05 September 2016

Review: Sausage Party (2016)


"Look at these big ol’ buns, waiting to get filled with my meat."

Dari Superbad, kemudian Pineapple Express, This Is the End, Neighbors, hingga yang paling menghebohkan ‘The Interview’, mereka punya dalang yang sama di sektor cerita yaitu Seth Rogen dan Evan Goldberg, sosok yang kini kembali mencoba melakukan hal-hal gila dalam bentuk film animasi, Sausage Party. Ide film ini menarik: isi di dalam pikiran berbagai makanan yang terdapat di supermarket ketika mereka berharap untuk dipilih oleh pembeli ternyata tidak seindah yang mereka kira. Memasukkan itu ke dalam konsep bahwa makanan juga dapat berbicara Seth Rogen dan Evan Goldberg berhasil mewujudkan fantasi gila mereka ke dalam sebuah “pesta” makanan khusus orang dewasa. It’s a funny but vulgar and raunchy "adult" party.

Frank (Seth Rogen) merupakan sosis yang sama seperti semua makanan di dalam supermarket berharap untuk dipilih oleh pembeli yang mereka sebut sebagai the gods yang akan membawa mereka menuju surga yang mereka sebut "the great beyond". Frank juga berharap agar ia dipilih bersama dengan Brenda Bunson (Kristen Wiig), roti hot dog yang merupakan pacarnya. Suatu ketika Frank dan Brenda dipilih oleh pembeli namun di saat bersamaan muncul kabar menghebohkan yang berasal dari Honey Mustard (Danny McBride). Dalam kondisi yang masih terguncang Honey Mustard mengatakan bahwa yang sebenarnya terjadi di "the great beyond" merupakan sebuah pembantaian yang menakutkan. 


Sausage Party akan begitu mudah mengingatkan kamu bahwa ini merupakan film yang proses penulisan ceritanya ikut melibatkan Seth Rogen serta Evan Goldberg, dari sinopsis yang sudah terasa aneh bersama dengan Kyle Hunter dan Ariel Shaffir mereka tidak takut untuk menciptakan sebuah petualangan yang ekstrim, sebuah film animasi yang mungkin akan sulit untuk penonton lupakan. Ceritanya tidak special tapi konsep yang digunakan tetap mampu membuat berbagai hal liar terkait makanan itu tidak jatuh menjadi terasa menjemukan, terus menjual aksi ekstrim dengan berbagai gags yang tumpah dan melimpah. Dari dirty jokes yang “unik” hingga berbagai suntikan pop culture seperti toleransi, budaya konsumtif, hingga humor menyangkut agama, inti utama yang dimiliki ‘Sausage Party’ di balik segala kekacauan itu sangat sederhana: seks. 


Menyandang status sebagai “the first CGI-animated film to be rated R by the MPAA” film ini menggunakan berbagai materi terkait seks sebagai jualan utamanya, dari yang tersirat hingga yang frontal. Tapi itu yang membuat ‘Sausage Party’ dapat bernafas dengan baik hingga akhir, ketika berurusan dengan humor dua sutradara Conrad Vernon dan Greg Tiernan cukup oke membuat materi at least mencapai target. Tidak semua humor terasa sangat lucu tapi setidaknya mampu menggelitik, dari yang menggunakan bahasa kotor hingga hal-hal terkait seksual, kesan cheeky yang dimiliki ‘Sausage Party’ tidak pernah luntur meskipun sayangnya pesona jenaka serta nakal karakter dan juga cerita tidak semenarik di bagian awal. Itu karena sistem yang film ini punya adalah terus menjejalkan komedi untuk penonton nikmati, mereka terasa sesak dan karena sejak awalnya bersifat hit or miss kualitas elemen ini jadi tidak maksimal. 


Itu juga terjadi di cerita yang pada dasarnya tipis meskipun mencoba berbicara tentang berbagai hal seperti rencana balas dendam misalnya. Di babak pertama petualangan Frank dan teman-temannya terasa menyenangkan tapi di babak kedua mereka tampak kelelahan ketika cerita mulai berputar di dalam lingkaran. Niat awal untuk membuat para makanan itu merayakan “kehidupan” yang mereka miliki tidak tercapai dengan sangat baik, mereka stuck di dalam sebuah pesta yang berisikan aksi menghakimi penuh kebencian, dari agama hingga ras seperti yang terjadi antara karakter Arab dan Jewish itu. Beberapa dari humor masih terasa menggelitik ketika cerita telah stuck tapi daya tarik mereka tidak lagi kuat, beberapa terasa klise meskipun berhasil selamat sampai tujuan. Hal tersebut banyak dibantu oleh voice actors yang menyuntikkan energi yang oke bagi karakter meskipun mereka tidak lagi terasa begitu engaging. Warna-warni visual juga cukup oke sama seperti score yang berhasil menciptakan perasaan riang yang oke. 


Membawa sebuah ide yang cukup ambisius ‘Sausage Party’ berhasil dieksekusi dengan cukup baik oleh Conrad Vernon dan Greg Tiernan meskipun kualitas yang ia ditampilkan di semua bagian terasa tidak merata. Bermain dengan umpatan serta hal-hal terkait seksual bersama ide tentang “I'd do anything for love”, ‘Sausage Party’ memiliki momen di mana ia tampak kelelahan, kehabisan ide segar sehingga terasa repetitif, namun dibantu oleh kinerja pengisi suara yang oke aksi nakal dan cabul yang dilakukan oleh para makanan itu berhasil menghadirkan semangat atau energi yang tetap terasa cukup oke sehingga ‘Sausage Party’ terasa cukup menyenangkan untuk diikuti hingga akhir. Kini berbelanja di supermarket tidak akan lagi terasa sama. Segmented.










INDONESIA  ENGLISH

0 komentar :

Post a Comment