20 December 2015

Review: In The Heart Of The Sea (2015)


"The tragedy of the Essex is the story of men. And a Demon."

In the Heart of the Sea merupakan sebuah film yang mengejutkan, dan sumbernya adalah sang sutradara Ron Howard. Salah satu keahlian dari Ron Howard sebagai seorang sutradara adalah ia akan membawa kamu sebagai penonton untuk tidak hanya sebatas berkenalan dan tahu terhadap konflik dan karakter, kamu dibawa masuk kedalam cerita dan merasa dekat dengan karakter, paham dengan taruhan dari konflik dan semakin menarik karena merasa ikut terjebak bersama karakter di dalam konflik. Hal positif tadi menjadi sumber dari kejutan yang diberikan oleh film ini, maksi di aksi, mini di hati.

Pada tahun 1850, Herman Melville (Ben Whishaw) datang kepada Thomas Nickerson (Brendan Gleeson) yang setuju untuk berbagi cerita ketika ia menjadi salah satu yang selamat dari perburuan paus yang dilakukan kapal Essex. Kala itu Nickerson merupakan anggota baru awak kapal yang berada di bawah pimpinan Owen Chase (Chris Hemsworth). Chase diminta membawa berlayar Essex untuk pertama kalinya dengan janji bonus besar jika ia berhasil membawa minyak paus dalam jumlah yang diminta. Namun ada satu syarat, Chase bukan pemimpin tertinggi dalam ekspedisi tersebut, ia berada di bawah pimpinan Kapten George Pollard, Jr. (Benjamin Walker), yang menjadi awal mula masalah besar. 



Hasil yang diberikan oleh In the Heart of the Sea meninggalkan misteri tersendiri bagi saya, karena dengan jadwal rilis di awal tahun namun kemudian mundur menjadi akhir tahun yang berada di masa awards season selalu menciptakan kesan bahwa ada sesuatu yang menjanjikan darinya. Secara teknis ini manis, Ron Howard berhasil menyajikan sebuah petualangan yang oke baik itu dari sinematografi hingga visual efek yang mampu menciptakan ketegangan mengasyikkan ketika momen perburuan hadir, tapi ada masalah besar di dalam In the Heart of the Sea yang lucunya menciptakan kontradiksi menggelitik jika melihat judul yang ia gunakan. Apa? Film ini tidak punya hati! Seperti itu sederhananya.



Ibarat menerjemahkan dari satu bahasa menuju bahasa lain, film ini seperti google translate ketika ia pertama kali muncul dahulu: makna mungkin dapat dimengerti tapi susunan kalimat terasa kaku. Sulit untuk memiliki koneksi dengan cerita dan karakter, hal yang sebenarnya merupakan sesuatu yang penting dari tipe film seperti ini. In the Heart of the Sea gagal menciptakan jalinan emosi antara karakter, cerita, dan penonton, pada awalnya baik, bagaimana masalah yang dihadapi oleh Chase membuat saya menaruh simpati, perpisahan dengan istrinya juga dikemas dengan baik. Tapi setelah itu adalah sebuah drama stereotip yang monoton, sebuah drama yang ingin menerjemahkan semangat pantang menyerah namun kurang berhasil memolesnya sehingga terasa keruh dan seperti karakter, terjebak di lautan luas.



Sepintas hal tadi memang tampak sepele, namun dengan durasi sebesar 121 menit In the Heart of the Sea tidak pernah berhasil menarik penonton untuk terikat kuat dengan perjuangan Chase dan timnya. Ketika melakukan perburuan semuanya terasa manis terutama pada permainan sudut pengambilan gambar yang sangat oke, tapi ketika itu berlalu yang kita peroleh adalah mode menunggu. Saya juga tidak habis pikir bagaimana caranya Ron Howard gagal memanfaatkan karakter Herman Melville dan Thomas Nickerson untuk membantu mendongkrak daya tarik cerita, porsi yang mereka miliki terasa terlalu biasa. Begitupula dengan perputaran pov, cerita berasal dari sudut pandang Nickerson muda (Tom Holland) sehingga yang terjadi di luarnya terasa hambar, termasuk tik-tok menjemukan antara Chase dan Pollard.



Pada akhirnya kesan yang dihasilkan oleh In the Heart of the Sea adalah sebuah kebingungan narasi yang tidak mampu menjaga sensasi. Ron Howard tidak menyediakan jalinan yang kuat untuk menghubungkan penonton dengan karakter dan juga cerita sehingga petualangan Essex tidak menciptakan pukulan emosi dan hati yang mumpuni, senjata krusial dari sebuah kisah bertahan hidup. Sisi action sangat oke tapi di sampingnya eksis drama yang monoton, drama berisikan kesengsaraan yang senang berlama-lama meskipun sadar ia punya nyawa yang tipis. In The Heart of the Sea seharusnya spektakuler, punya potensi untuk menjadi kombinasi antara Kon-Tiki dan Life of Pi, tapi akibat fokus yang lemah serta kedalaman yang dangkal baik itu pada karakter dan cerita hasilnya sebuah petualangan di tengah laut yang kesulitan bernafas.















Thanks to: rory pinem

2 comments :

  1. saya kira saya saja merasakan hal itu saat nonton film ini.
    tadi nya saya mengira ikan paus yg besar itu bakal tertangkap tpi yg ada hanya pertahan hidup utk kembali pulang..
    juga pas menit2 terakhir pas mereka terpaksa menjadi kanibal utk bertahan hidup terasa hampa memang benar tdk ada emosi yg seharua nya di hadirkan pas scane itu..kalo ada interaksi yg memisah menbuat penonton peduli pada nasib tokoh pasti bakal bagus dan menyentuh.
    tpi dari sisi gambar bagus apa lagi saat proses serangan paus itu

    ReplyDelete