21 June 2015

Review: Inside Out (2015)


"This film is dedicated to our children. Please don't grow up. Ever."

Cukup sulit untuk menemukan sesuatu yang benar-benar push-you-into-new-level, sesuatu yang mampu membawa apa yang telah eksis untuk kemudian maju atau naik menuju level selanjutnya. Oleh karena itu mari sambut Inside Out, sebuah film animasi dari studio yang mengalami sedikit guncangan pada status one-to-beat dimata para penggemar film setelah menelurkan Toy Story 3 lima tahun yang lalu, sebuah karya yang bukan hanya menjalankan tugasnya menghibur penonton muda dan tua dengan sajian yang kreatif, cerdas, lucu, dan juga indah, namun juga sebuah kemasan ambisius yang imajinatif dan inovatif di penuhi dengan emotional rollercoaster yang akan membuat kamu: smile, silent, and sob. This one, truly, a fantastic delight.  

Riley (Kaitlyn Dias), gadis muda berusia 11 tahun, baru saja pindah bersama orangtuanya dari Minnesota ke San Francisco, kota yang kemudian memberikan problema baginya. Rumah, sekolah, hingga lingkungan yang baru memberikan stress bagi Riley, yang kemudian juga memberikan kesibukan dan tugas bagi lima makhluk yang selama ini menghuni pikirannya. Ada lima emosi: Joy (Amy Poehler), Sadness (Phyllis Smith), Fear (Bill Hader), Anger (Lewis Black), dan Disgust (Mindy Kaling), masing-masing dengan karakteristik dan peran sesuai dengan nama mereka dalam mengendalikan neurologis Riley. Celakanya suatu ketika Joy dan Sadness mengalami sesuatu yang buruk dan menghalangi menjalankan tugas mereka.     


Banyak kata sebenarnya yang dapat digunakan untuk menjelaskan kenikmatan yang diberikan oleh film ini, dan disini saya akan menggunakan tiga kata yang saya rasa sudah sangat tepat untuk mewakili pengalaman yang saya peroleh dari Inside Out: smile, silent, dan sob. Ya, pertama, dibawah kendali Pete Docter beserta tim-tim kreatif dibelakangnya film ini akan membuat kamu tersenyum dengan segala keindahan animasi yang ia berikan, dari visual yang tentu saja menjadi salah satu jualan utama, tapi disisi lain ia juga punya banyak hal lucu di bagian cerita yang akan menggelitik bukan hanya penonton muda namun juga penonton dewasa. Konsep yang mereka usung memang terasa abstrak tapi dengan eksekusi yang rapi sedari sinopsis hingga titik akhir ia tidak akan berhenti membuat kamu terpesona menggunakan petualangan inventif yang mampu dengan kuat menjaga tema besarnya, seperti persahabatan hingga being a human.    

Ups, benar, being a human, dan itu pula faktor yang menyebabkan cerita meskipun tidak mengganggu mungkin akan terasa sedikit rumit bagi penonton muda, tidak seperti Toy Story, Up, dan WALL-E misalnya jika harus dibuat perbandingan. Menyaksikan Riley serta segala hal yang bekerja di pikirannya membuat saya mulai bergeser pada pertanyaan sederhana, apakah itu juga terjadi didalam pikiran saya? Disini bagian “silent”, hal tersebut akan mampu membuat penonton mencoba mengenali diri mereka ketika menyaksikan Joy dan teman-temannya berada di ruang komando, bukan hanya membuat mereka merasakan apa yang Riley rasakan namun juga mulai bermain-main dengan emosi lebih dalam yang hebatnya tampil dalam bentuk yang mudah untuk di konsumsi. Itu yang terasa aneh dari Inside Out, bagaimana caranya mereka menghantarkan pesan yang ingin mereka gambarkan serta materi yang sedikit kompleks itu kehadapan penonton tanpa pernah lupa untuk membuat mereka mudah di akses sehingga penonton tetap berada dalam kondisi santai dan ceria, at least sebelum 15 menit terakhir.

Apa yang terjadi di bagian akhir? Nah, disana “sob” berada, bagian melankolis setelah kita selesai bermain dengan hal-hal lucu dan witty yang penuh kejutan dalam gerak cepat. Disini Pixar kembali menunjukkan keahlian mereka, memutar kamu dengan segala filosofi sederhana untuk kemudian bertemu dengan point-point penting dari filosofi tadi yang akan memberikan kamu pukulan yang telak. Sama seperti lima karakter ajaib dalam bentuk emosi itu, Inside Out pada dasarnya merupakan sebuah petualangan emosi, kuantitas emosi yang kamu rasakan dari cerita akan terus bertambah seiring dengan rasa cinta kamu dengan karakter, dan semua menjadi kumulatif di bagian akhir. Darn, prestasi yang cerdik dan cantik, mencoba manipulasi psikologi tapi mudah di nikmati. Timing dan komposisi punya peran besar pada kesuksesan di bagian ini, eksposisi sangat sabar yang membuat rasa takut dan bingung Riley terasa sangat nyata, dan didukung dengan tone yang seimbang diantara lima warna yang ia miliki membuat kamu akan memperoleh arena untuk bermain-main dengan emosi dan imajinasi secara liar.

Segala kenikmatan tadi tidak akan berdiri kokoh tanpa didukung oleh pengisi suara yang, well, sangat tepat guna. Lima karakter emosi tidak pernah gagal mencuri perhatian ketika momen menjalankan tugas mereka tiba. Amy Poehler selalu mampu membuat rasa menyenangkan hadir disekitar penonton, tugas yang masing-masing juga berhasil dilakukan pengisi suara empat karakter lainnya. Kombinasi diantara mereka yang juga akan turut membantu rooting kamu pada karakter Riley, menginginkan ia untuk bahagia. Bukan hanya menjadi sebuah hiburan dengan pesan pantang menyerah bagi penonton muda, sentilan bagi penonton dewasa ketika bersikap kepada anak-anak mereka, karena dengan mondar-mandir yang indah film yang dibuka oleh short animated sederhana dan manis berjudul Lava ini berhasil menjadi alarm sederhana dan efektif dari apa yang kita sebut dengan kebahagiaan.

Tunggu dulu, jika setelah membaca review diatas muncul anggapan di pikiran kamu bahwa Inside Out merupakan sebuah film animasi yang akan sulit dinikmati oleh penonton muda, maka Fear yang ada di pikiran kamu telah bertindak salah. Ini bahkan terasa lebih ringan jika dibandingkan dengan How To Train Your Dragon 2. Memang ceritanya yang terasa sedikit kompleks akan sulit untuk mampu menjangkau penonton muda secara total, tapi pesan utama tetap berdiri kokoh di pusat, mudah untuk di mengerti, dan itu ditemani dengan kegembiraan yang mengasyikkan. Karena seperti yang saya sebutkan di awal tadi, lewat film ini Pixar seolah ingin membawa film animasi untuk naik ke level yang selanjutnya, tetap memegang teguh filosofi dasar sebuah film animasi namun juga membawa kamu bertemu dengan keajaiban baru yang loveable dan belum pernah kamu temukan serta rasakan, karena mereka tidak hanya ingin menjadikan Inside Out sebagai sebuah entertainment, tapi juga sebagai sebuah experience. This one, truly, a fantastic delight.












Thanks to: rory pinem

2 comments :

  1. kok sempet lama banget gak review ya..?? padahal mau baca2 disini siapa tau ada film yg belum saya tonton....

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang punya lagi sibuk sripsi (kayaknya) :)))))

      Delete