03 April 2015

Movie Review: Fast & Furious 7 (2015)


"This time it ain't just about being fast."

Sebagai pembuka mari simak beberapa kalimat dari bintang utama Fast & Furious berikut ini: “Universal is going to have the biggest movie in history with this movie”, “It will probably win best picture at the Oscars, unless the Oscars don’t want to be relevant ever”, “This will win best picture”, “There is nothing that will ever come close to the power of this thing.” Well, cara yang sangat baik untuk membangun hype Mister Vin, tapi jika pernyataan tersebut anda kemukakan pada tanggal 1 April mungkin “boomerang” yang hadir akan dengan sangat mudah untuk anda tangkap kembali. Fast & Furious 7: one last ride who love to be rushing, and love to be dragging.

Pria yang berhasil meledakkan mobil Han (Sung Kang) di bagian akhir Fast & Furious 6 ternyata tidak main-main dengan kalimat “You don't know me. You're about to” yang ia ucapkan kepada Dominic Toretto (Vin Diesel). Deckard Shaw (Jason Statham) langsung melancarkan aksinya yang disisi lain juga mengusik rencana Dom beserta Brian O'Conner (Paul Walker) dan seluruh anggota timnya untuk kembali menjalani kehidupan normal mereka di Los Angeles, seorang tentara bayaran level atas yang mencoba membalaskan dendam atas perbuatan yang dilakukan Dom dan rekan-rekannya pada saudaranya, memaksa semua anggota tim untuk kembali dan menyatukan kemampuan mereka untuk sebuah pertarungan final yang mereka sebut one last ride. 

Masalahnya adalah meskipun pernah muncul di hadapan Dom cara yang Deckard lakukan adalah dengan melancarkan serangan tersembunyi, cara yang berhasil ia gunakan untuk melumpuhkan Luke Hobbs (Dwayne Johnson). Kondisi tersebut memaksa Dom memutuskan untuk menerima tawaran dari operasi pemerintah dibawah komando Frank Petty (Kurt Russell) yang berjanji akan membantu Dom dan timnya menemukan Deckard jika mereka mampu menjalankan sebuah tugas yang ia berikan, menemukan sebuah program bernama god's eye serta menyelamatkan seorang programmer bernama Megan Ramsey (Nathalie Emmanuel).


Dua tahun yang lalu pada Fast & Furious 6 saya menyebut Fast and the Furious sebagai salah satu film series yang sejauh ini terus menampilkan sebuah perkembangan kearah positif di tiap film terbarunya (setelah Fast & Furious), selalu menunjukkan upaya bahwa mereka belum berhenti untuk mencoba menuju titik puncak meskipun film terbarunya tidak selalu mampu melampaui kualitas pendahulunya. Fast Five masih yang terbaik dan Fast & Furious 6 berada sedikit dibelakangnya, jadi bukan sesuatu yang terasa aneh jika kemudian saya maupun banyak penonton lain menaruh harapan yang sedikit lebih besar pada film ketujuhnya ini mengingat apa yang diberikan dua film terakhirnya tergolong mampu memuaskan dan berada di level good. Bagaimana hasilnya? Not bad, tapi ibarat dalam sebuah pertarungan tinju film ini seperti petinju yang terlalu sentimental, anda melihat pukulan tapi dentuman dan thrill yang dihasilkan oleh pukulan tersebut tidak maksimal.

Masalah utama pada Furious 7 datang dari apa yang selalu Dom dan timnya coba lakukan: menciptakan kemasan terbaru yang lebih besar dari film terdahulunya. Memberikan apresiasi pada film yang mengambil langkah tersebut tentu saja mudah, tapi sikap berani tersebut memiliki pengaruh yang tergolong kecil pada hasil akhir. Lantas apa yang menyebabkan Furious 7 tidak berhasil meraih level yang lebih tinggi dari Fast Five? Kendali yang tidak mumpuni pada ambisi. Ini memang lebih besar, hal tersebut bukan hanya terlihat dari segi tindakan atau elemen action yang bahkan kali ini mencoba membawa mobil bermain-main di udara, pada elemen cerita hal serupa juga terjadi. Cerita yang masih ditulis oleh Chris Morgan memakan waktu 25 atau mungkin 30 menit untuk mencoba menciptakan konflik dan membangun drama, tapi jika anda ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya clue sudah diberikan oleh James Wan melalui perkataan Dom ketika Letty hendak bersiap melakukan balapan di bagian awal.


