03 August 2016

Movie Review: Jason Bourne (2016)


"I know who I am. I remember. I remember everything."

That guy, he’s back! Sebuah action spy thriller yang “cerdas” bersama eksekusi pulse-pounding yang intens, dapatkah hal tersebut kembali ditemukan penonton dari “petualangan” a la Bourne di sini? Apakah “hello again” ini mampu mengangkat kembali franchise ke posisi semula atau justru kembali tergelincir seperti yang dialami oleh ‘The Bourne Legacy’ dan menjadi sebuah film action thriller kelas standar dan familiar yang minim kejutan? When an action hero back in a looks-like-still-not-enough-cooked dish, Jason Bourne: The Bourne Redundancy.

Kini tampil sebagai underground boxer Jason Bourne (Matt Damon) dipaksa untuk kembali berurusan dengan masa lalunya yang ternyata masih menyisakan “bisnis” yang belum selesai. Sumbernya berasal dari rekan lamanya Nicolette "Nicky" Parsons (Julia Stiles) yang muncul kembali di hadapan Bourne dan membawa sebuah informasi penting baginya. Selama ini Bourne menganggap bahwa kematian sang ayah merupakan tindakan keji yang dilakukan oleh kelompok teroris namun sebuah dokumen rahasia pemerintah USA yang berhasil dicuri oleh Nicky menunjukkan bahwa terdapat sebuah “permainan kotor” dibalik tewasnya ayahnya Bourne. 

Celakanya situasi tersebut justru membawa Bourne keluar dari “sarangnya” dan menjadi target CIA. Bourne yang sempat dianggap sebagai seorang patriot kini dinilai sebagai seorang pengkhianat yang berbahaya. Seorang assassin bernama Asset (Vincent Cassel) bertugas di lapangan dan bergerak di bawah komando Direktur CIA, Robert Dewey (Tommy Lee) serta IT Manager bernama Heather Lee (Alicia Vikander) yang memandunya dari markas CIA. Misi utama mereka hanya satu: membunuh Jason Bourne, namun dengan dilengkapi peralatan canggih usaha untuk “melindungi” fakta terkait program Ironhand itu tidak mudah akibat Bourne yang masih memiliki kecepatan dan ketangkasan serta terdapat agenda yang berbeda di dalam misi tersebut.


Ketika ‘The Bourne Legacy hadir empat tahun lalu muncul anggapan bahwa eksistensinya di dalam Bourne film series seperti dipaksakan. I mean, Bourne movie tanpa Jason Bourne ibarat sayur yang dimasak tanpa garam dalam perumpamaan paling sederhana, seperti membuat film Bond tanpa James Bond di dalamnya, possible but not interesting. Dan seperti “hantu” yang terbangun dari tidur lelap untuk sekali lagi mencoba “bergembira”, Jason Bourne kembali. Jason Bourne sukses menampilkan kembali signature penuh kesan kick-ass yang membuat banyak orang jatuh hati padanya, pria yang sedikit bicara namun mampu membawa penontonnya masuk ke dalam sebuah “ride” dengan karisma yang memikat. Paul Greengrass melakukan pekerjaan yang sangat baik terhadap karakter Bourne, he does it so well sehingga berhasil membuat penonton seperti terhipnotis oleh petualangan a la Tom and Jerry itu, dan hal terbaik at least Bourne punya alasan yang menarik untuk kembali.

Plot utama ‘Jason Bourne’ adalah hunting, sejak awal hingga akhir kita menyaksikan Bourne masuk dan keluar dari berbagai macam bahaya. Dari kisah tentang masa lalu yang belum tuntas lengkap bersama berbagai subplot seperti permainan “kotor” di dalam CIA, mereka menjadi alasan yang cukup meyakinkan untuk membawa kembali action hero ini. Meskipun memang terasa sedikit forced untuk dapat melanjutkan seri Paul Greengrass dan Christopher Rouse melakukan pekerjaan yang baik dalam menciptakan perputaran konflik, membuat ini terasa lebih personal bagi Bourne dengan dikelilingi berbagai konflik lain seperti aksi pengkhianatan serta situasi terancam yang dimiliki masyarakat. Siapa Jason Bourne sebenarnya menjadi pertanyaan paling menarik dari proses pengungkapan masa lalunya itu, tapi ketika pondasi konflik terasa manis sayangnya cara mereka dibangun terasa kurang manis, dan di akhir eksistensi ‘Jason Bourne’ terasa, well, too normal.


Jason Bourne’ seperti kombinasi berbagai good bang tapi tanpa great fang, dan itu cukup mengejutkan sebenarnya karena mayoritas durasi diisi dengan aksi kejar. Bourne tetap seorang showman yang sangat kuat tapi yang terjadi di sekitarnya terasa cukup dingin meskipun pemanfaatan teknologi terasa oke, dia mendapat petunjuk hingga perintah tapi “main desire” kurang menarik. Mencoba membawa lebih banyak plot script jadi terasa regang, isu tentang freedom yang dibawa melalui Deep Dream itu juga terasa preachy. Jika dibandingkan dengan tiga film Bourne (yang memiliki Jason Bourne di dalamnya) sebelumnya film ini terasa tidak “menonjok” penontonnya dengan sangat kuat, Paul Greengrass oke di elemen action secara struktural tapi thrill yang dihasilkan less punching, terasa terlalu “aman” untuk ukuran Bourne film. Itu semua membuat rasa “special” dari film Bourne (with Jason Bourne) yang penonton kenal terasa kurang kuat di sini, ‘Jason Bourne’ terasa seperti thriller junkies dengan formula copy and paste serta kebisingan yang tampak intens tapi kurang mencengkeram.

