22 June 2016

Movie Review: Independence Day: Resurgence [2016]


“We’re gonna kick some serious alien ass.”

Begitu mudah untuk memasukkan Independence Day ke dalam list disaster film favorit, sebuah sci-fi yang tidak hanya sekedar mampu menjadi sajian yang cukup intens dan fun dibalik kekurangan yang ia miliki saja tapi berhasil menjadi one to be remembered kinda movie. Sudah 20 tahun tertidur dengan lelap kini kita coba dibawa kembali bertemu dengan “bencana” yang serupa namun tidak sama, babak kedua yang kembali mencoba mempertemukan manusia dan alien dalam sebuah pertarungan penuh kehancuran skala besar. Siapa yang akan menjadi pemenang bukan pertanyaan paling menarik dari film ini namun apakah ia mampu menyamai atau bahkan menjadi kemasan action sci-fi yang lebih baik dari pendahulunya? A dreadful waffle, Independence Day: Resurgence is a war without a wow.

Tahun 2016, 20 tahun telah berlalu dan kini PBB menciptakan Earth Space Defense (ESD), sebuah program pertahanan global sebagai sistem yang memberi peringatan dini marabahaya ke bumi jika kembali muncul serangan dari sisa-sisa alien yang telah dikalahkan. Sedang bersiap untuk merayakan hari kemerdekaan mereka, USA (dan seluruh planet bumi) dikejutkan dengan serangan alien ke ESD. Tidak lama kemudian gelombang pasukan alien yang lebih besar datang dan menyerang bumi setelah mendapat sinyal yang dikirimkan dari satu-satunya pesawat mereka yang masih tertinggal di bumi sisa dari pertarungan 20 tahun yang lalu.

Di balik minus yang ia miliki Independence Day berhasil menyajikan sebuah petualangan science fiction dengan thrill yang menyenangkan, hal yang banyak membantu menutup kekurangan yang ia miliki. Di bawah kendali Roland Emmerich film tersebut memberikan sajian visual yang untuk ukuran tahun 1996 merupakan sebuah presentasi yang menawan, dan semakin memorable karena meskipun merupakan disaster film skala besar ia berhasil memadupadankan bahaya dari bencana dengan elemen humor yang oke.  Roland Emmerich kembali ingin mencoba melakukan hal tersebut di film kedua ini, menggunakan pendekatan yang sama di mana alien ingin menghancurkan dunia dalam skala yang lebih besar, lebih kejam, dan lebih berbahaya untuk memberikan kita sebuah petualangan visual. Sedikit modifikasi di sektor cerita layak diapresiasi tapi sayangnya sebagai sebuah kesatuan mereka tidak terasa menarik. 

Memang meskipun menggunakan template yang identik saya suka dengan usaha Roland Emmerich bersama rekan-rekannya untuk membuat naskah yang tidak tampak seperti eksekusi copy dan paste belaka, tapi sayangnya semakin jauh ia bergerak dari sinopsis daya tarik segala sesuatu yang terjadi di layar perlahan berkurang. Tentu sebagai sebuah disaster film kurang pantas mengharapkan karakter dengan kedalaman emosi yang luar biasa, tapi berbagai karakter di sini tampil dengan standar yang sedikit lebih rendah dari karakter pada film tipe tersebut. Kita tahu mereka siapa dan tugas mereka apa, tapi mereka tidak terasa hidup di dalam cerita. Masalah itu terasa tidak terlalu besar di karakter lama tapi besar dampaknya pada karakter baru yang notabene punya tugas yang juga tidak kalah penting di sini, mereka terasa seperti boneka. Alhasil fokus dan hook cerita terasa lemah, semua karakter seperti dicampur sebagai sebuah tim yang terasa sesak.

