29 December 2015

Review: Concussion (2015)


"Repetitive head trauma chokes the brain! And turns man into something else."

Concussion ini seperti seorang karyawan yang suatu ketika menemukan “noda” di tempat kerjanya yang dapat ia gunakan untuk naik ke jabatan yang jauh lebih tinggi, namun bukan bukannya memilih memanfaatkan keuntungan tersebut semaksimal mungkin ia pada akhirnya justru memilih kembali merahasiakan noda tersebut setelah puas dengan negosiasi dari pihak yang menciptakan noda tadi. Punya potensi yang menarik Concussion adalah sebuah provokasi tanpa touchdown.

Pada tahun 2002, Dr. Bennet Omalu (Will Smith) yang merupakan ahli saraf forensik terkemuka di Pittsburgh diminta untuk melakukan otopsi pada jenazah Mike Webster, center player di Pittsburgh Steelers. Omalu menemukan kerusakan pada otak Webster, ia yakin Webster meninggal dunia di karenakan disorder Chronic Traumatic Encephalopathy (CTE) yang merupakan dampak kumulatif akibat benturan yang sering Webster alami ketika masih aktif menjadi pemain. Dengan bantuan mantan dokter tim Stellers, Dr. Julian Bailes (Alec Baldwin), neourologist Dr. Steven DeKosky (Eddie Marsan), dan coroner Dr. Cyril Wecht (Albert Brooks), Omalu menerbitkan makalah terkait temuannya tersebut meskipun tetap dibantah oleh NFL.



Pada bagian awal Concussion secara mengejutkan saya merasa ini bisa menjadi pemain serius di awards season khususnya sebagai perahu bagi Will Smith di kategori pemeran utama terbaik. Cara Peter Landesman menampilkan masalah yang tentu saja akan terasa sensitive bagi pencinta NFL itu terasa oke, masalah yang ditemukan oleh Omalu langsung mencuri perhatian dan berdiri di panggung utama. Tidak hanya itu, karena kamu juga akan tertarik pada bagaimana konflik tersebut akan bercerita sesudah itu, bagaimana cara film ini menyampaikan “suara” miliknya terhadap isu kesehatan tadi dan di sisi lain bagaimana cara Concussion menggambarkan respon dari pihak NFL yang dalam kasus ini tentu saja menjadi sasaran tembak masalah.



Semua berawal dengan baik, Will Smith juga dengan tenang mampu menyampaikan semangat yang begitu besar pada keinginannya agar diperoleh solusi supaya apa yang terjadi pada Webster tidak terulang kembali. Sayangnya penampilan memikat Will Smith tadi tidak terjadi di elemen lain di sekitarnya. Seperti yang saya sebutkan di awal tadi ini punya potensi untuk mengangkat masalah kesehatan tadi agar menjadi sorotan publik tapi Peter Landesman ternyata seperti tidak ingin mencari masalah dengan NFL. Akibatnya adalah pukulan yang dihasilkan film ini terhadap konflik utamanya terasa lemah, seperti ada kompromi antara Concussion dengan NFL agar dua pihak dapat sama-sama senang di akhir cerita.



Sebenarnya pilihan untuk bermain aman tersebut bukan sesuatu yang salah, asalkan sejak awal ia tidak menciptakan sesuatu yang seolah menjanjikan ini akan menjadi penggambaran yang tajam terhadap masalah kesehatan pada industry olahraga. Concussion melakukan itu, sejak awal ia seperti menempatkan dirinya sebagai David dan di sisi lain NFL sebagai Goliath sehingga penonton menaruh harap agar David dapat menumbangkan Goliath. Tapi kenyataannya Concussion terjebak dalam alur prosedurial yang seolah setengah hati berbagi cerita dengan penonton, karena itu tadi seolah ada kesepakatan agar David dan Goliath sama-sama bahagia. Hasilnya untuk memperpanjang cerita hadir kisah cinta yang terasa dipaksakan, fokus jadi lemah, dan api pada masalah utama perlahan mulai padam.



Pada akhirnya Concussion tidak menjadi sebuah film yang mencoba membuka mata penonton pada penyalahgunaan yang terjadi di industri olahraga, bahkan ini justru terasa seperti usaha meyakinkan kita bahwa NFL bukan sebuah olahraga yang sangat berbahaya, hal yang sangat bertolakbelakang dengan cara ia mengemas konflik utama di awal. Tidak mengharapkan sesuatu yang eksploitatif namun isu sensitif seperti ini masih terhitung mudah untuk dikemas menjadi sajian yang berani namun sopan jika menilik apa yang dilakukan oleh Spotlight. Concussion pada dasarnya sudah memilih bermain aman sejak awal jadi tidak heran usahanya untuk tampak inspiratif tidak meninggalkan dampak yang kuat, karena pada dasarnya ia tidak memberikan penonton pukulan yang kuat. Oke, tapi tidak menghasilkan touchdown.  














Thanks to: rory pinem

1 comment :

  1. kalo di cerita nyatanya gimana kelanjutan kasus ini

    ReplyDelete