14 February 2016

Review: Nina Forever (2016)


“You’re dead!” | “That doesn't mean we're on a break though, does it?”

Memang cinta itu sesuatu yang sangat berbahaya, jadi tidak heran jika banyak kita temukan orang-orang yang bertindak nekat hanya karena rasa cinta. Contohnya move on, ketika rasa cinta kamu kepada seseorang ternyata akhirnya kandas opsi yang kamu miliki hanya dua, melepasnya atau justru memaksa untuk kembali mendapatkan cintanya. Nina Forever menggunakan hal tersebut sebagai dasar, ditinggal mantan kekasih lalu mencoba untuk membangun kisah cinta yang baru, tapi ternyata sang mantan ingin kembali. Klasik bukan? Tapi bagaimana jika ditampilkan dalam dua dunia yang berbeda, satu manusia, dan satu lagi, hantu. Gross, sexy, dan beautiful, Nina Forever is a bloody lovely and fucked up fairy tale about love.

Setelah kekasihnya Nina (Fiona O'Shaughnessy) tewas dalam sebuah kecelakaan sepeda motor pria bernama Rob (Cian Barry) merasa depresi dan mencoba bunuh diri. Sayangnya usaha Rob tadi gagal, ia kini bekerja di sebuah supermarket, tempat kerja yang kemudian mempertemukan Rob dengan Holly (Abigail Hardingham), rekan kerjanya. Holly memberikan support pada Rob ketika ia sedang berada dalam tahap sulit akibat kematian Nina, hal yang membuat Rob jatuh hati pada Holly. Hubungan mereka telah sampai ke tahap yang lebih serius yaitu, melakukan hubungan seks, tapi dari situ muncul masalah yang mengganggu kisah cinta mereka. Rob punya gairah, Holly juga punya gairah, tapi Nina ternyata juga punya gairah. Setiap kali Rob dan Holly berhubungan seks, Nina muncul. 



Sulit memang menghindar dari penilaian sebuah premis yang konyol setelah membaca sinopsis tadi, hal serupa juga saya rasakan, tapi setelah berkenalan dengan karakter Rob dan Holly hingga akhirnya secara mengejutkan bertemu dengan Nina film ini selalu mampu mencampur aduk banyak rasa di dalam cerita. Rasa bingung selalu menemani senyuman ketika menyaksikan Nina Forever terus dibawa untuk tumbuh secara mantap oleh Ben Blaine dan Chris Blaine, dasarnya memang sebuah horror yang dibalut dengan komedi tapi entah mengapa Nina Forever perlahan namun pasti justru akan membuat kamu merasa meragu film ini sebenarnya ingin menjadi sebuah sajian seperti apa.



Bukan, rasa bingung tadi tidak hadir dalam konteks buruk namun justru sebaliknya. Dalam debut mereka ini Ben Blaine dan Chris Blaine sangat berhasil menanamkan dasar horror di dalam cerita, kisah tentang kekasih yang “kembali” setelah kini berada di alam yang berbeda dengan mantan kekasihnya itu bukan hanya sukses membuat penonton mengernyitkan dahi tapi juga mengundang rasa penasaran. Mengapa? Sederhana, karena Nina datang ketika Rob dan Holly sedang berhubungan seks. Ya, seks di sini tidak hanya digunakan sebagai pemanis belaka tapi justru menciptakan arena bagi banyak lelucon yang berhasil hit dengan pas, dan itu unik karena cerita sendiri seperti terus teguh untuk mencoba kamu menilainya sebagai kisah yang tidak mencoba tampil lucu.



Unsur duka tetap jadi bahan utama, tapi penonton juga ditemani rasa suka. Pahit dan manis itu bercampur dengan baik ditemani soundtrack yang oke, Ben Blaine dan Chris Blaine mempengaruhi penonton di setiap bagian, editing manis dengan mondar-mandir dibakar lambat dengan gerak variasi scene yang tampil liar berhasil menciptakan impresi aneh dan lucu namun di sisi lain eksis pula drama dengan isi yang lebih kompleks. Nina Forever juga berhasil menjadi sebuah kisah cinta yang menawan, dan di bagian ini kamu tidak hanya mengamati namun ikut merasakan. Nina memang karakter aneh namun kedatangannya justru berhasil mewakili sisi gelap cinta dengan pas, sebuah proses melepaskan berisikan kesedihan dan kehilangan lengkap dengan obsesi yang berlebihan dan kekacauan emosional.



Benar, selain terus tersenyum bersama horror Nina Forever juga mencoba menjadi sebuah studi karakter, dan itu berhasil. Drama sukses menawan karena penggambaran kesedihan terutama beban emosi terasa begitu nyata, terdapat sisi gelap cinta dibalik kekerasan yang feminim. Perlahan ini berubah menjadi observasi tentang cinta ditemani horror dan komedi lengkap dengan gore dan erotisme yang pas. Kombinasi yang terasa absurd itu juga sukses berkat kemampuan cast dalam menarik perhatian, simpati, bahkan empati penonton. Cian Barry dikunci untuk mengendalikan sensitivitas cerita, dan dua pemeran wanita menjadi penggerak. Abigail Hardingham memegang jangkar emosi, tekanan yang Holly miliki menjadikan makna cinta begitu kuat. Dan Fiona O'Shaughnessy merupakan aktris wanita terbaik di film horror sejak Essie Davis di The Babadook.



Nina Forever adalah sebuah fucked up fairy tale, campur aduk berbagai genre yang dikemas dengan berani dan tertata rapi oleh Ben Blaine dan Chris Blaine. Awalnya horror, lalu komedi, lalu drama berbasis character study, hingga akhirnya meninggalkan kamu dengan feel romance yang begitu nyata dan memikat, Ben Blaine dan Chris Blaine tidak takut untuk mendorong elemen drama karena mereka juga sukses menjaga horror dan komedi tetap ringan namun padat. Di satu bagian ia memberikan kisah yang pahit, di satu bagian ia akan membuatmu tertawa, namun di bagian lain ia akan membuat heartbreaking. Memang absurd namun hal tersebut yang menjadikan Nina Forever mempesona, berawal dari sinopsis aneh lalu kemudian menolak untuk hanya berdiri di satu genre dan bergerak halus dengan penuh percaya diri, duka terus bergerak namun rasa segar terus eksis menemani. Pahit, manis, lucu, sedih, tulus, segar, hingga heartbreaking, Nina Forever merupakan sebuah kejutan sangat manis untuk genre horror komedi. Segmented. 











Thanks to: rory pinem

5 comments :

  1. agak bermasalah di ending nya.kan holly tdk bercinta dgn rob tapi dgn orang lain tapi kok si Nina tetap muncul..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah sudah lupa mas. Nanti akan coba saya tonton ulang. :)

      Delete
    2. ok bro.Ntar kasih tahu penjelasan nya kalu sdh nonton lagi..

      Delete
  2. Iya ini agak ngebingungin. Kenaoq si nina terus ngehantuin holly...

    ReplyDelete