12 April 2016

Review: Born to Be Blue (2016)


“I want my life back.”

Bercerita tentang tokoh yang punya karir musik gemilang namun memiliki masa kelam bersama obat-obat terlarang bukan sebuah pekerjaan yang mudah, potensi terburuknya tidak hanya sekedar berakhir klise saja namun juga monoton bahkan terasa ofensif terhadap tokoh nyata. Born to Be Blue tidak berakhir seperti itu, ini berhasil menjadi sebuah kisah tentang kehidupan musisi yang menyedihkan namun berusaha menggunakan sisi kelam tadi untuk menjadi sebuah inspirasi yang terasa segar. Oh, jika Oscars tahun depan ingin “merayakan” kualitas akting di kategori pemeran pria, maka mereka harus mempertimbangkan Ethan Hawke di film ini.

Di tahun 1966, Chet Baker (Ethan Hawke) menerima kunjungan dari seorang sutradara ketika masih berada di penjara yang berniat untuk membuat film tentang hidupnya, terutama masa awal di mana Baker mencoba narkoba. Beberapa bulan kemudian proses syuting dilakukan di Los Angeles di mana Baker mengajak pacarnya Jane (Carmen Ejogo) untuk ikut tampil dalam film tersebut. Namun suatu ketika di saat sedang kencan Baker diserang oleh orang tak dikenal yang mengakibat kerusakan pada gigi bagian depannya. Otot bibir Baker cedera dan ia terancam tidak bisa lagi bermain terompet di atas kelas pemula. 



Menyandang status sebagai sebuah semi-biografi ternyata tidak menghalangi Born to Be Blue untuk mencapai apa yang diimpikan oleh semua film biografi. Memang terdapat beberapa sentuhan fiksi di dalam cerita yang jujur saja jika kamu (termasuk saya) tidak begitu “mengenal” Chet Baker maka akan sulit untuk mengidentifikasi namun di tangan Robert Budreau film ini justru berhasil membuat penonton tertarik kepada karakter utama lengkap dengan rasa simpati pada perjuangan yang ia hadapi. Fokus utama film ini oke sehingga begitu mudah pula untuk cepat mengagumi karakter Chet Baker walaupun ia punya kisah kelam. Pesona Born to Be Blue tidak pernah terasa dipaksakan, sejak awal ia seperti memilih untuk memberi sedikit pemanis yang menghasilkan sensitifitas dan sisi maskulin yang menarik.



Niat film ini sebenarnya tidak sederhana, ada upaya untuk menggabungkan antara musik, drama, dan sedikit romance, tapi semua berakhir padu. Ya kasarnya film ini berhasil melakukan apa yang I Saw the Light gagal lakukan, ia berhasil menciptakan kerumitan dengan obsesi yang menarik diamati dan dirasakan buat penontonnya. Born to Be Blue punya proses yang menarik sehingga perjuangan karakter tidak campur aduk dan juga tidak monoton, Robert Budreau memberi kita sebuah kronologi tapi ia juga tidak lupa memoles pesona karakter bersama dengan pesona dari konflik di cerita. Born to Be Blue menarik kamu untuk merasakan alasan untuk mengagumi Chet Baker sehingga perjuangan yang ia lakukan menarik karena penonton berada di misi yang sama dengan cerita, bahwa Chet Baker merupakan seorang berbakat yang layak untuk bahagia.



Struktur cerita Born to Be Blue juga menarik. Formula yang dipakai klise, standar film biografi, dari segi naskah juga sebenarnya tidak ada yang special sejak sinopsis walaupun tidak sepenuhnya pula terasa tumpul. Lalu apa alasan mengapa Born to Be Blue berhasil tampil sebagai sebuah biografi yang menarik? Ini membuat penonton merasakan apa yang Chet Baker rasakan, tidak peduli apakah mereka pernah atau tidak mengalami apa yang pernah Baker alami. Alih-alih menjadi sebuah drama biografi yang niatnya hanya ingin “bercerita” tentang sisi tragis dari kehidupan sang artis Born to Be Blue menggunakan pendekatan di mana penonton seolah berada di samping Chet Baker, memberikan koneksi yang punya sensitifitas begitu asyik sehingga konteks perjuangan Baker terus tumbuh menjadi semakin menarik.



Dan kesuksesan itu tercapai bukan hanya berkat kemampuan Robert Budreau mengolah cerita, kemampuan visual dan soundtrack jazz untuk menciptakan feel yang menarik, namun juga berkat kinerja akting yang mampu menampilkan proses penuh catatan tragis menjadi sebuah perjuangan yang menarik dan mempesona. Ethan Hawke begitu bersinar sebagai Chet Baker. Oscar-worthy? YES. Hawke memberikan performa yang terasa tajam, penyampaian isi dari hati dan pikiran Chet Baker terasa begitu presisi, dari kerapuhan emosi, rasa cemburu, hingga ambisi. Cara ia menangani scene ketika bermain terompet juga begitu meyakinkan sehingga semakin besar keinginan penonton agar karakternya berakhir bahagia. Chemistry Hawke dengan Carmen Ejogo juga menarik, cinta mereka tampilkan dengan lembut namun punya sisi erotis yang tersimpan di dalamnya.



Born to Be Blue berhasil menyajikan kehidupan salah satu musisi jazz ternama kedalam sebuah biografi yang inspiratif dalam bentuk sederhana dan segar. Punya masalah yang menarik, punya pesona yang menarik, Born to Be Blue menggunakan kerapuhan karakter untuk menggambarkan sebuah perjuangan yang menarik emosi penonton bersamanya. Born to Be Blue tidak special namun terasa menarik sejak awal hingga akhir berkat kemampuan Robert Budreau memoles pesona dan masalah agar memiliki sisi sensitif dan sisi maskulin yang berimbang sehingga walaupun menggunakan formula yang klise hasil akhir yang diberikan berhasil meninggalkan kesan yang tidak biasa. Oh, last but not least, di sini Ethan Hawke juara! Segmented.















Thanks to: rory pinem

0 komentar :

Post a Comment