07 April 2016

Review: I Saw the Light (2016)


"Boy, I'm a professional at making a mess of things."

Dianggap sebagai salah satu penyanyi dan penulis lagu Amerika yang paling berpengaruh di abad ke-20 Hank Williams tentu meninggalkan sebuah cerita menarik meskipun ia meninggal dunia di usia yang terhitung muda, 29 tahun. Fakta tersebut sesungguhnya merupakan sebuah keuntungan bagi film ini karena dengan begitu ia memiliki materi atau sesuatu yang “menarik” untuk diceritakan. Namun pria yang berada dibalik eksistensi The Last Exorcism, Dawn of the Dead, Children of Men, dan RoboCop ternyata memiliki visi yang sedikit berbeda untuk mengolah materi tadi, sehingga alih-alih menjadi sebuah biopic tentang musik I Saw the Light menjadi biografi yang terlalu terobsesi pada hal yang berbeda.

Hank Williams (Tom Hiddleston) memiliki impian untuk tampil di Nashville Grand Ole Opry, dan untuk mencapai keinginan tersebut ia mencoba membangun “image” sebagai penyanyi music country. Dengan dukungan sang istri Audrey (Elizabeth Olsen) serta ibunya Lillie (Cherry Jones) Hank mulai mengisi acara di sebuah stasiun radio lokal, dan perlahan karirnya mulai menanjak naik. Namun sayangnya Hank menderita sakit kronis di punggungnya dan mulai tenggelam dalam alkohol, kecanduan dan mulai bertemu dengan berbagai masalah lain di luar musik dengan masalah terbesar berasal dari wanita bernama Billie Jean (Maddie Hasson).



Secara struktur tidak ada hal menarik yang membedakan I Saw the Light dengan film-film biografi lainnya, terutama yang bercerita tentang musik. Sang sutradara, Marc Abraham, pada awalnya terhitung berhasil menciptakan dunia Hank, tokoh sentral dengan cepat berdiri di pusat dan yang terpenting adalah ia mampu membuat penonton penasaran tokoh seperti apa itu Hank Williams? Ambisi Hank berhasil menarik perhatian dan beberapa unsur lain seperti asmara misalnya juga mampu membuat penonton menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi bukankah tugas film biografi lebih dari sekedar menjawab pertanyaan? Ia harus membuat kehidupan tokoh utama tampak nyata dan terasa menarik untuk diikuti, dan film ini kurang mampu melakukan hal tersebut.



Bicara masalah di dalam cerita memang tidak buruk, sinopsis tadi tampak sederhana tapi di dalamnya sebenarnya banyak konflik lain yang membuat cerita jadi kompleks, dari alkohol, keuangan (?), pernikahan, hingga musik. Sayangnya hal terakhir tadi, musik, yang seharusnya menjadi duduk masalah utama di sini justru terasa seperti pelengkap saja, penggambarannya bahkan terasa dangkal. Dan semakin lengkap karena Marc Abraham tidak hanya gagal menjadikan musik di dalam kehidupan Hank Williams terasa menarik tapi ia juga tidak mampu membuat niat utamanya tampak menarik. Niat utama film ini sederhana, ia ingin memberikan kamu perjuangan hidup seorang musisi yang tidak hanya harus berhadapan dengan masalah di bidang musik saja.



Memang tidak salah memilih untuk fokus pada hal lain di luar prestasi tokoh utama tapi sayangnya berbagai masalah di luar musik tadi juga hadir dengan kualitas yang, well, terlalu biasa. Terlalu banyak materi yang diberikan kepada Hank dan ia harus membuat itu semua bergerak dengan berusaha meyakinkan penonton bahwa kehidupannya yang bermasalah terasa membosankan. Eksplorasi suram terhadap Hank bukan hal yang tidak tepat tapi pendekatan Abraham yang kurang tepat. Ia seharusnya membuat karakter Hank benar-benar kokoh tampak sebagai sosok yang menarik sehingga ada pesona dan membuat penonton menaruh simpati pada kejatuhan yang ia alami. Di sini tidak, semua seperti magic, tidak ada pendekatan yang intim dan menjadi alasan mengapa banyak orang menyukai Hank, informasi tentang kejeniusan yang Hank miliki di bidang musik juga minim sehingga obsesinya untuk sukses perlahan terasa monoton.



Itu dia penyebab mengapa I Saw the Light terasa hambar, Marc Abraham terlalu sibuk menciptaka kronologi perjalanan hidup karakter tapi tidak sanggup mempertahankan alasan di awal mengapa Hank merupakan sosok yang menarik. Tidak heran ketika film ini selesai image yang tercipta di pikiran saya Hank merupakan pria bodoh yang salah arah, bukan seorang jenius yang merasa sengsara dalam hidupnya, tidak peduli seberapa kuat Tom Hiddleston coba meyakinkan penontonnya. Hiddleston berhasil menampilkan “feel” yang menarik bagi karakter Hank tapi sayangnya seiring dengan tidak menariknya cara script berjalan pesona Hank juga perlahan berkurang. Pemeran pendukung juga sama, Elizabeth Olsen dan Cherry Jones punya beberapa momen kuat tapi daya tarik terhadap karakter mereka juga perlahan memudar.



I Saw the Light menggunakan cerita hidup yang menyedihkan ketimbang menelisik kegemilangan sosok Hank Williams di dunia musik, tapi sayangnya ia terlalu terobsesi pada menggambarkan kronologi dan lupa untuk memoles pesona karakter beserta masalahnya. Penonton hanya penasaran dan menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya pada Hank namun tidak pernah ditarik lebih jauh untuk menaruh simpati dan peduli, merasa karakter sebagai sosok yang nyata, dan yang terpenting mengagumi apa yang ia hasilkan selama hidupnya. Hal paling menarik dari film ini adalah kinerja akting yang banyak membantu cerita bertahan hidup di durasinya yang panjang, namun selebihnya merupakan sebuah presentasi yang hambar. Disjointed dan terasa seperti sebuah fiksi.
















Thanks to: rory pinem

1 comment :

  1. Nice blog, i like how you write it down! the information very helpful.
    Buat yang ingin ngedapetin jackpot harian dengan deposit yang kecil, Silahkan mampir ke Kapal Togel Kapal Togel atau http://206.189.34.95 Bonus harian dan bonus pasangan terbesar di pasaran saat ini.
    atau klik jaring angka untuk Live Draw Tercepat dan https://pancingangka.com untuk prediksi togel paling jitu.

    ReplyDelete