22 January 2016

Review: Daddy’s Home [2015]


Sebenarnya sebuah film komedi itu punya tugas yang paling mudah jika dibandingkan dengan genre lainnya, mereka hanya harus dan wajib membuat penontonnya tertawa, tidak hanya di satu atau dua momen namun di banyak bagian bahkan jika mampu di 70% durasi yang ia miliki. Daddy’s Home yang tampak menarik karena merupakan reuni dari dua pria unik di The Other Guys sebenarnya bisa melakukan syarat tadi, tapi sayangnya sejak awal ia seolah telah menolak dan lebih memilih bermain dengan santai. Hasilnya?

Brad (Will Ferrell) sedang berjuang untuk menjadi ayah tiri yang diinginkan oleh dua anak tiri dari istri barunya Sarah (Linda Cardellini), Dylan (Owen Vaccaro) dan Megan (Scarlett Estevez). Namun suatu ketika Dusty (Mark Wahlberg), pria dengan tampilan fisik yang jauh berbeda dengan Brad menemukan fakta bahwa mantan istrinya Sarah telah menikah dengan Brad, kemudian memutuskan untuk mengunjungi Sarah. Kehadiran Dusty tidak hanya menghalangi usaha Brad tadi namun perlahan mulia muncul penilaian lain dari Brad kepada Dusty, bahwa pria dengan motor dan abs yang keren itu merupakan saingan yang harus ia kalahkan. 




Mari langsung ke point utama, alasan utama menyaksikan Daddy’s Home adalah karena ini merupakan kolaborasi kedua Will Ferrell dan Mark Wahlberg setelah The Other Guys yang lucu itu. Tapi sayangnya ternyata hasil yang film ini berikan jauh berbeda. Daddy’s Home lebih seperti film dengan niat baik untuk menggambarkan isu tentang keluarga dengan cara bersenang-senang namun akhirnya jatuh kedalam aksi adu jantan yang monoton. Ya, hanya itu, Daddy’s Home tidak memiki banyak hal menarik dari sebuah komedi standar untuk ditawarkan, meskipun punya satu atau dua momen laugh out loud tapi upayanya untuk memberikan kamu perbandingan tentang tingkat kedewasaan mayoritas diisi dengan pengulangan lelucon seperti tentang testis yang tidak lucu.




Masalah utama dari Daddy’s Home adalah ia terjebak dalam lingkaran yang ia ciptakan sendiri, dan jadi lengkap karena sang sutradara Sean Anders juga tidak mampu menjaga semangat untuk terus mendorong daya tarik cerita dan karakter terus hidup. Brad dan Dusty sebenarnya bisa diposisikan sebagai mitra di sini jadi walaupun mereka berada di dua sisi berbeda tetap dapat saling melengkapi satu sama lain. Yang terjadi di Daddy’s Home justru sebaliknya, dua pria yang saling bertarung dan semakin kacau karena daya tarik dari masing-masing karakter juga tidak menarik. Mengapa hal itu penting? Karena tipe lelucon yang digunakan standar dan membutuhkan koneksi antara karakter dan penonton agar berhasil tampil lucu. Itu gagal.



Hasilnya sama seperti unsur komedi yang dipaksakan itu kamu juga dipaksa untuk memilih satu dari dua pria dewasa yang seperti sedang memperebutkan permen dengan cara yang menyebalkan. Tidak ada si baik dan si jahat dalam diri Brad dan Dusty, tapi karena sejak awal akses bagi penonton untuk menaruh simpati pada mereka sudah ditutup hasilnya adalah suguhan komedi bersama plot datar dengan lelucon yang seperti ditebar sesuka hati. Sayang memang karena jika cerita, plot, dan arena bermain dibentuk sedikit lebih oke sekalipun tidak istimewa Daddy’s Home dapat berakhir di posisi yang lebih baik, karena teamwork antara Will Ferrell dan Mark Wahlberg sebenarnya tidak buruk.



Isu tentang kejantanan digunakan untuk menghadirkan komedi yang di maksudkan berisikan pesan tentang keluarga, tapi sayangnya cerita dan karakter yang tidak digunakan dengan tepat menjadikan Daddy’s Home terus tumbuh menjadi komedi yang melelahkan. Satu atau dua momen laugh out loud memang ada namun selebihnya adalah sebuah aksi show-off dari subjek yang tidak “menarik”, tidak mencoba untuk mengolah materi lebih jauh dan memilih bermain standar sehingga berisikan slapstick miskin energi yang terus menjamur. Satu-satunya hal menarik dari Daddy’s Home bukan abs Mark Wahlberg tapi trailer film ini miliki, itu menarik. Segmented. 







0 komentar :

Post a Comment