17 July 2014

Movie Review: Muppets Most Wanted (2014)


“We're doing a sequel!”

Dua tahun lalu The Muppets tidak mampu masuk kedalam list the best di kategori genre yang saya punya, bukan berarti mereka buruk namun karena unsur komedi, family, dan musical yang Kermit dan rekan-rekannya miliki kala itu punya keseimbangan yang baik sehingga menjadikan tidak ada satupun dari tiga bagian tadi yang terasa outstanding. Penerusnya ini kembali hadir dengan rasa yang sama, Muppets Most Wanted, the studio wants more, while they wait for Tom Hanks to make Toy Story 4!

Setelah pesta yang mereka lakukan di Hollywood Boulevard, Kermit the Frog (Steve Whitmire), Fozzie Bear (Eric Jacobson), Miss Piggy, Scooter (David Rudman), Walter (Peter Linz), dan Rowlf the Dog (Bill Barretta) seketika sadar bahwa keberhasilan mereka mendapatkan kembali teater jelas menjadi akhir dari misi mereka. Tidak ingin terpisahkan kembali The Muppets kemudian memutuskan untuk tidak berhenti melakukan pertunjukan, meneriman penawaran dari pria bernama Dominic Badguy (Ricky Gervais) untuk membawa The Muppets tour keliling Eropa. Namun rasa ragu yang dimiliki Kermit sejak awal ternyata benar, seperti namanya Dominic ternyata bukan orang baik.

Dominic ternyata hendak memanfaatkan perjalanan dari Berlin, Madrid, hingga Dublin untuk menemukan sebuah harta karun, sebuah rencana yang telah ia susun dengan matang bersama Constantine (Matt Vogel), doppelganger Kermit yang berhasil lolos dari senjata milik Ivan (Stanley Tucci), penjaga penjara Gulag 38B yang berisikan Jemaine Clement, Josh Groban, Tom Hiddleston, Ray Liotta, Danny Trejo, dan berada dibawah komando Nadya (Tina Fey), menciptakan kasus bagi inspektur Interpol Jean Pierre Napoleon (Ty Burrell) dan Sam Eagle, serta merusak The Muppets dari dalam dengan menyamar menjadi Kermit.


Di buka dengan lagu berjudul We're Doing a Sequel yang kembali ditulis oleh Bret McKenzie, penonton seperti sudah dituntun melalui sebuah cara yang terhitung jenaka untuk dengan rela menurunkan ekspektasi awal mereka. Beberapa orang mungkin akan menilainya sebagai sebuah ironi ketika sekumpulan boneka terkenal itu seperti dimanfaatkan tanpa sebuah semangat untuk dapat menjadi lebih baik dari pendahulunya tiga tahun lalu, namun seiring cerita berjalan harus diakui bahwa keputusan James Bobin dalam menempatkan warning diawal tadi merupakan sebuah keputusan yang sangat cerdik meskipun memang terkesan pemalas.

Ya, pemalas, kesannya James Bobin tidak ingin pusing untuk memikirkan bagaimana lagi cara untuk menciptakan arena bersenang-senang bagi The Muppets, karena intinya mereka hanya ingin membuat sebuah sekuel. Tapi ada alasan untuk itu, karena kualitas dari materi yang mereka miliki merupakan sebuah downgrade skala kecil dari pendahulunya. Disini sangat terasa dampak dari hilangnya Jason Segel pada bagian tim produksi, tidak ada materi-materi satir dengan level cerdas yang mengisi cerita, hal yang menjadikan The Muppets terasa menarik, dan itu belum menghitung kemampuannya bersama Amy Adams kala itu untuk menjadi duo lead yang ikut berperan merubah karakter non-human menjadi bernyawa.


Itu minus Muppets Most Wanted, merubah karakter manusia menjadi kartun, dan kurang mampu menyuntikkan nyawa kedalam masalah para karakter non-human. Fokus penonton juga berpotensi untuk secara perlahan teralihkan, dari awalnya mengamati perjalanan dan gejolak The Muppets kemudian mulai diselingi dengan aksi menantikan siapa lagi cameo terkenal yang muncul dilayar. Banyak, sangat banyak, dari Lady Gaga dan Celine Dion yang menyanyi, Saoirse Ronan, Christoph Waltz, dan Salma Hayek yang menari, hingga Chloƫ Grace Moretz yang hanya melemparkan sebuah benda, meskipun kembali menjadi ironi harus diakui hal tersebut menawarkan kenikmatan tersendiri.

Tapi dibalik kekurangan yang sesungguhnya tidak hadir dalam kuantitas yang begitu ekstrim, Muppets Most Wanted juga menuai nilai positif dari keputusannya di awal tadi. Ini ringan, lebih ringan jika dibandingkan dengan The Muppets, petualangan punya alur yang terasa lebih lepas karena tidak ada beban berat pada konflik yang mereka ciptakan. Cerita yang biasa-biasa saja tadi juga mampu ditutupi dengan manis oleh narasi gerak cepat yang uniknya tidak pernah longgar pada hal fokus, liar tapi tersusun rapi, cerita satu arah tadi memberikan banyak ruang bagi James Bobin untuk memanfaatkan potensi karakter yang ia punya, lagu dan tarian dengan slapstick konyol dan bodoh ditemani dengan pesona dari kisah persahabatan.


Dan seperti disebutkan sebelumnya, para karakter manusia sukses menjadi objek yang menarik dibalik keterbatasan yang mereka punya dalam karakterisasi. Ricky Gervais bermain dengan baik menggunakan sarkasme, Tina Fey juga mampu memanfaatkan momen yang ia miliki untuk memberikan komedi efektif. Yang cukup disayangkan adalah Ty Burrell, potensi karakter miliknya merupakan yang terbesar namun waktu yang ia miliki terhitung minim sehingga tema caper yang dibawa terasa kurang kuat. Sedangkan sosok-sosok senior di bagian pengisi suara memberikan ketukan yang menarik bagi para boneka, jajaran cameo lainnya juga tidak berhenti membuat sibuk penontonnya.


Overall, Muppets Most Wanted adalah film yang cukup memuaskan. Menerapkan strategi yang merupakan kebalikan dari pendahulunya tiga tahun lalu, Muppets Most Wanted tetap berhasil memberikan sebuah petualangan ringan penuh irama menyenangkan berkat keseimbangan yang ia ciptakan dalam aksi mondar-mandir di Eropa bersama alur liar yang tertata dengan baik itu, menyatukan materi yang sedikit dewasa tanpa harus kehilangan pesona yang mampu menjadikan penonton muda bergembira. Goodnight, Danny Trejo. 







0 komentar :

Post a Comment