Ride or die, begitu yang selalu mereka ucapkan, namun kali ini Dom meminta Letty untuk tidak melakukan push terlalu jauh, cukup selesaikan balapan, dan seperti itu Furious 7 tampil. Bukan berarti tidak ada satupun hal menyenangkan disini, adu pacu gerak cepat hingga ledakan masih eksis, salah satu daya tarik dari franchise ini yaitu lelucon juga kembali hadir walaupun kualitasnya kurang begitu oke, permainan gambar yang James Wan hasilkan juga terhitung mumpuni bahkan beberapa terasa mengasyikkan, dan pelengkapnya CGI yang akan membuat anda tertawa bahagia. Namun dengan cerita yang sejak sinopsis sesungguhnya terhitung potensial bahkan mencoba tampil kompleks dengan memberikan penonton lintasan penuh liku-liku, karakter utama yang sudah solid, hingga villain yang potensial, Furious 7 seperti ballerina yang lupa cara menari ballet karena sedang merasa sangat sedih, semua tidak dimanfaatkan dengan maksimal, semuanya bermain aman layaknya drama yang hanya ingin melepas kepergian sahabat tercinta mereka, Paul Walker.

Kehilangan bintang utamanya ditengah jalan pada proses produksi tentu menjadi luka yang besar bagi sebuah film, dan dengan kondisi sulit tersebut apa yang diberikan Furious 7 sudah oke, tapi bukan berarti mereka lantas takut untuk “bergembira” yang sesungguhnya dapat menjadi persembahan terakhir terbaik bagi Paul. Ada dua bagian yang terasa kontras pada film ini, bagian awal yang oke bukan hanya pada tik-tok dan gerak narasi, kesan konyol pada unsur drama juga tidak begitu kentara dari upaya sentimental, tapi semuanya berubah paruh kedua. Perlahan menurun bagian kedua Furious 7 seperti komedian yang tampil melucu dalam kondisi berduka, beberapa lelucon yang ia ciptakan berhasil memberikan hit tinggi tapi dinamika dari pertunjukannya naik dan turun secara frontal. Furious 7 seperti itu, ia bahkan punya momen yang akan membuat anda bergumam holyshit, tapi konflik serta plot yang gemuk dipenuhi rasa bingung ketika dikembangkan sehingga momen monoton dan draggy juga tidak kalah dalam mencuri atensi dan merusak histeria.


“Hey, baru pertama kali nonton film Fast & Furious ya, jadi sampai mengharapkan sesuatu dari cerita?” Sebelum film ini saya sudah nonton enam btw, dan bukan hanya saya tapi mayoritas dari kita juga tahu apa yang diharapkan dari film ini. Tapi bagaimana jika film tersebut yang berusaha menjual cerita dan disini ia gunakan sebagai ruang untuk menghadirkan emosi dari sebuah perpisahan? Dia jual, saya beli, dan saya tidak begitu puas dengan apa yang saya beli pada elemen ini. Tidak mengharapkan eksekusi yang mewah pada cerita tapi setidaknya James Wan harus memperlakukan mereka dengan cara yang sedikit lebih sopan sehingga meskipun memiliki kedok sebagai sebuah gimmick untuk memperlebar arena bermain ia setidaknya tidak terasa mengganggu. Rasa kecewa juga hadir dari chemistry didalam cast inti yang kali ini seperti terasa terlupakan oleh Wan, padahal salah satu daya tarik dari Fast & Furious Series bukan hanya pada adegan aksi tapi juga karakter-karakter menyenangkan yang mampu membuat penonton bukan hanya tertarik tapi peduli dengan apa yang mereka lakukan.

