28 July 2021

Movie Review: Shape of Red (2020)

“You're happy living a lie?”

Sebenarnya orang menikah itu untuk apa? Itu sebuah pertanyaan yang jujur sulit untuk dideskripsikan secara global karena tiap orang pasti memiliki jawaban serta alasan yang berbeda. Tapi kita dapat sepakat bahwa sesuatu yang dipaksakan dan tidak sepenuhnya ikhlas dapat meninggalkan bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Termasuk ketika kamu berpisah dengan sosok yang kamu sayangi, the one you really love, demi untuk menjalani kehidupan dengan orang yang tidak ada di level yang sama dengan sosok tadi. ‘Shape of Red’ : the world of the married. (Warning: the following post might contains mild spoilers)


Toko Suguri (Kaho) kini menjalani kesehariannya sebagai seorang ibu rumah tangga, setelah menjemput anak perempuannya yang bernama Midori ia kemudian langsung menuju dapur untuk mempersiapkan menu makan malam, menu yang digemari oleh Midori yakni hamburg steak. Makanan itu pula yang ditawarkan oleh Toko saat sang suami, Shin Suguri (Shotaro Mamiya) tiba di rumah, yang kemudian ditolak oleh Shin karena merasa sudah kenyang. Menariknya jawaban Shin justru berbeda saat sang Ibu mengatakan bahwa ia telah memasak hidangan ikan untuk Shin.

Wanita yang pernah berkecimpung di bidang desain interior itu ternyata juga punya image yang sama dari orang-orang di sekitar suaminya. Tidak heran Toko kemudian merasa menjadi outcast ketika diajak Shin ke sebuah acara, pertemuan yang menjadi pintu masuk bagi Toko untuk mencoba keluar dari kehidupan yang tidak lagi dapat membuatnya merasa sepenuhnya bahagia. Di acara itu Toko bertemu dengan sosok pria dari masa lalunya, Akihiko Kurata (Satoshi Tsumabuki), mantan kekasih yang telah menghilang sepuluh tahun yang lalu dari kehidupan Toko. 

Di bagian pembuka kamu akan melihat karakter utama wanita kita disorot dalam jarak dekat ketika sedang berada di dalam sebuah phone booth, dia tampak sedang mendengarkan seseorang berbicara dan wajahnya menunjukkan berbagai macam emosi, dari kecewa hingga kaget. Sedangkan di sisi lain ada sesosok pria yang sedang menunggu wanita tersebut, tampak tenang dan santai meski ia terlihat kedinginan. Dari opening dengan durasi kurang dari dua menit tersebut kamu kemudian dibawa berpindah menuju kehidupan si wanita tadi, ia menjemput anak perempuannya dari sekolah lalu mempersiapkan makan malam berupa hamburg steak tadi, makanan yang tidak saya duga titik awal masalah menunjukkan dirinya.


Pintu masuk menuju fakta bahwa ada sesuatu yang salah di dalam kehidupan Toko, sesuatu yang tampaknya telah ia sadari tapi ia sembunyikan dengan rapi. Fokusnya adalah pada perasaan bahagia Toko, sesuatu yang mungkin juga akan sangat mudah untuk dirasakan oleh banyak orang dengan permasalahan serupa, mereka yang tiba-tiba merasa kurang “nyaman” dengan pilihan hidup yang telah mereka ambil. Hal ini tampak sederhana memang tapi dapat menghasilkan ledakan super besar, celakanya Toko memutuskan bermain dengan api, ia mencoba untuk keluar dari kehidupannya yang telah ia rasa salah dan kurang nyaman itu, lalu mencari sebut saja penyegaran sesaat, sesuatu yang membawa bencana padanya.

Di sinilah letak kepiawaian Sutradara Yukiko Mishima yang bersama Screenwriter Chihiro Ikeda berhasil menata dengan baik jalinan konflik yang diadaptasi dari novel karya Rio Shimamoto. Mereka tidak membuat konflik yang berputar agar terasa soft bagi penonton namun justru menekankan kesan mature menjadi poros utama cerita. Yang terasa soft hanya proses terbangunnya polemik di bagian awal, ekspresi wajah seorang Toko selalu mengandung banyak makna, tatapan matanya sederhana tapi kamu dapat lihat perasaan bingung dan tersiksa di sana, tapi masalahnya adalah ini bukan tentang suami yang menyiksa sang istri, kehidupan mereka bahkan normal dan jauh dari kesan “berantakan”.


Justru di sana letak isu yang coba didorong oleh film ini, menyaksikan Toko hidup bersama sikap denial bahwa ia tidak bahagia dengan Shin, terus terperangkap dalam ikatan pernikahan yang sebenarnya ia inginkan terjadi dengan pria yang ia kenal 10 tahun yang lalu. Salah dan benar terus bergulir terhadap sikap Toko, dipertemukan kembali dengan sebuah hubungan yang pernah terjadi sepuluh tahun yang lalu dan berada di lingkaran yang sama meski tidak berjalan terlalu jauh berbeda. Penonton dibuat menantikan opsi mana yang akan dipilih oleh Toko emosinya mulai digelayuti dengan pertanyaan apa makna dari sebuah pernikahan bagi dirinya? Sembari tentu saja “empty space” seperti mendesak untuk segera diisi oleh Toko Suguri.

Yukiko Mishima membentuk secara manis dramatisasi di sini, menggunakan dengan baik posisi Toko yang berbuat salah tapi tetap memproteksi citra seorang wanita, di sisi lain ada para pria yang tidak ditempatkan di posisi antagonis tapi bertugas untuk membakar isu tentang makna dari cinta dan ikatan pernikahan. What is marriage itu menjadi pertanyaan yang terus berputar dengan cepat dan mempermainkan kualitas ironi yang sudah hadir sejak awal. Ironi yang dimiliki pernikahan dan manusia itu sendiri, about how much love you create as a human, tentang pekerjaan terpenting wanita saat sudah menyandang status istri, hingga puncaknya tentang alasan mengapa manusia menikah? Why did you marry if you only living a lie?


Di satu momen karakter Kurata tampak dingin, sedangkan Toko menjadi bingung, dua hal yang sangat mendominasi film ini hingga akhir. Yang menarik adalah ‘Shape of Red’ didn’t glorify infidelity itu secara berlebihan tapi sebagai jalan agar lensa dapat menyoroti hal lain yang lebih menarik tentang pernikahan. Cinematography dan score low-key yang manis, dan baru kali ini saya mendengar bunyi wiper mobil dengan sexual tension yang terasa oke, ‘Shape of Red’ juga bertumpu pada emosi dari para aktor seperti Satoshi Tsumabuki, Tasuku Emoto, dan Shotaro Mamiya yang tampil baik. Bintang utamanya tentu saja Kaho, tatapan mata dan air muka yang ia tampilkan selalu berhasil menggambarkan emosi di dalam diri Toko.

Overall, ‘Shape of Red (Red)’ adalah film yang memuaskan. Isu tentang perselingkuhan itu tidak dieksploitasi secara berlebihan, bagi penonton yang menginginkan keadilan mungkin ending scene itu dapat memberikan rasa puas. Fokus justru ditaruh pada gejolak emosi di dalam diri Toko yang bingung akan opsi yang hadir, opsi yang dapat membawanya keluar untuk menemukan “rumah” dengan jendela yang lebih besar seperti yang ia inginkan, tidak hanya sebatas bercinta atau hubungan seks saja tapi juga rasa bahagia karena dapat mencintai orang yang ia benar-benar cintai. Because housewife isn't a robot. Sebuah cerita tentang pernikahan yang menarik. Segmented.







1 comment :