31 October 2016

Review: Masterminds (2016)


"Brace your boobies."

Sebagai informasi pembuka ‘Masterminds’ merupakan bagian dari daftar film yang kami antisipasi tahun lalu, memiliki cast beranggotakan Zach Galifianakis, Owen Wilson, Jason Sudeikis, dan SNL’s popular ladies yang dipimpin Kristen Wiig kala itu sangat menantikan kegilaan macam apa yang akan film ini berikan. Namun sayangnya hype tersebut menghilang, dijadwalkan rilis pada pertangahan tahun kemudian mundur ke slot pada akhir tahun film komedi bertemakan caper ini pada akhirnya baru rilis di negara asalnya hampir satu tahun kemudian. Is it worth the wait? 

David Scott Ghantt (Zach Galifianakis) merasa bosan dengan pekerjaan mengambil dan mengantar uang yang ia lakukan, namun suatu ketika hal itu berubah saat wanita bernama Kelly Campbell (Kristen Wiig) bergabung dengannya. David tertarik pada Kelly dan dia merasa bahwa Kelly merupakan wanita yang selama ini ia cari, menggantikan tunangan David kini, Jandice (Kate McKinnon). Kelly melihat peluang yang ia punya pada David dan bersama dengan Steven Eugene "Steve" Chambers (Owen Wilson) memanfaatkan David untuk melakukan aksi pencurian uang. Rencananya Kelly itu ternyata tidak semudah yang ia bayangkan setelah mengetahui hitman Mike McKinney (Jason Sudeikis) dan FBI Special Agent Scanlon (Leslie Jones) sedang mengejar mereka.  


Sejak awal tidak tahu apa ciri khas atau “keunikan” yang dimiliki oleh sutradara Jared Hess tapi dari cara dia mengeksekusi cerita dapat dilihat bahwa ia punya sentuhan yang berani, sikap ragu tidak terasa kental ketika mencoba membuat berbagai karakter yang dapat dikatakan “crazy” itu beraksi. Hal itu di bagian awal memberikan efek yang sangat oke, cerita seperti punya energi yang langsung membuat penonton tertarik tidak peduli bahwa mereka sebenarnya klasik dan klise, begitu juga dengan karakter yang tampak akan menyenangkan untuk diikuti. Bagian awal ‘Masterminds´ juga semakin oke karena cerita yang tampak berenergi itu sudah menetapkan tujuan yang jelas, seperti yang kamu baca di sinopsis tadi tujuan dari setiap karakter telah jelas, dari yang terkait perasaan hingga bisnis dan juga pekerjaan. Dari sana kemudian kita dibawa masuk ke dalam mix dari berbagai aksi aneh yang tampil dengan tujuan yang juga jelas yakni membuat kamu tertawa. 


Sayangnya tidak semua usahanya itu berhasil. Cerita yang tidak mencoba bercerita terlalu detail membuat kesempatan tampil bagi unsur komedi cukup besar, dari goofball hingga disgusting jokes beberapa dari mereka berhasil bekerja dengan baik tapi tidak sedikit pula yang terasa dingin dan tidak hit. Untung saja durasi film ini hanya 94 menit jika sehingga kombinasi tawa dan rasa jengkel itu tidak meninggalkan kesan yang mengganggu. Sejak awal penonton tidak dibawa untuk fokus pada plot, screenplay lebih memilih tampil menggunakan character-oriented humor sehingga tidak heran hit atau miss tergantung pada aksi konyol karakter. Sulit untuk mengatakan saya menemukan big laughs yang berkualitas di sini namun sekedar tertawa kecil itu banyak, tapi masalahnya momen yang terasa “dingin” juga cukup signifikan jumlahnya dengan scene berisikan karakter Mike McKinney yang paling sering terasa hambar. 


Dari awal yang tampak menjanjikan itu ‘Materminds’ perlahan mulai sering terasa stuck, cerita yang sempit membuat satu-satunya jalan untuk menjaga perhatian penonton adalah dengan menampilkan aksi gila karakter yang sayangnya terlalu banyak yang langsung menuju ke sasaran. Kurang dipoles dengan baik pesona karakter menurun seiring berjalannya waktu, alhasil beberapa humor yang mencoba mengeksplorasi kekurangan karakter jadi terasa sedikit insulting. ‘Materminds’ punya cukup banyak momen yang kita tahu itu bisa terasa lucu tapi justru terasa uncomfortable untuk tertawa, banyak usaha melucu yang terasa “huh” setelah mereka muncul. Hal lain yang cukup disayangkan adalah kurangnya “perhatian” sutradara dan writer pada karakter wanita, mereka likable tapi kesempatan bersinar terasa minim jika dibandingkan dengan karakter pria. Bukan berarti harus sama rata tapi karakter wanita punya potensi yang jauh lebih besar ketimbang hanya dijadikan pendamping dengan mengandalkan fisik saja. 


Meskipun usaha tampil lucu yang mereka lakukan tidak semuanya bekerja dengan baik satu hal yang pasti di sini para cast tampak having a good time memainkan karakter mereka masing-masing. Sebagai karakter utama David berhasil ditampilkan dengan cukup baik oleh Galifianakis, kesan goofy dan awkward yang ia miliki terasa oke, energi yang dimiliki mayoritas berasal darinya. Kristen Wiig bersama kompatriot SNL lainnya Kate McKinnon, Leslie Jones, dan Jason Sudeikis juga tampil cukup baik dengan karakter mereka masing-masing meskipun nama terakhir tadi kerap membawa momen yang terasa “dingin” dengan karakternya. Sejak awal jelas bahwa screenplay terasa character-oriented sehingga juga terasa uneven, semua bergantung pada seberapa sukses para aktor beraksi konyol di depan kamera, dan korban yang paling jelas dari hal tersebut adalah Owen Wilson, he seems bored here. 


In the end sulit untuk mengatakan ‘Masterminds’ sebagai film komedi yang super buruk namun jika menghitung kuantitas dan kualitas dari hit dan miss yang ia hasilkan ini berada di bawah standar memuaskan meskipun tidak memuakkan. ‘Masterminds’ merupakan mix dari berbagai unsur klasik komedi yang tidak menghasilkan banyak tawa yang menyenangkan, punya beberapa momen lucu lewat aksi slapstick dan gaya liar karakter unsur komedi lebih didominasi jokes yang miss meskipun mereka menggunakan hal-hal konyol dan ganjil yang sangat mainstream. Niat Jared Hess mungkin ingin straightforward bermain dengan kekonyolan, hal yang sangat disayangkan karena jika dipoles lebih jauh lagi ia dapat menciptakan sebuah caper comedy yang berkualitas lebih oke dari ini, terlebih jika melihat jajaran A-list stars di genre komedi yang ia miliki. Segmented. 











0 komentar :

Post a Comment