29 December 2014

Review: Beyond the Lights (2014)


"Open your heart. Find your voice."

Gugu Mbatha-Raw memang hanya punya dua buah film di tahun ini dimana pada dua film tersebut ia berperan sebagai pusat utama, namun dua film tersebut sudah cukup mampu untuk membuka jalan baginya untuk semakin di kenal oleh para penikmat film. Perannya sebagai Belle sangat kuat dan padat, dan itu juga hadir di film ini, Beyond the Lights, dimana penampilan Gugu Mbatha-Raw berhasil menjadikan kita memaafkan segala keterbatasan yang ia miliki karena terpikat dengan perjuangan yang dilakukan oleh Noni Jean.

Noni Jean (Gugu Mbatha-Raw) merupakan seorang superstar muda yang sangat tenar, namun dengan tekanan dari ibunya yang angkuh, Macy Jean (Minnie Driver) justru berubah menjadi objek seksual yang membuatnya mencoba melakukan usaha bunuh diri. Untungnya rencana tersebut berhasil digagalkan oleh seorang polisi bernama Kaz Nicol (Nate Parker) yang ternyata tidak hanya sebatas menyelamatkan nyawa Noni namun juga membuat wanita muda itu menjadi lebih berani untuk berjuang memperoleh kebebasan dan menjadi artis seperti yang ia inginkan.



Tidak heran kalau ada yang menilai bahwa kinerja sang sutradara Gina Prince-Bythewood di film ini tidak memiliki dampak yang begitu besar pada kesuksesan Beyond the Lights menjadi sebuah drama romantic yang cukup manis, karena memang hasil yang kita peroleh lebih banyak disebabkan oleh penampilan dari Gugu Mbatha-Raw yang mampu menjalankan berbagai tugas penting dari drama kayak begini. Ceritanya standard tapi sejak awal ada kesan menarik berkat karakter Noni sendiri yang tampak meyakinkan, ia mampu menarik simpati dan empati penonton pada masalah yang ia hadapi. Setelah itu bagian berisikan permainan asmara juga tidak istimewa, tapi lagi-lagi dengan premis yang sederhana tadi kita diberikan permainan emosi yang ternyata terasa jauh lebih menarik dari potensi yang ia miliki di bagian awal yang terasa kurang menarik.


Ya, bagian awalnya memang kurang menarik tapi  Beyond the Lights berhasil tumbuh perlahan ke arah positif. Predictable itu sangat pasti, tapi Gina Prince-Bythewood berhasil menggunakan status tersebut untuk menyajikan penonton sebuah studi karakter yang dewasa dan tepat guna, menciptakan dongeng standard dan sederhana yang mampu membuat penonton seolah menjadi bagian dari cerita, wanita muda dalam kekacauan yang ia padukan dengan perjuangan dan mimpi, mungkin akan terkesan pemalas tapi cara ia untuk tidak mau menyajikan hal-hal kurang pentin justru menyebabkan fokus utama pada Noni terus terasa kuat hingga akhir, memberikan hal-hal pendukung dalam komposisi yang pas sehingga meskipun terkesan berantakan ia punya sesuatu yang hangat pada drama, romance, bahkan komedi.


Memang Beyond the Lights pada akhirnya tidak menjadi drama yang sangat memukau tapi ia mungkin akan mudah untuk dikenang. Saya suka pada cara Gina Prince-Bythewood menyampaikan banyak hal yang ingin ia sampaikan dibalik narasi yang sederhana itu, ada banyak hal kecil menarik yang terjadi dengan memanfaatkan hubungan sederhana yang juga dicampur dengan beberapa komentar yang pas. Walaupun begitu kekurangan yang ia punya juga sulit untuk di tutupi, contohnya bahkan hal ekstrim seperti momen dimana Gugu Mbatha-Raw tidak ada di layar ada kesan goyah walaupun memang itu di sebabkan penampilannya yang memikat, secara individual ia kuat tapi ia juga punya chemistry yang juga tidak kalah menarik dengan pemeran lainnya.



Berkat eksekusi yang efektif Beyond the Lights berhasil menjadi sebuah drama romance standard yang menyenangkan, premis sederhana yang berhasil ia olah dengan baik untuk menjadi studi karakter ringan yang menarik berkat chemistry yang pas, intimitas yang tepat antara penonton dan karakter, fokus dan tidak berlebihan, dan tentu saja penampilan Gugu Mbatha-Raw yang terus menarik hingga akhir. Go go Gugu. 









1 comment :