Salah satu hal menarik dari Independence Day: Resurgence adalah untuk ukuran sebuah film tentang bencana skala besar power dari ancaman berbahaya yang ia hasilkan tidak kuat. Untuk masalah visual tidak perlu banyak komentar, meskipun kualitasnya sudah terasa familiar di era sekarang ini Emmerich merupakan sutradara yang oke dalam memanfaatkan CGI untuk menampilkan bencana (Godzilla, The Day After Tomorrow, 2012), menghancurkan landmark hingga serangan lewat darat, laut, dan udara. Masalahnya sajian visual itu kerap terasa soulless akibat pesona karakter dan konflik yang terkesan seadanya. Bukankah dengan menghadirkan antagonis yang memikat akan berdampak pada pesona hingga makna dari perjuangan yang protagonis lakukan, sayangnya Roland Emmerich kurang berhasil menghadirkan hal tersebut di sini. Ketegangan di cerita ada tapi mereka tidak terasa “nyata” dan bersifat mengintimidasi penonton, kita seperti masuk ke mode menunggu bagaimana semua itu akan berakhir. 

Itu blunder besar bagi sebuah film yang memakai ancaman dan ketegangan sebagai nafas utamanya. Independence Day: Resurgence memang punya struktur cerita yang cukup oke tapi ia tidak mampu mengikat dan mencengkeram atensi penonton hingga akhir. Dengan durasi sebesar 120 menit Independence Day: Resurgence lebih terasa seperti sebuah kepanikan ketimbang usaha perlawanan, ia menampilkan segala hingar bingar tapi tidak memiliki tension yang mumpuni, di beberapa bagian kehadiran elemen action lebih terasa seperti usaha mengalihkan perhatian dari kualitas konflik dan juga akting yang terasa biasa. Kesan heroik yang dihasilkan tidak ada, feel dari elemen drama terasa palsu, Independence Day: Resurgence terasa seperti kekacauan di dalam sebuah ruangan yang hampa. Rasa kesal juga muncul dari score yang seharusnya dapat membantu elemen action terasa lebih intens tapi di sini justru terasa kurang nendang. 

Bagaimana denga kinerja cast? Pemeran dari karakter lama kembali melakukan usaha terbaik mereka, sebuah fan service yang oke meskipun sebenarnya selain Captain Steven Hiller tidak ada karakter lain dari film pertama yang terasa ikonik. Yang paling menonjol adalah Jeff Goldbloom, meskipun terkadang kemunculannya hanya membawa beberapa line sederhana tapi at least ia berhasil membuat karakternya tampil menghibur dengan perawakan yang santai. Highlight dari cast adalah hal yang sudah ditakutkan sebelumnya, absennya Will Smith. Steven Hiller adalah nafas utama Independence Day dan di sini ia coba diganti dengan beberapa karakter baru yang diperankan oleh Liam Hemsworth (Jake Morrison), Maika Monroe (Patricia Whitmore), Jessie Usher (Dylan Dubrow-Hiller), dan Angelababy (Rain Lao). Mereka tidak tampil buruk tapi tidak ada pesona dan energi sekuat yang ditampilkan Will Smith, dan itu sangat disayangkan karena dibalik sebuah film sci-fi action yang menawan selalu ada pahlawan yang juga tampil menawan. 

Mencoba tampil tidak jauh berbeda sayangnya Independence Day: Resurgence tidak mampu mengulangi pencapaian yang diciptakan pendahulunya. Tema dan berbagai isu seperti teamwork misalnya tidak menghasilkan hit yang kuat, dan meskipun menampilkan visual yang oke Independence Day: Resurgence tidak punya ketegangan yang menawan, tidak mampu mengikat dan mencengkeram penonton hingga akhir. Humor juga tidak punya hit yang mumpuni, hal yang membuat Independence Day terasa menawan. Punya bekal yang oke untuk menjadi disaster film skala besar namun memberikan eksekusi dengan hits yang jatuh pendek di berbagai elemennya, termasuk pula lemahnya keunikan dan kejutan yang ia tampilkan sehingga terasa seperti film sci-fi action yang formulaic, Independence Day: Resurgence is a war without a wow













Cowritten with rory pinem

1 comment :