15 February 2014

Movie Review: RoboCop (2014)


"Dead or alive, you are coming with me!"

In my opinion RoboCop karya Paul Verhoeven merupakan satu dari sekian banyak film abad 20 yang belum layak untuk di daur ulang pada fase awal era millennium ini. Ia klasik, ia sebuah kenangan yang masih meninggalkan bekas manis, itu mengapa ketika berita remake muncul ada sebuah perasaan mix, antusiasme tentu saja hadir namun ikut disertai dengan rasa pesimis yang juga eksis karena sebuah pertanyaan sederhana, “apakah sudah perlu?” RoboCop, another great classic icon who become a victim of Hollywood ambition.

Pasukan militer USA di tahun 2028 semakin kokoh, hanya dengan menyapa salam maka semua penduduk di Afghanistan bahkan mungkin wilayah kekuasaan mereka lainnya seperti Irak dan Vietnam akan berhenti tanpa paksaan, kemudian dengan sukarela menerima pemeriksaan rutin terhadap tubuh mereka yang dilakukan oleh prajurit robot. Benar, robot, semua berkat Raymond Sellars (Michael Keaton) bersama perusahaannya OmniCorp sehingga kontrol terhadap daerah kekuasaan mereka menjadi semakin mudah. Yang menjadi masalah teknologi itu tidak bisa beroperasi di wilayah USA.

Namun Raymond, bersama timnya yang berisikan Liz Kline (Jennifer Ehle) dan Tom Pop (Jay Baruchel), punya sebuah solusi, memasukkan manusia kedalam mesin yang mereka miliki. Dr. Dennett Norton (Gary Oldman) ditunjuk untuk memimpin proyek tersebut, dan keberuntungan tidak berhenti disitu karena proses menemukan kandidat juga tidak berlangsung lama. Pria itu adalah Detektif Alex Murphy (Joel Kinnaman), yang atas kehendak Clara Murphy (Abbie Cornish) berubah menjadi mesin dengan “nyawa”, dan lepas dari cacat akibat pria bernama Antoine Vallon (Patrick Garrow). Celakanya semua tidak berjalan mulus.


Memang sedikit membosankan untuk menggunakan kalimat ini, namun fakta yang tidak dapat dihindari adalah terdapat sebuah resiko besar yang telah menanti upaya remake dari film yang juga telah memiliki nama besar. Mereka harus sepenuhnya berada di zona yang aman, karena akan timbul rasa kesal pada penontonnya jika apa yang ia berikan tidak berada di titik seimbang, terlalu banyak bermain di pattern yang sama persis dengan pendahulunya, atau justru menyimpang terlalu jauh. Pakai materi lama dan bersikap berani melakukan modifikasi dengan sentuhan baru, itu berhasil dilakukan RoboCop versi terbaru ini, bahkan tidak perlu pertimbangan yang begitu besar untuk memberikan status impresif pada bagian pembuka yang ia punya.

Ya, ini keren, pada awalnya. Dari sisi cerita, kita seperti dibawa masuk oleh Joshua Zetumer kedalam arena yang masih bermain di formula serupa namun dengan sentuhan modern yang efektif dan efisien, beberapa pergeseran warna and materi yang sebenarnya kasar namun sanggup dikemas implisit, seperti OmniCorp yang tidak lagi memiliki perasaaan, menghapus penyiksaan dan menggantinya dengan bom, hingga tema utama yang kali ini lebih mengedepankan unsur keluarga diatas sindiran satir terkait sosial politik yang kapasitasnya sedikit diredam. Itu belum melibatkan tampilan visual yang kompeten, mampu tampil mengesankan walaupun beberapa tampak kurang nyata terlebih dengan kehadiran pergerakan shaky-cam yang sedikit over. Dibagian ini mereka seimbang.