Namun meskipun di paruh kedua berulang kali mengecek jam tangan karena rasa jenuh yang semakin berbahaya meskipun durasi hanya tujuh menit lebih panjang dari dua film terdahulunya, saya memberikan tepuk tangan kecil ketika dua buah mobil itu bergerak menuju arah yang berbeda di bagian akhir. Beberapa menit terakhir terasa emosional, tidak peduli sejauh apa intimitas anda dengan karakter Brian O'Conner pasti akan hadir simpati bahkan rasa sedih ketika cuplikan gambar dari Paul Walker hadir di layar. Sesungguhnya itu sesuatu yang mengejutkan karena karakter Brian O'Conner sendiri kehadirannya seperti antara ada dan tiada setelah adegan melompati mobil itu (yang imo menjadi batas awal penggunaan CGI). Berbicara karakter yang paling mengecewakan tentu saja Deckard Shaw, Jason Statham tidak dimanfaatkan dengan tepat sehingga berakhir sebagai karakter kartun seperti mayoritas karakter-karakter lain, termasuk cast inti.


Overall, Fast & Furious 7 adalah film yang cukup memuaskan. Hanya stunts dari film ini yang berada di level yang sama dengan film terdahulunya, karena elemen lain yang sebelumnya terasa mumpuni mengalami degradasi walaupun tidak semuanya dalam kuantitas yang ekstrim. Menarik sudah pasti, kejutan yang segar di awal lewat permainan gambar dari James Wan serta cerita yang seolah mencoba tampil lebih rumit terasa menjanjikan, namun meskipun disokong visual mumpuni Furious 7 menderita pada alur cerita yang setengah matang akibat ambisi besar tadi sehingga tidak menghasikan konsistensi yang terkendali, terkadang hit dan menegangkan dalam gerak cepat, tapi tidak jarang terasa lesu dan draggy. Furious 7 bukan kemasan yang buruk terlebih mengingat situasi sulit yang mereka alami, tapi dengan segala potensi yang ia miliki pada akhirnya Furious 7 hanya berhasil menjadi sebuah perpisahan yang aman.





6 comments :

  1. Halo kak. Apakah ada kesempatan jadi penulis di rorypnm? Saya berminat bergabung. Syarat yang harus saya penuhi apa aja ya? Thank you. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Laura, saat ini saya memang tidak sedang mencari penulis baru, tapi silahkan penuhi syarat di bawah jika ingin mencoba.


      1) Review: American Beauty, The Silence of the Lambs

      2) Review: Fargo/Pulp Fiction (pilih satu); Persepolis/Spirited Away (pilih satu); Birdman/Inherent Vice/Inside Llewyn Davis/The Wolf of Wall Street (pilih satu)

      3) The Three Colors trilogy (tonton, ranking, masing-masing eksposisi singkat satu paragraf normal)

      4) Review satu film terkini. Cinderella, Furious 7, atau film Indonesia yang sedang dan akan tayang, silahkan memilih sendiri.


      Teknis: MWord, bahasa baku, translatable ke English (overall), minimal 700 kata (1, 2, 4).

      Review tidak akan di publish, jadi feel free saat bercerita, gunakan gaya yang kamu rasa nyaman.

      Kualitas di atas kuantitas, jadi tidak perlu maksa 1000 kata tapi 300 diantaranya kamu isi dengan oot yang ekstrim.

      Supaya clear, review film-film diatas tidak sepenuhnya untuk test kemampuan menulis, itu bisa dan harus berkembang, saya juga masih merasa amatir dan masih belajar. Tujuan utamanya untuk mencari kesamaan visi. Beda selera tidak masalah tapi saya ingin kesamaan pada “cara memandang” ketika menilai suatu film. I take this issue very seriously. :)

      Jika oke dengan syarat-syarat tadi silahkan tinggalkan email ya. Thanks. :)


      Delete
    2. Oke kak, akan saya coba. Batas waktunya sampai kapan ya kak? :D
      lauraxowidy@gmail.com

      Delete
    3. Oke, rules lainnya sudah saya email ya. Tidak ada batas waktu, tapi komitmen itu penting. Peluangnya 50:50 ya. Komunikasi selanjutnya via email. Ditunggu reviewnya. :)

      Delete
  2. Kok terasa membosankan ya,,,ampe gak betah nunggu endingnya,,

    ReplyDelete
  3. IMO : cinematografi milik james wan lebih keren, dari pada milik justin lin....

    cuma overall saya lebih megang FFV, meskipun keliatan lebih mewah yang ini...
    tapi feelnya lebih greget yang FFV..

    adegan favorit : saat aksi penjemputan ramsey, yang lainnya terasa hambar.. :D

    thanks...

    ReplyDelete