13 September 2015

Review: The End Of The Tour (2015)


Mayoritas dari kamu mungkin tahu dengan akronim YOLO (you only live once) yang punya makna kamu harus menikmati semaksimal mungkin kehidupan yang kamu jalani sekarang, tapi cara memahami konsep tadi sebenarnya cukup beragam. Mereka yang hidup dengan pola easygoing akan mudah menerapkan hal tadi dengan hidup jauh dari stress misalnya, tapi disisi lain ada juga mereka yang justru menjadi terbeban dan seringkali pikiran milik mereka tidak hidup di present time, overthinking dan akhirnya lelah dengan kehidupan. Itu isi dari The End of Tour, petualangan unik tentang manusia yang sederhana tapi powerful, dan seksi.

Pada tahun 2008, reporter Rolling Stone bernama David Lipsky (Jesse Eisenberg) mendengar kabar bunuh diri yang dilakukan seorang penulis bernama David Foster Wallace (Jason Segel), sosok yang tidak asing bagi Lipsky. Dua belas tahun sebelumnya, di tahun 1996, novel karya Wallace yang berjudul Infinite Jest berhasil mencetak hit besar bahkan menjadi international bestseller. Lipsky yang kala itu sempat pesimis dengan novel tersebut berubah menjadi kagum setelah selesai membaca Infinite Jest, dan dari sana pula ia meminta editor di tempat ia bekerja untuk memberinya tugas melakukan wawancara bersama Wallace. 



So, setelah sinopsis yang kurang begitu luas tadi lalu apa sebenarnya isi film ini? The End of the Tour punya durasi sebesar 106 menit dan dalam jumlah yang sangat besar kamu akan menemukan durasi itu di isi dengan percakapan diantara dua pria. Hanya itu? Iya, itu pula pertanyaan yang saya punya ketika membaca premis awal film ini, sekilas terlihat sederhana bahkan dangkal, tapi ternyata dibalik itu tersimpan sebuah petualangan unik yang mencengkeram penonton dengan cara yang seksi. Mengapa seksi? Pertama ia sepintas akan terasa dangkal, selanjutnya cara ia bercerita juga sangat sederhana, tapi cerita yang berisikan perjuangan menghadapi rasa “sakit” ini seperti membawa penonton tenggelam bersama pesona, ia menarik perhatian dengan cara yang unik.



Kesuksesan terbaik yang dilakukan oleh The End of the Tour adalah ia berhasil membuat penonton bukan hanya sekedar jadi penonton yang mengamati proses wawancara, mereka di tempatkan seolah menjadi wartawan lain di dalam wawancara tersebut. Dan itu semakin menarik karena isu yang film ini bawa juga sangat menarik. Semuanya ada di sosok Wallace, pria dengan bandana yang tampak tidak tertarik dengan kehidupan di luar dunia miliknya, ia terus membuat Lipsky dan kamu sebagai penonton merasa tertantang untuk menggali lebih dalam masalah miliknya. Masalah Wallace juga unik, ia punya rasa sakit yang dimiliki oleh orang-orang kreatif, memikirkan dan mempertanyakan banyak hal sehingga jadi overthinking dan berujung pada sesuatu yang buruk, rasa lelah pada kehidupan.



Boom, itu dia alasan mengapa The End of the Tour terasa istimewa, ternyata ini kisah tentang manusia yang berusaha menjadi manusia dengan pertanyaan apa itu menjadi manusia. Rumit? Hebatnya tidak, karena meskipun isinya membahas tentang proses penulisan dari sastra hingga film, lalu melibatkan popularitas dan depresi, cara James Ponsoldt menyajikan itu semua terasa sangat santai dan lembut, menciptakan setting yang minimalis tapi punya fokus yang begitu kuat. The End of the Tour memang terasa santai tapi dari fokus terasa ketat dan padat, dibantu dengan score yang manis serta sinematografi yang cantik koneksi kamu dengan karakter dan cerita akan terasa seperti magnet, santai dan intim sehingga kamu merasa kagum tapi ketegangan seperti terus mengintai.



Dan itu semua tumbuh dengan natural, semua berkat script dan kinerja dua pemeran utamanya yang kuat. Dengan mengandalkan percakapan untuk membuat cerita bergerak dialog punya peran yang sangat penting, dan disini mereka terasa empuk. Percakapan antara Lipsky dan Wallace terasa alami, kita punya situasi hubungan yang kompleks untuk mengeksplorasi “kehidupan manusia” yang jadi misi utamanya tadi. Bagian ini terasa sangat seimbang, sama seperti performa Jesse Eisenberg dan Jason Segel. Tugas Eisenberg sebagai pengumpan yang tampil pedas, dan itu ia jalankan dengan sangat baik. Sedangkan Jason Segel menjadi pencetak gol, menjadikan Wallace tampak berlapis tapi tiap lapisan menarik untuk di amati. Chemistry mereka yang juga sangat cantik menjadikan proses eksplorasi bagi penonton terus menarik.



Sebagai informasi penutup tidak banyak yang terjadi didalam The End of the Tour dari segi plot, kamu akan menyaksikan dua pria didalam sebuah wawancara yang santai tapi menghasilkan hit yang oke terkait manusia. Itu alasan mengapa saya menyebut ini sebagai petualangan unik yang seksi, ia bercerita tentang sisi rentan dari manusia dengan presentasi yang jauh dari kesan menyedihkan, memberikan kamu perjalanan yang santai dan intim namun meninggalkan kamu dengan sesuatu yang begitu kuat. Setelah Smashed dan The Spectacular Now, The End of the Tour resmi menambah panjang daftar drama simple tapi powerful dari James Ponsoldt. Segmented. For Your Consideration: Best Adapted Screenplay. 






6 comments :

  1. Baca premisnya juga pesimis banget deh. Tapi penasaran sama kisah hidup David Foster Wallace (sering banget dengar namanya sebagai penulis best seller) dan karna baca review ini jadi makin penasaran :D

    ReplyDelete
  2. Bang Rory produktip banget nulis review, gw juga lumayan sering nonton (downloadan) tapi males nulisnya di blogspot gw hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang produktif kontributor, bukan saya. :)

      Delete
  3. sebelumnya saya selalu jadi silent reader nih tp saya ga pernah ketinggalan sama review2 di blog ini, 70% hampir sepemikiran hehe.
    boleh saya req untuk me-review film "Me and Earl and the Dying Girl"? Thank you and keep doing good work! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. coba kunjungi blog saya juga bro di www.gumimedia.wordpress.com, isinya tentang review film juga. (Bang Rory, sorry ya, saya izin promosi blog) hehe thanks

      Delete