31 July 2016

Movie Review: Train to Busan [2016]


Trik ini sudah digunakan berulang kali namun film yang mencoba memanfaatkan ruang sempit untuk menyajikan sebuah pertempuran hidup atau mati selalu terasa menarik, karena hal pertama yang terlintas di pikiran adalah itu akan menjadi sajian yang intens dan mencengkeram. ‘Train to Busan (Busanhaeng)’ berhasil menampilkan hal tersebut, bagaimana ketika kamu berada di dalam sebuah kereta ekspres untuk membawa sosok yang kamu sayangi bergembira bersama mendadak masuk terjebak di dalam sebuah “neraka” dengan para zombie yang bergerak untuk memangsa? ‘Snowpiercer’ meets ‘The Walking Dead’ in Korea, it’ll plays with your nerves.    

Seok-woo (Gong Yoo) merupakan seorang manager pengelola dana yang sedang mengalami sebuah masalah dadakan di perusahaan tempat ia baru berinvestasi. Walaupun begitu Seok-woo tetap memutuskan untuk berangkat ke Busan bersama anak perempuannya Soo-an (Kim Soo-an) menggunakan express train. Sebagai kado ulangtahun Seok-woo mengajak Soo-an untuk bertemu mantan istrinya yang kini tinggal di Busan, tapi sudah merasa “aneh” sejak sebuah insiden yang mereka saksikan ketika menuju stasiun Seok-woo mulai sadar bahwa ia bersama para penumpang lainnya kini berada dalam bahaya yang mematikan: wabah zombie telah melanda Korea.


Jika harus menggambarkannya memakai kalimat sederhana ‘Train to Busan’ merupakan "pumping thriller with tricky melodrama." Mari bicara tentang unsur thriller terlebih dahulu. Kualitasnya? Mayoritas keren dan mengasyikkan. Di fitur live-action perdananya ini Yeon Sang-ho (The King of Pigs, The Fake) menampilkan eksekusi yang sangat cekatan, proses perkenalan pada karakter seperti situasi dan tekanan emosi yang sedang dialami karakter begitupula dengan masalah utama terkait wabah zombie terasa cepat dan tepat. Train to Busan memberikan “gigitan” yang kuat di bagian ini dan dengan cepat kamu akan merasa seperti terperangkap bersama karakter, apalagi itu didukung dengan setting mood dan atmosfir yang oke. Konsep labirin yang digunakan juga terasa baik, tidak terkesan dipaksakan eksistensinya karena Yeon Sang-ho juga menyisipkan class and social rebellion di dalam cerita. Apa yang terjadi setelah itu? Sudah pasti, zombie kemudian beraksi.


‘Train to Busan’ akan mengingatkan kamu pada Snowpiercer lengkap dengan isu kelas yang dimiliki namun kali ini musuh utamanya diganti dengan para zombie seperti The Walking Dead. Ini juga terasa seperti teman satu kelas tapi berbeda guru dengan ‘World War Z’, namun karena cakupan film tersebut sangat luas mari tidak melangkah ke sana. Yang menarik adalah ketika berurusan dengan elemen thriller Yeon Sang-ho seperti tidak ingin menciptakan kesan rumit pada 5W1H terkait kemunculan wabah zombie tersebut, mengajak kita untuk fokus pada karakter yang berusaha menyelamatkan diri. Aturan main seperti zombie menjadi buta dan tidak menyerang di dalam kegelapan juga terasa cerdik, Yeon Sang-ho jadi leluasa memainkan cerita, tensi, dan ketegangan untuk menciptakan sebuah “bloody inferno” dengan menggunakan permainan petak umpet. Gerakan kecil dapat mematikan, ‘Train to Busan’ berhasil mencengkeram penonton untuk terlibat ketika karakter mempertaruhkan hidup mereka dengan melakukan berbagai aksi nekat.


Tapi ‘Train to Busan’ punya tricky melodrama. Seperti kebanyakan film “normal” dari Korea ‘Train to Busan’ juga membawa elemen drama yang kuat, Yeon Sang-ho gabungkan bersama statement terhadap isu sosial di Korea. Class warfare jadi jualan utama sejak berangkat dari sinopsis, usaha bertahan hidup membuat manusia berubah menjadi zombie meskipun belum diserang oleh zombie. Isu tentang wewenang juga berhasil mencuri perhatian seperti contohnya dengan menggunakan perintah CEO, begitupula isu gender ketika wanita seperti dilarang untuk ikut berpartisipasi secara frontal. Kereta terus melaju menuju Busan, berbagai sequences dari action hingga horror tampil, namun Yeon Sang-ho seperti menaruh peduli lebih pada berbagai isu tadi untuk tidak hanya sekedar punya "tempat" di dalam cerita. Eksistensi mereka tidak terasa kasar tapi suara tentang social inequalities justru berbagi panggung utama dengan elemen action dan thriller di sepertiga akhir durasi, sedikit mengganggu momentum apa yang telah terbangun sebelumnya.