Ya, Jason Bourne terasa intens tapi kurang menyengat, not electrifying. Penonton mengerti motivasi utama tapi di sini Bourne tidak berkata “trust me, stay with me, it’ll be fun” kepada penonton. Walaupun masih menggunakan beat seperti ‘The Bourne Ultimatum’ cerita tidak punya laju yang dapat membuat penonton bertemu dengan banyak pulse-pounding moment yang terasa sangat memikat. Ketimbang go lalu stop sejenak dan kemudian go lagi dalam rentang waktu singkat di sini kita bertemu dengan beberapa rest area yang meredakan tensi cerita. Untung saja tensi cerita tidak drop terlalu jauh akibat action sequences yang terasa cukup menghibur. Cukup menghibur, ‘Jason Bourne’ punya dua aksi kejar berdurasi panjang yang memukau, dari sniper, motorhingga mobil di beberapa bagian mereka terasa sangat impresif dan menegangkan berkat gerak cepat yang dihasilkan editing, tapi ketika di film Bourne terdahulu Greengrass menciptakan salah satu ciri khas berupa shakycam di sini ia coba tambah satu lagi: “blur” technique.


Sejak awal telah mengantisipasi shakycam tapi tampilan “blur” yang cukup dominan, itu mengejutkan. Paul Greengrass merupakan master shakycam, membuat penonton tidak di posisi statis tapi ikut “bergoyang” seolah menjadi mata karakter lainnya. Namun meskipun “bergoyang” pada dasarnya shakycam dapat pula menciptakan fokus yang stabil, hal yang terasa lemah di film ini, dan terasa overdid ketika dikombinasi dengan “blur”. Manipulasi visual di sini kurang nikmat, adegan aksi tidak punya clarity yang sangat mumpuni, mereka intens dan cepat tapi terasa seperti melayang karena kurang mencengkeram. Itu akibat penonton kerap tidak mendapat tampilan yang jelas di layar, apa yang terjadi di layar dari momen satu ke momen yang lain. Dalam enam detik: Matt Damon face, Asset face, Matt Damon face, Asset face, and boom, done. Tidak masalah jika pada akhirnya kualitas action sequences menjadi lebih baik tapi ini terasa seperti show-off yang malah membuat mata penonton perih.

Bagaimana dengan kinerja cast? Sembilan tahun berlalu secara fisik Bourne masih bugar namun emosi kini ia tampak renta, dan itu berhasil ditampilkan dengan baik oleh Matt Damon, pria yang masih belum mampu melepas masa lalunya Matt Damon mampu menampilkan gravitas dan karisma dari Jason Bourne yang terasa lebih mematikan. Hal menarik lain dari ‘Jason Bourne’ adalah teamwork cast terasa menonjol. Tommy Lee Jones punya momen yang mampu ia manfaatkan dengan baik sebagai pria yang kompetitif dan kotor, Vincent Cassel berhasil menjadi assassin yang bergerak layaknya robot terprogram dengan kemampuan mengancam yang oke. Dan alasan mengapa Jason Bourne tidak terlalu standout di film ini adalah karena disampingnya terdapat karakter yang juga tidak kalah menarik, Heather Lee yang diperankan oleh Alicia Vikander. Vikander berhasil menyuntikkan rasa segar ke dalam cerita lewat “permainan” yang Heather Lee kendalikan, menjaga kesan sebagai pedang bermata dua yang berbahaya. Spoiler alerttidak ada Jeremy Renner di sini.


Overall, ‘Jason Bourne’ adalah film yang cukup memuaskan. Senang menyaksikan Bourne kembali dengan berbagai punch yang terasa oke tapi ada satu hal yang tiga film Bourne pertama miliki dan absen di sini: effective and electrifying thrill. Terasa intens sayangnya ‘Jason Bourne’ kurang kuat mencengkeram penontonnya, mencoba menjual keganasan namun kerap terasa cukup "dingin",  bermain dengan nostalgia tapi sempat sedikit terasa seperti telenovela. Ini tidak sloppy, punya beberapa momen menegangkan yang cukup oke, tapi ini bukan sepenuhnya Bourne yang selama ini penonton kenal, dari dahulunya sebuah smart, special, and pulse-pounding thriller kini menjadi action-packed thriller dengan rasa yang terlalu familiar. Bigger, bitter, not better, it's a good bang without a great fang.









10 comments :

  1. Replies
    1. There's nothing wrong with me. :)

      Delete
    2. Just because your opinion is different from other people’s opinions doesn't mean you are right and they are wrong. Sheesh!

      Sorry for butting in.

      Delete
  2. Replies
    1. Terjadwal untuk besok. Score SS positif. :)

      Delete
  3. Well gw ntn jason bourne ketiduran. Ceritanya kejar2an doang smp bosan. Dah gampang ditebak. Jadi gw kasih 5/10.

    ReplyDelete