18 March 2020

Movie Review: Sonic the Hedgehog (2020)


'I was born with extraordinary powers.'

Adaptasi video-game ke dalam media film seolah semakin lekat dengan kesan "sulit" untuk dapat sukses, pendahulu film ini sudah merasakan pahitnya kegagalan hingga mendapat label medioker. ‘Sonic the Hedgehog’ sendiri nyaris masuk ke dalam kategori tersebut sedari awal trailer-nya rilis, memperoleh berbagai kritikan pedas di dunia internet dengan fokus utama kala itu adalah bagaimana design “aneh” yang dimiliki oleh karakter Sonic. Bagaimana hasilnya setelah direvisi? ‘Sonic the Hedgehog’ : a cliche package with good energy.

Meskipun telah dilarang oleh penjaganya yang bernama Longclaw (Donna Jay Fulks) anak kecil bernama Sonic (Ben Schwartz) tetap saja tidak bisa diam dan terus menerus berkeliaran penuh energi. Sonic memiliki kemampuan yang selalu membuatnya merasa gembira, ia dapat bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi, hal yang ditakutkan oleh Longclaw dapat membahayakan diri Sonic. Hal itu terjadi, sebuah serbuan yang menyasar Sonic sebagai target memaksa Sonic kemudian harus berpisah dengan Longclaw. Berbekal sekantung cincin yang dapat ia gunakan untuk berpindah antar planet, Sonic pada akhirnya terdampar di bumi.

Sonic kini menetap di Green Hills, Montana, namun karena wujudnya yang “berbeda” itu ia tidak memiliki teman dan hanya dapat menyaksikan manusia bergembira. Sosok favoritnya adalah Thomas Wachowski (James Marsden). Dijuluki oleh Sonic sebagai “Donut Lord” pria yang tinggal bersama istrinya Maddie (Tika Sumpter) itu merupakan seorang polisi yang haus akan tantangan. Suatu ketika kesempatan itu tiba, Tom direkrut untuk menjadi bagian San Francisco Police Department, tapi sayangnya di saat bersamaan muncul masalah besar di Green Hills yaitu Dr. Robotnik (Jim Carrey), seorang ilmuwan yang ingin memenuhi ambisinya untuk menguasai dunia.
‘Sonic the Hedgehog’ berhasil menghindar dari "kutukan" yang telah lekat pada film-film adaptasi dari video-game tadi, memilih menghindar dari berusaha terlalu keras untuk tampak “wow” di tangan sutradara Jeff Fowler, petualangan Sonic di bumi sukses menjadi sebuah kombinasi nostalgia dan fun yang oke. Ya, bagi mereka yang dahulu mengenal dan pernah bermain video game Sonic yang dirilis oleh Sega ini akan membawa mereka ke dalam nostalgia dari pesona yang dimiliki video game tersebut, karakter yang memiliki kemampuan gerak cepat di mana terpancar energi menyenangkan darinya, yang kemudian ia gunakan untuk melewati berbagai rintangan yang ada di hadapannya.

Tidak banyak memang namun Jeff Fowler secara cerdik menempatkannya dalam kuantitas yang cukup namun dengan punch yang oke, salah satu contohnya adalah bagaimana berkat kemampuan bergerak super cepat yang ia miliki Sonic pada dasarnya memilih untuk “menghentikan waktu” untuk menunjukkan kepada penonton aksi bersenang-senangnya ketika karakter lainnya berada dalam kondisi bergerak super super lambat. Aksi mengatur dan mengendalikan apa yang kemudian akan terjadi itu (mengingatkan kita pada aksi Quicksilver di X-Men: Days of Future Past) dikemas dengan baik dan tidak berlebihan, tidak diekploitasi terlalu jauh namun berhasil meninggalkan kesan keren ketika gerak lambat selesai dan semua kembali normal.
Adegan yang memanfaatkan gerak cepat ketika Sonic “bermain” baseball itu juga terasa sangat oke. Impresi seperti itu tidak hanya terasa di momen ketika slow motion dan super speed muncul saja, namun juga di mayoritas bagian cerita yang bergerak dengan kecepatan normal. Formula yang diterapkan di film ini adalah buddy-road trip yang tidak mencoba untuk menghadirkan ekplorasi cerita yang terlalu jauh. Penonton menemukan plot yang sederhana, Dr. Robotnik mengejar Sonic dan Sonic berusaha melarikan diri dari kejaran Dr. Robotnik, semua bergerak cepat berisikan rangkaian adegan action yang oke dengan berbagai teknologi menarik di dalamnya.

Screenwriter Pat Casey dan Josh Miller sedari awal membentuk cerita agar dapat menghasilkan jalan atau alur di mana karakter serta konflik dapat terus bergerak dengan cepat, senjata utama yang berasal dari karakter utama dan memang selayaknya dimanfaatkan. Mereka tidak memberi penonton banyak momen di mana konflik mencuri posisi terdepan, yang terpenting adalah bagaimana membuat konflik-konflik itu dapat terus loncat dari satu tempat ke tempat lain secara konstan, dalam gerak cepat. Jeff Fowler membentuk hal tersebut dengan baik, tidak ada special dari segi cerita namun hal tersebut tidak terasa mengganggu karena penonton "hanyut" bersama gerak cepat penuh energi tadi.
Tapi di samping itu pesona dari karakter juga memiliki peran yang tidak kalah penting. Terus menerus bergerak cepat sesungguhnya juga dapat membuat cerita menjadi terasa jenuh dan monoton, namun di sini hal tersebut tidak terjadi berkat pesona dari karakter, terutama Sonic dan Dr. Robotnik. Fakta bahwa sedari kecil ia tidak memiliki teman membuat Sonic terasa excited ketika bertemu sosok favoritnya, banter di antara mereka terasa renyah sedangkan karakter Sonic yang likeable membuat Tom memiliki heartwarming moment yang oke. Sedangkan Dr. Robotnik merupakan memiliki pesona eksentrik yang terasa menawan, sikap angkuhnya tidak jatuh menjadi terasa menjengkelkan namun justru menghibur.

Pencapaian tersebut tidak lepas dari kinerja akting yang dihadirkan oleh Jim Carrey. Materi yang dimiliki oleh Dr. Robotnik merupakan sesuatu yang terasa tricky, ia harus menjadi sosok yang mengintimidasi namun sekaligus terlihat konyol dengan berbagai gags, hal yang ditangani dengan baik oleh Jim Carrey. Kejeniusan Carrey dalam hal komedi terpancar melalui Dr. Robotnik, sebuah penampilan yang terasa segar dan santai dengan dance sequences yang memorable itu. Karakter Sonic sendiri berhasil memperoleh suntikan nyawa yang menarik dari Ben Schwartz sedangkan James Marsden menjalankan tugas karakternya dengan baik sebagai seorang penolong.
Overall, ‘Sonic the Hedgehog’ adalah film yang memuaskan. Dibalut dengan kualitas visual yang oke adaptasi karakter game dengan kemampuan bergerak super cepat ke dalam media film ini terhitung berhasil. Seperti karakter Sonic itu sendiri ‘Sonic the Hedgehog’ bergerak cepat sejak awal hingga akhir, menggunakan plot yang simple dan oke membawa penonton untuk terus bergerak dengan energi dan pesona yang oke serta menyenangkan untuk diikuti. Hasil akhirnya memang tidak megah dan sedikit klise namun jelas ini merupakan sebuah sajian action-adventure dengan balutan komedi yang menghibur. One more level won’t hurt, right?











1 comment :

  1. 'Confidence, a fool's substitute for intelligence.'

    ReplyDelete