Nilai positif tadi tersebar merata sepanjang durasi, namun sayangnya selalu hadir dalam kuantitas yang minim. Ya, mereka tidak mampu mengalahkan nilai minus yang perlahan mulai menumpuk. Memang tergantung ekspektasi, dan jika anda ingin melihat sosok RoboCop lahir kembali layaknya Batman maka bersiaplah kecewa karena ini justru lebih tampak sebagai upaya untuk memperkenalkan RoboCop sebagai superhero idola baru seperti Iron Man. Ini petualangan yang terlalu ringan untuk sebuah karakter ikonik, komentar sosial satir yang menjadi daya tarik lain versi aslinya kini sangat bergantung pada The Novak Element yang dibawakan dengan baik oleh Samuel L. Jackson, kemudian RoboCop diberikan kebebasan untuk bermain bersama konflik personal miliknya.


Ini yang salah, bahkan secara tidak langsung sudah mengingkari crime has a new enemy yang diusung. Ketimbang upaya memberantas kejahatan (bahkan tidak ada karakter antagonis yang kuat) dengan permainan manipulasi, RoboCop lebih mirip seperti versi sedikit lebih canggih dari Source Code, karakter yang bermain dengan alam bawah sadarnya. Tidak ada ancaman besar disini, hal pendamping yang sebenarnya wajib hadir di semua film bertemakan pahlawan. Lepas dari awal yang memikat kita justru hanya akan berputar dalam pengulangan monoton tanpa dinamika cerita yang powerfull dalam gerak lambat yang ia hadirkan, bahkan fokus juga terpecah, tidak kokoh, sehingga isu-isu yang sesungguhnya jauh lebih penting harus tenggelam dibalik upaya membangun jalan menuju aksi balas dendam yang sederhana.

Itu mengapa diawal saya menyebut RoboCop sebagai korban terbaru dari Hollywood, mereka ingin menjadikan kemasan ini tampil ringan dan mudah diterima, yang sayangnya justru menghapus status istimewa yang dimiliki pendahulunya. Usaha untuk menerapkan pendekatan yang berbeda tidak berakhir manis, mayoritas terasa canggung dan hambar. José Padilha tampak berusaha keras untuk mencampur konflik personal dan materi filosofis untuk berjalan bersama, kita mengerti ia ingin tampil cerdas namun sangat sulit untuk merasakan hal tersebut karena sejak awal fokus terlalu luas dan tidak kokoh, kemudian ditambah emosi yang miskin dan kurang dalam sehingga unsur family yang menjadi jualan lainnya tidak mampu memberikan intimitas yang menarik, belum menghitung bagian akhir yang kacau dalam gerak terburu-buru sehingga tidak memberikan cita rasa yang kuat pada adegan aksi.

Dari divisi akting Gary Oldman yang paling bersinar, tampil impresif, mampu menghadirkan gejolak batin yang justru terasa lebih menarik ketimbang konflik personal dari karakter utama. Ya, Joel Kinnaman tampil hambar dengan kelemahan utama tidak mampu menghadirkan emosi pada permasalahan yang ia bawa serta karisma dari sosok RoboCop. Samuel L. Jackson mampu menjadi racun tawa lewat monolog miliknya, dan pemeran pendukung berhasil memanfaatkan setiap kesempatan yang mereka punya untuk sesaat mencuri atensi, dari Abbie Cornish, Michael Keaton, Jay Baruchel , Jackie Earle Haley, Jennifer Ehle, Michael K. Williams, hingga Marianne Jean-Baptiste dan Aimee Garcia.


Overall, RoboCop adalah film yang kurang memuaskan. Jika anda masih menaruh harapan untuk mendapatkan kembali sosok RoboCop yang istimewa, maka rasa kecewa akan hadir dalam kuantitas yang lebih besar, hal yang tidak akan diperoleh penonton yang bersedia untuk mematikan memori indah yang telah diberikan pendahulunya. Pondasinya sama, modifikasi di awal yang rapi, efektif, dan impresif, RoboCop perlahan jatuh akibat eksekusi yang lemah pada fokus yang kini terbagi dua dalam drama dan action, serta dinamika cerita yang cenderung datar. Ini tidak lebih baik dari remake Dredd dua tahun lalu, namun setidaknya ini lebih baik dari remake Total Recall. But, RoboCop should be much greater than this, isn't?



0 komentar :

Post a Comment