30 January 2017

Review: The Salesman (2016)


Salah satu bagian awal film terbaru dari sutradara Asghar Farhadi ini dapat dikategorikan sebuah action scene. Spoiler? Tidak, namun hal tersebut berhasil menjadi sebuah setup yang manis untuk petualangan yang hadir selanjutnya. Meskipun dibuka dengan sedikit action namun tenang saja karena film terbaru dari sosok di balik acclaimed drama seperti About Elly, A Separation, dan The Past ini masih menggunakan senjata favoritnya, yaitu kisah yang mencoba mengeksplorasi tentang keluarga dan pernikahan. Another complex and thoughtful drama from Asghar Farhadi here’s The Salesman (Forushande). It’s another psychothriller from Asghar Farhadi.

Sebuah cracks menghampiri kediaman seorang guru bernama Emad (Shahab Hosseini) bersama istrinya Rana (Taraneh Alidoosti), hal yang membuat mereka terpaksa harus pindah ke apartement baru. Berkat bantuan teman dari theater group Emad dan Rana menemukan tempat yang mereka butuhkan tersebut, namun terdapat sebuah masalah dari sana. Apartement tersebut masih berisikan barang atau benda dari penghuninya kini tapi masalah sesungguhnya datang dari masa lalu penghuni tersebut yang menghasilkan komplikasi dan dampak mengganggu bagi Emad serta Rana.  


First of all terjadi setup lain di dalam cerita yang melibatkan Rana ketika ia diserang oleh sosok misterius, something yang dapat dikatakan menjadi pelengkap atau api yang mencoba membakar kondisi emosi dari Emad dan juga Rana. Gabungkan itu dengan kondisi tempat tinggal mereka kini serta fakta yang mereka temukan dari calon tempat tinggal mereka yang baru membuat Emad dan Rana dengan cepat langsung tampak seperti dua sosok pasangan suami istri yang berada di dalam kondisi tertekan. Dari situ kemudian Asghar Farhadi merangkai setiap momen di cerita menjadi berbagai event yang terasa stressful, berawal dari pikiran lalu kemudian menyebar hingga ke pernikahan. Konflik yang lebih dalam perlahan muncul ke permukaan, Rana tampak seperti mencoba menutupi sesuatu sementara Emad di sisi lain mulai merasa frustasi terhadap istrinya tersebut. 


Itu tadi terasa simple sebenarnya tapi dilengkapi oleh Farhadi dengan emosi dan pesona yang tidak simple. Saya suka cara ia memainkan setiap materi, pergerakan terasa minimal dan natural tapi tensi dan pace tetap terasa ketat serta padat. Sama seperti apa yang dia lakukan di tiga film yang saya sebutkan di awal tadi di sini Farhadi dengan terampil mengolah drama untuk terasa suspenseful ketika diikuti, dialognya terasa peaceful tanpa ditemani musik sehingga tidak terkesan mencoba tampak flashy, tapi di sisi lain blow dan appeal baik itu secara kuantitas maupun kualitas terus berkembang menjadi besar dan kuat. Farhadi berhasil membuat aliran cerita terasa exciting tentu saja sembari menghadirkan berbagai isu seperti di sini salah satunya terkait dilemma moral serta batasan antara benar dan juga salah. 


Merupakan kombinasi antara melodrama bersama investigasi juga menghasilkan sebuah kejutan yang menarik, sebuah “kejutan” yang tidak hanya mengejutkan penonton terkait plot saja namun juga menciptakan dampak yang besar bagi karakter yang diperankan dengan baik oleh Tanareh Alidoosti dan juga Shahab Hoseini. Perasaan yang bertentangan di antara dua karakter utama berhasil Farhadi gambarkan dengan baik juga berkat performa akting dari Alidoosti dan Hoseini, Alidoosti yang perlahan mulai tampak “mundur” dan semakin pendiam sementara di sisi lain Hoseini menjadi seorang suami yang yang semakin “keras” ketika berhadapan dengan rasa frustasi serta hal terkait pride. Keduanya memang tidak membuat Emad dan Rana berada di level yang sama dengan Simin dan Nader namun mereka berhasil menciptakan intensity yang sangat mumpuni. 


Karakter Emad dan Rana memang tidak meninggalkan semacam “relief” ketika mereka berpisah dengan penontonnya namun apa yang terjadi di antara mereka selama 125 menit itu telah berhasil membuktikan bahwa Asghar Farhadi merupakan seorang master ketika berurusan dengan moral tale yang complex, thoughtful, dan suspenseful. Sistem yang ia gunakan masih merupakan sistem andalannya dan sama seperti yang ia lakukan di tiga film sebelumnya dan sistem tersebut kembali bekerja dengan sangat efektif, dari konflik hingga dilemma yang hadir dengan kesan natural tanpa lupa bahwa The Salesman (Forushande) merupakan sebuah drama yang ingin menjadi sebuah psychothriller yang terasa gripping. Segmented.











3 comments :

  1. nunggu review film ini dari kemarin...selalu suka film produksi iran :) kak gina review film split sama hidden figures dong :)
    kak gina kalo lihat hasil GG,PGA, SAG nomine terkuat ema stone, apakah bakal ada perubahan di oscar nanti? hehehe :) kasihan amy adams harus terlempar *gara2 pidato menyentuh meryl di GG (?)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hidden Figures sudah direview kok sedangkan Split ditulis oleh Kimssi dan akan hadir beberapa jam lagi. Untuk Best Actress saya masih Portman. Imo ketimbang Meryl Streep posisi Amy Adams di nominasi itu "direbut" oleh Ruth Negga. :P

      Delete
  2. wah kak gina nonton dimana nih. di indo bakal rilis gk, ya...

    dari Mei sebenernya udah ngikutin banget nih film, tapi entah kapan aku bisa nonton. Apakah sudah bisa di bandingkan dengan the great A SEPARATION?

    ReplyDelete