12 October 2015

Review: Steve Jobs (2015)


"Musicians play their instruments. I play the orchestra."

Steve Jobs merupakan sebuah presentasi manipulasi yang mengasyikkan, sebuah biopic yang seperti tidak ingin sekedar membawa kamu sebagai penonton menemukan jawaban atas pertanyaan tapi justru tampak seperti sebuah studi karakter bersama berbagai masalah dalam temperatur tinggi. Steve Jobs lebih terasa seperti sebuah drama ketimbang biografi yang menceritakan kisah hidup sosok pendiri Apple, namun di tangan Trainspotting dan Slumdog Millionaire ia tampil indah sejak awal hingga akhir.

Steve Jobs (Michael Fassbender) menghadapi tiga momen besar bersama Apple, memperkenalkan Macintosh kepada dunia pada tahun 1984, NeXT pada tahun 1988, dan iMac pada tahun 1998. Selama proses tersebut ia dibantu oleh Joanna Hoffman (Kate Winslet) dan serta Andy Hertzfeld (Michael Stuhlbarg) di bagian teknis. Steve juga harus berhadapan dengan permintaan dari Steve Wozniak (Seth Rogen) untuk mengakui sejarah yang terjadi selama pengembangan Mac serta ketegangan dengan CEO Apple John Sculley (Jeff Daniels). Di belakang panggung Steve Jobs punya masalah lain yang berasal dari mantan kekasihnya Chrisann Brennen (Katherine Waterston) dan putrinya Lisa (Perla Haney-Jardine, Ripley Sobo, dan Makenzie Ross).



Terdapat satu kalimat menarik dari karakter Steve Jobs dalam film ini, “musicians play their instruments, I play the orchestra”, dan seperti itu Danny Boyle membawa penonton bermain-main dengan masalah yang dominan menggunakan backstage sebagai arena. Mengapa hal tersebut terasa menawan? Karena pilihan untuk sedikit menonjolkan sisi drama ketimbang menggali lebih dalam kehidupan karakter utama dalam sebuah biografi merupakan sesuatu yang risky, sehingga tidak heran akan muncul beberapa penonton yang kecewa dengan film ini. Bagian penutup punya potensi membuat kamu menilai ini sebagai film yang sombong, tapi jika kamu klik dengan tujuan Danny Boyle tadi, well, ini akan terasa seperti sebuah orchestra.



Ya, sebuah orchestra, Steve Jobs punya irama alur cerita yang naik dan turun dengan sangat baik untuk menggambarkan sosok yang dinilai sebagai pemain utama revolusi terhadap cara manusia menggunakan teknologi itu. Penonton ditemani dengan masalah seperti hal sepele tentang gambar ikan hiu misalnya, disampingnya ada lelucon yang tepat sasaran seperti penggunaan nama Andy, digunakan dengan oke untuk membuat berbagai masalah pada sinopsis di awal tadi untuk tumbuh dengan urgensi yang asyik. Sumber dari kesuksesan tersebut selain kendali oke dari Danny Boyle, tatanan teknis yang manis terutama score dari Daniel Pemberton, tentu saja screenplay yang sukses memanipulasi penonton dengan mengasyikkan ramuan Aaron Sorkin.



Aaron Sorkin menciptakan script yang membentuk sebuah arena perang bagi Steve Jobs dan karakter di sekitarnya. Bagian terbaik dari screenplay film ini selain ia sukses menciptakan tik-tok antar karakter yang energik dan terus menarik untuk di ikuti dalam gerak yang cepat itu penonton juga memperoleh intimitas yang oke dengan cerita dan karakter. Segala ingar-bingar yang terjadi pada sosok Steve Jobs tidak pernah terasa monoton, ia seperti arus sungai yang terus meluncur dari dataran tinggi menuju dataran yang lebih rendah. Eksposisi sangat manis dalam menampilkan ambisi Steve Jobs yang menjadi charm utama cerita serta ketakutan yang eksis di sekitarnya, aksi mondar-mandir yang berhasil menggambarkan perjuangan dari kebangkitan sosok visioner tersebut dengan menjelajahi panggung, lorong-lorong, hingga ruang ganti.



Dan hal manis dari Steve Jobs semakin lengkap dengan penampilan cast yang menawan. Apakah Leonardo DiCaprio harus kembali menunggu untuk dapat menggenggam Oscars? Bisa jadi, karena meskipun dari visual ia tidak tampak seperti Steve Jobs namun Michael Fassbender memberikan kinerja yang luar biasa sebagai Steve Jobs, menjadikan situasi antara hero dan anti-hero dari karakternya tampak menawan. Sangat suka cara Fassbender menggabungkan ambisi dan frustasi yang dialami Steve Jobs. Performa memikat juga diberikan pemeran pendukung, seperti Seth Rogen, Jeff Daniels, Katherine Waterston, dan Michael Stuhlbarg, eksekusi mereka on point. Kate Winslet menjadi yang terdepan dari bagian supporting, memancarkan loyalitas dibalik tekanan yang menyiksa.




Ibarat sedang melakukan perjalan jarak jauh, Steve Jobs tidak memberikan rest area buat penonton yang dipaksa untuk berjalan non-stop menjalani trek yang sulit. Namun itu tidak melelahkan karena sensasi yang diberikan cerita dan karakter sangat stabil dalam menarik perhatian, punya pesona dan dimensi dipenuhi dialog witty yang mengasyikkan dalam arena perang yang sempit itu. Steve Jobs memang kurang berhasil menggambarkan lebih dalam tentang kehidupan Steve Jobs, namun sebagai sebuah drama dengan isu kapitalisme, penderitaan, dan perjuangan, film ini sukses menjadi sebuah biografi yang segar dengan menggunakan keganasan Shakespeare dalam gerak cepat dan terkendali. An exciting orchestra. (rg)












Thanks to: rory pinem

0 komentar :

Post a Comment