14 February 2013

Movie Review: Mama (2013)

 

Merubah tiga menit yang menakutkan kedalam durasi sepanjang 100 menit dengan upaya mempertahankan kesuksesan yang telah ia ciptakan tentu saja bukanlah sebuah pekerjaan mudah untuk dilakukan. Andres Muschietti memperoleh kesempatan untuk memanjangkan film pendek miliknya yang menakutkan itu, yang ia ciptakan lima tahun lalu. Mama is back, don't look at her!

Kali ini semua berawal dari seorang Ayah bernama Jeffrey (Nikolaj Coster-Waldau), yang sedang mengalami sebuah masalah dan memutuskan kabur bersama dua putrinya yang masih berusia tiga dan satu tahun, Victoria dan Lily. Mereka terdampar di sebuah pondok di sebuah hutan sepi yang jauh dari keramaian kota. Karena putus asa, Jeffrey memutuskan untuk mencoba membunuh kedua putrinya. Tapi sesuatu yang mengejutkan terjadi, dimana ketika hendak melakukan rencananya Jeffrey justru mendadak hilang tanpa jejak.

Lima tahun kemudian, Victoria (Megan Charpentier) dan Lily (Isabelle Nélisse) ditemukan dalam kondisi yang memprihatinkan, baik fisik maupun mental. Paman mereka yang bernama Lucas (Nikolaj Coster-Waldau) bersama kekasihnya Annabel (Jessica Chastain) memutuskan untuk merawat Victoria dan Lily. Akan tetapi, pasti ada alasan kenapa Victoria dan Lily dapat bertahan hidup selama lima tahun. Mereka memiliki “pendamping” yang special, makhluk yang selalu mencoba melindungi mereka dari semua gangguan orang lain, sosok yang mereka sebut Mama.


Harus diakui bahwa pilihan yang diambil oleh Andres Muschietti bersama Neil Cross dan Barbara Muschietti dalam plot untuk memanjangkan film pendeknya itu terasa sangat apik. Semua terasa kokoh, berhasil menjelaskan kepada anda bagaimana awal mula dari kehadiran sosok “Mama” yang di film pendeknya langsung hadir menghantui Victoria dan Lily, dan di sisi lain tetap mampu menjaga kadar “menakutkan” yang telah diciptakan pendahulunya.

Tentu saja versi layar lebarnya ini kalah menyeramkan dibandingkan film pendeknya itu, karena semakin banyak ruang cerita yang harus ia jaga. Tapi adalah sebuah kebohongan besar jika saya mengatakan saya tidak merasakan momen merinding sepanjang menyaksikan film ini. Memang keputusan dari Andres Muschietti untuk mengumbar secara gamblang sosok “Mama” itu terbilang cukup berani, ketimbang memilih menyembunyikan dan mengungkapnya secara perlahan. Tapi Muschietti tahu bagaimana menutupi hal tersebut dengan menghandle dengan baik elemen lain dari cerita.

Menakutkan, film ini cukup menakutkan. Tolak ukur terbaru saya untuk film horror adalah Sinister, dan "Mama" berada dijalur yang tepat, namun gagal mencapai posisi tersebut. Makhluk dengan aura mistis yang begitu kuat, dua tokoh utama yang sudah terganggu mentalnya, dan satukan mereka di sebuah rumah yang tidak memiliki nuansa menyenangkan. Ya, klasik, namun akan memuaskan jika ia berhasil disampaikan dengan baik, seperti yang dilakukan film ini.


Kunci sukses film ini adalah karena Muschietti tahu apa yang harus diberikan, dan bagaimana cara untuk menyampaikannya. Film ini sejak awal mampu mengikat saya, yang kemudian membawa saya terus waspada dengan berjalan pelan dalam membongkar misteri yang ia miliki dengan membuka kisah masa lalu dari cerita. Ia juga tidak pernah gagal untuk menciptakan nuansa gelap dari setiap konflik yang suntikkan, menyediakan waktu bagi anda sejenak mempersiapkan diri untuk siaga, dan kemudian memberikan kejutan yang mampu menghentak anda melalui kehadiran sosok Mama. Ya, meskipun begitu harus diakui di beberapa bagian setelah kehadiran sang Mama, saya bersama beberapa penonton justru tertawa. Muschietti berhasil memberikan momen mengejutkan, namun kurang mampu untuk membuat saya terdiam ketika momen itu berlalu.

Semua kelebihan tadi secara tidak langsung sukses membantu cerita yang mengangkat tema ibu dan anaknya itu untuk hadir menyentuh. Meskipun memakai sesuatu yang dapat dikatakan berada dalam konteks yang kurang normal, namun kekuatan dari konflik utama itu berhasil di transfer dengan baik. Sayangnya meskipun mampu menjaga anda untuk tetap penasaran, dibeberapa bagian film ini sempat menghadirkan ruang bagi rasa bosan. Hal tersebut dikarenakan sosok Mama yang perlahan justru terasa kehilangan misteri yang ia miliki akibat semakin sering ia muncul.

Hal mengejutkan lainnya adalah kemampuan akting yang dihadirkan oleh kedua aktor cilik yang memerankan Victoria dan Lily. Misteri besar yang mereka miliki sukses di visualisasikan dengan apik oleh Megan Charpentier, dan Isabelle Nélisse. Dari cara mereka berbicara, berjalan, hingga tatapan serta sorotan mata yang tajam, seolah menjadi tanda agar terus waspada terhadap kehadiran sang Mama. Sedangkan Chastain menghadirkan kinerja yang cukup standar. Berada di kategori cukup, tidak buruk, karena memang peran yang Chastain miliki juga tidak besar.


Overall, Mama adalah film yang memuaskan. Terus membuat saya menanti sejak awal, Andres Muschietti sukses menakut-nakuti saya melalui cara yang gelap dan misterius. Sentuhan dari Guillermo del Toro terasa kental dari cara Muschietti menghadirkan momen mengejutkan. Semua elemen bekerja dengan baik, baik dari cerita, hingga hal teknis yang tidak pernah gagal membuat anda untuk terus waspada. Meskipun tidak berhasil membuat saya ketakutan hingga terdiam tak bergeming, Mama sukses menjadi sebuah tontonan horror yang tidak sekedar lewat saja, karena mampu membekas di ingatan anda.


4 comments :

  1. keren banget nih... gue harus wajib nonton nih film walau lewat DVD.. but, keren deh nih blog (y)

    ReplyDelete
  2. kalau mau subscribe nih blog, nge-klik yang mana ya..?

    ReplyDelete
  3. @psikotessesuatu: http://feeds.feedburner.com/rorypnm

    ReplyDelete