22 March 2013

Movie Review: The Croods (2013)


The Croods dapat dikatakan menjadi kelinci percobaan dari Dreamworks Animation, sekaligus film yang membuka jalan untuk mewujudkan ambisi mereka. Daftar panjang film yang telah menanti untuk dirilis dalam tiga tahun kedepan memaksa studio ini untuk merubah pattern yang selalu menjadi favorit mereka (mungkin juga karena kerjasama baru dengan 20th Century Fox), merilis film pertama di tahun tersebut pada kisaran bulan mei hingga juli, dan merilis film berikutnya di paruh kedua. Antara menjadi seperti How to Train Your Dragon, atau Madagascar. Are you really need to see this?

Eep (Emma Stone), seorang wanita muda yang dapat dikatakan memiliki pemikiran yang modern, meskipun ia hidup di jaman batu, memiliki keinginan untuk meruntuhkan semua aturan kuno yang telah diterapkan oleh ayahnya, Grug (Nicolas Cage). Aturan-aturan tersebut dirasakan layaknya sebuah tali yang mengikat jiwa bebas yang dimiliki. Eep harus terus berada disekitar keluarganya, menjalani keseharian bersama ibunya Ugga (Catherine  Keener), saudara laki-lakinya Thunk (Clark Duke), adik perempuannya Sandy (Randy Thom), dan Gran (Cloris Leachman), sang nenek.

Harus selalu bersama, dan sudah berada didalam gua ketika cahaya mulai menghilang, justru menjadikan rasa ingin tahu dari Eep semakin besar. Suatu malam ia melihat sebuah cahaya dari luar gua, dan memutuskan untuk mencari tahu sumber cahaya tersebut. Celakanya, ia bertemu Guy (Ryan Reynolds), pria muda yang lebih pintar dari Eep, yang kemudian menjadi subjek mencurigakan bagi Eep dan keluarganya karena mereka yakin hanya mereka yang masih hidup di lingkungan tersebut. Namun, Guy seolah menjadi seorang messenger bagi keluarga The Croods, karena ia memberitahu bahwa bumi akan mengalami kiamat, dan sudah saatnya mencari tempat baru.


Apa yang menjadi daya tarik The Croods? Bagi saya jawabnya adalah Dreamworks itu sendiri. Andai saja premis yang Chris Sanders dan Kirk DeMicco tulis ini di terjemahkan kedalam bentuk visual oleh studio animasi yang kurang terkenal, saya pasti tidak akan menontonnya. Ya, film ini punya sinopsis yang sebenarnya kurang begitu menarik, yang bahkan sudah dapat dengan mudah anda prediksi bagaimana cara ia berjalan. Sebuah keluarga, dengan satu karakter utama yang diberikan tugas menjadi pahlawan, bersama mencoba meraih sebuah target, dan mengemban tugas untuk menghantarkan berbagai pelajaran ketika proses menuju akhir itu berlangsung.

Namun lagi, dan masih sama, hal itu masih eksis, sebuah kekurangan yang masih belum mampu diberikan oleh  Dreamworks Animation secara stabil dalam setiap film animasi yang ia rilis. Hal konvensional tentu saja masih memiliki kesempatan untuk dapat menjadi menarik tergantung pada cara ia dibentuk dan disampaikan. Disamping daya tariknya yang harus diakui terkesan cukup standard, The Croods sebenarnya punya potensi untuk dapat menjadi film animasi yang memorable dalam konteks positif. Sayangnya, semua potensi itu terbuang percuma karena Chris Sanders dan Kirk DeMicco tidak mampu membuat ruang bagi penontonnya untuk mencoba berjalan bersama karakter, dan merasakan permainan emosi yang sebenarnya sudah punya pondasi kuat dengan penggunaan unsur keluarga pada cerita.

The Croods adalah film animasi yang segmented, dalam konteks cara ia menyampaikan cerita. Jika anda adalah salah satu dari sekian banyak penonton yang menyukai Madagascar, saya jamin film ini akan sangat menghibur anda. Ya, dia memberi tahu kepada anda sebuah kasus yang akan dihadapi, dan membawa anda berjalan lurus menuju garis akhir. Ya, lurus, awal, masuk ke proses, dan menemukan sebuah garis finish. Menggunakan resep yang sama, menyelipkan banyak humor konyol pada cerita, yang juga menjadi alasan kenapa ia punya banyak karakter yang digunakan sebagai bahan penyampaian joke yang ia miliki. Berhasilkah? Tidak. Imbas dari status mereka yang hanya sebagai pion tanpa coba di eksplor lebih jauh oleh Chris Sanders dan Kirk DeMicco, banyak, bahkan sangat banyak joke yang mereka berikan berakhir hambar, sama datarnya dengan permainan emosional yang mereka ciptakan.


Lantas apa nilai postif The Croods? Masih sama dengan banyak film animasi sekarang ini, visual. Ya, bagi saya visual yang dimiliki film ini masuk dalam kategori indah. Mungkin mereka sadar akan menciptakan ruang besar pada elemen cerita, sehingga Chris Sanders dan Kirk DeMicco mencoba menutupi hal tersebut dengan tampilan visual yang menghibur. Bahkan mayoritas dari humor yang bekerja disampaikan lewat kinerja tampilan visual yang memikat, yang juga menjadi awal dari keputusan saya melabeli film ini sebagai saudara tiri Madagascar, sangat kurang mumpuni dalam teknik penceritaan, namun sangat menghibur lewat tampilan visual yang ia sajikan. Ya, depth dan cukup cerah, The Croods wajib ditonton dalam format 3D.

Nilai postitif berikutnya adalah kinerja dari para pengisi suara. Meskipun tidak dieksplor terlalu dalam dan seperti dibatasi, karakter dalam film ini mampu menjadikan penontonnya merasakan mereka seperti karakter yang memiliki jiwa. Tiga yang terbaik adalah Emma Stone, Nicolas Cage, dan Ryan Reynolds. Sangat suka pada cara Emma Stone memainkan Eep, dimana ia tampak tidak mencoba untuk menjadi orang lain, sehingga mendengar Eep layaknya mendengar Emma dalam bentuk nyata. Tidak punya ciri khas? Ah, tidak penting, karena tanpa eksperimen berlebihan justru Eep dapat hidup dan tampil memikat. Nicolas Cage sukses mendorong karakternya ke posisi terdepan berkat suara yang sangat berkarakter.  Sedangkan Reynolds lebih kepada keberhasilannya menjadikan karakter Guy untuk mencuri perhatian disetiap kesempatan yang ia miliki.


Overall, The Croods adalah film yang cukup memuaskan. Tampilan visualnya memang indah, namun masih kurang mampu untuk menutupi semua nilai minus yang ia ciptakan dari elemen cerita. Memang benar, sasaran utamanya adalah kalangan keluarga. Ceritanya tidak berat, ditambah tampilan visualnya yang sangat memikat, The Croods pasti mampu menghibur anda yang mengharapkan sebuah film animasi yang ringan di semua elemennya. Namun jika anda mencari film animasi yang mampu menghadirkan pelajaran berlandaskan tema keluarga, The Croods bukan pilihan yang terlalu menarik, karena ia hanya menawarkan sebuah awal, proses berjalan lurus, dan sebuah akhir. Indah dari segi visual, cukup datar dari teknik penceritaan.


0 komentar :

Post a Comment