Fokus kamu akan tertuju pada Rodrigues dan dari sana kekuatan yang Silence punya perlahan bertumbuh. Cerita kemudian berisikan berbagai pertanyaan yang didominasi oleh “why?” tapi uniknya mereka tidak terasa saling tumpeng tindih dan terasa repetitif kemunculannya karena Scorsese membuat experience ketika menyaksikan Silence seperti experience saat sedang menjelajahi sebuah hutan yang tidak kamu kenal, arahnya tidak jelas tapi terdapat kompas yang membuat kamu yakin akan bertemu dengan sesuatu yang menarik di destinasi akhir. Itu yang film ini berikan kepada penonton bersama dengan berbagai torture dan fear di dalam cerita, meskipun berjalan perlahan tapi mereka tampil dengan groove yang oke sama seperti apa yang dilakukan oleh bagian teknis. 


Bagian teknis film ini terasa mastery, dari cinematography dan score yang berhasil tampil ekspresif serta membuat kamu menangkap pesan tentang faith itu hingga editing yang terampil dalam membuat komposisi cerita terasa composed sehingga kamu dapat merasakan “berat” yang terkandung di dalam cerita. Hal tersebut juga berhasil dilakukan oleh para aktor. Andrew Garfield memberikan performa akting yang memikat sebagai Rodrigues, cara dia menunjukkan kondisi di mana faith yang Rodrigues pegang secara menghadapi cobaan terasa oke. Di sisi lain ada Adam Driver yang menampilkan doubt dan kesan vulnerable yang oke, dia seperti mata bagi penonton di dalam cerita. Such a good year untuk Andrew dan juga Adam. And yes, Liam Neeson tampil oke di sini sebagai pria yang mencoba berdamai dengan faith dan rasa ragu. Tapi yang paling memorable dari Silence di bagian akting adalah Issey Ogata, berhasil mencuri setiap scene di mana ia muncul lewat sebuah performa sebagai nemesis yang terasa vivid


Sama seperti yang saya rasakan ketika selesai menyaksikan ‘The Wolf of Wall Street’ kali ini dengan menggunakan ‘Silence’ Scorsese kembali berhasil membuat saya terkejut, sebuah philosophical film yang berhasil tampil thoughtful namun juga thrilling. Scorsese berhasil menghadirkan scream lewat silence di sini, samurai tidak menjadi fokus utama melainkan internal struggle yang dihadapi oleh karakter. Silence merupakan penggambaran tentang faith dan justice dengan menggunakan fakta bahwa approach terhadap agama tidak selalu sama pada setiap manusia, sebuah examinations yang dikemas secara poignant and engrossing oleh Martin Scorsese. Segmented.










0 komentar :

Post a Comment