Setelah elemen horror dan fantasi mulai sedikit kendur elemen social melodrama mengambil alih kendali lokomotif. Ketika masih mengurusi elemen thriller dan action di awal Yeon Sang-ho sudah sedikit membagi perhatian pada elemen drama, dan saat tiba giliran elemen drama tampil di posisi terdepan ia memberi push yang tidak biasa. Sebuah pandangan bagaimana sisi brutal dari kehidupan sosial di Korea, mungkin itu inti sederhana dari upaya Yeon Sang-ho di elemen drama. Memang punya sense of movement yang halus tapi saya percaya film yang mengusung banyak genre akan maksimal jika pembagian porsi tiap genre juga tepat, tanpa perlu harus sama rata. Ini bukan seperti melodrama menghancurkan semuanya, I love Korean drama, tapi ketika thriller dan action masih jadi fokus utama paling menarik saya sudah siap menaruh film ini sejajar dengan The Wailing, ini intens dan sangat mengasyikkan tapi melodrama muncul dan menggerus nilai akhir.


Sedikit memang, tidak layak untuk dikategorikan merusak apalagi penonton tetap merasa terikat dengan karakter serta cerita. Salah satu hal terbaik dari ‘Train to Busan’ adalah ia punya presentasi visual yang oke. Gerakan kamera dibatasi tapi cerdik sehingga kekacauan di dalam kereta terasa bloody namun rapi meskipun kualitas elemen gore tidak terlalu memikat. Won't call it a horror tho. Score cukup ampuh menghadirkan shock sementara editing cermat dalam menyusun alur sehingga tensi cerita terasa oke. Karakter ‘Train to Busan’ sendiri cukup understated, mampu menjalankan tugas mereka meskipun tidak outstanding. Gong Yoo memainkan tokoh central di sini dan kinerjanya cukup baik. Sementara karakter lain mampu menampilkan ekspresi takut dan cemas yang oke terdapat dua pemeran yang mencuri perhatian. Pertama adalah Kim Soo-an yang tampil baik ketika berurusan dengan hal sentimental, dan satu lagi adalah Ma Dong-seok yang tampil seperti Hulk, kekar tapi sensitif.


In the end ‘Train to Busan (Busanhaeng)’ berhasil menjadi sebuah disaster film yang menyenangkan, dengan durasi 118 menit mampu menjadi zombie apocalypse thriller yang konsisten membuat penontonnya merasa waspada hingga akhir walaupun sedikit kehilangan momentum ketika mencoba “berorasi” secara halus lewat elemen social melodrama. Menyajikan teror yang mengasyikkan meskipun kesan horor terasa biasa, terus memompa thrill dengan sedikit selipan drama, ‘Train to Busan’ merupakan sebuah tipikal zombie movie yang sanggup mengubah arena yang mini menjadi sebuah “neraka” dipenuhi ketegangan maksi. Kereta menuju Busan itu terus melaju tanpa henti, sama seperti serangan para zombie. So beware, it’ll keep playing with your nerves.









8 comments :

  1. kenapa yaa film yang berbau zombie selalu menarik.. ini film yang juga perlu ditonton (wajib), ooo iya kak kalau ingin tahu tentang cara membuat website yukk disini saja.. terimakasih

    ReplyDelete
  2. Kalau dari screenshot adegannya kayak seru ya, value produksinya gak maen maen. Kalau gak salah jadi box office juga di Korea, tambah penasaran pengen nonton :S

    ReplyDelete
  3. Baru akan tayang 31 Agustus di Indonesia ini. Ngga sabar pingin liat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah sudah dapat tanggal rilis ternyata. Sip. :)

      Delete
  4. seoul station ngga di review ya min???

    ReplyDelete
  5. mas, mau tanya dong. kok mas cepet banget updatenya? bahkan sebelum filmnya tayang di sini. mas nonton di mana? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mas Dadan. rorypnm memiliki empat penulis: saya, riringina, Kimssi, serta satu lagi laurawidy yang saat ini sedang hiatus, dan kami berdomisili di empat lokasi yang berbeda (dapat dilihat di profil blogger masing-masing penulis). Penulis review ini adalah Kimssi dan dia menonton ‘Train to Busan’ ketika sedang travelling ke Seoul, yang juga menjadi bagian dari Korean Movie Week 2. :)

      Delete