04 September 2015

Review: The Falling (2014)


Setiap orang punya hal favorit yang mereka inginkan dari sebuah film yang hendak mereka saksikan, dari komedi yang lucu, romance yang membuat kamu tidak berhenti tersenyum, hingga horror yang membuatmu berulang kali memejamkan mata. Bagaimana dengan terjebak atau tersesat di dalam sebuah film? Memang terdengar aneh namun film-film tipe seperti itu meskipun tidak membuat penontonnya menilai mereka sebagai sesuatu yang istimewa namun sering kali justru mudah untuk muncul ketika kamu menyusun daftar film-film paling memorable, ia mampu mencengkeram kamu dan menanamkan kisah ia miliki di dalam memori kamu. The Falling seperti itu, disturbing and memorable mess.

Lydia Lamont (Maisie Williams) dan Abigail Mortimer (Florence Pugh) merupakan dua remaja putri dengan tali persahabatan yang kuat berkat beberapa kesamaan, salah satunya di mana mereka punya hubungan disfungsional dengan orang tua mereka. Namun suatu ketika persahabatan mereka terguncang ketika si cerdas dan seksi Abigail mengatakan bahwa ia telah kehilangan keperawanannya. Lydia tidak menaruh rasa cemburu tapi seperti hadir rasa tidak nyaman dan aman di dalam dirinya terhadap Abigail, hingga puncaknya suatu hari nasib sial menimpa Abigail dan membuat Lydia jatuh pingsan. Anehnya apa yang dialami Lydia seperti penyakit yang menyebar ke penjuru sekolah.



The Falling merupakan sebuah drama misteri yang aneh, namun kesan unik yang ia hasilkan menariknya menjadi sesuatu yang memorable bagi penontonnya. Pada dasarnya ini adalah sebuah kisah tentang jiwa seseorang yang mencoba bertarung untuk dapat stabil setelah kehilangan apa yang selama ini ia cintai, dari kesedihan hingga kesendirian, tapi menariknya itu Carol Morley hadirkan dengan memasukkan karakter utama kedalam sebuah misteri yang bahkan terkadang ditemani juga dengan sedikit komedi. Unik, cara ia bercerita terasa lambat di bagian awal tapi cara ia memainkan kesan misterius dan membuat penonton bertanya-tanya tidak pernah bergerak lambat, kamu akan dibuat gelisah dengan pertanyaan sembari menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.



Mungkin ini tidak sepenuhnya tepat tapi saya merasa kesan eksperimental dari The Falling. Di satu sisi ia terasa seperti drama psikologis dengan berawal dari seks dan kemudian mencoba mengeksplorasi jiwa seseorang tapi ikut pula menempatkan batasan-batasan yang kabur, di sisi lain ini seperti sebuah komedi yang walaupun mencoba membuat penonton tertawa secara implisit tapi frekuensinya terbilang cukup banyak, dan di sisi lain ada misteri tentang sains tapi membuat penonton menolak untuk yakin bahwa apa yang terkandung di dalam cerita adalah sebuah sci-fi. Itu yang membuat The Falling terasa aneh, mondar-mandir bercerita tentang sesuatu yang tidak nyaman yang celakanya terus membuat penonton menanti dan mengamati.



Apakah The Falling merupakan film yang mencoba mengemis atensi? Iya, dan itu adalah salah satu eksekusi terbaik Carol Morley di sini. Saya suka cara ia membuat penonton mempertanyakan apa yang terjadi dengan menggunakan hal-hal yang berputar-putar, apakah sekolah itu angker, apakah pohon itu angker, apakah ini semua hanya karena sebuah epidemic? Lalu masukkan komedi datar yang masih terasa wajar, membuat penonton tersenyum sejenak namun kemudian mengembalikan mereka kedalam masalah yang serius. Seperti bermain ping-pong, dan kita ditemani dengan musik dengan rasa rock yang bukan hanya sebatas menggoda tapi berhasil klik dengan nada cerita, bahkan di beberapa bagian ini terasa seperti sebuah panggung teaterikal.



Kualitas performa cast juga berhasil jadi sorotan menarik dari The Falling, baik itu pemeran muda maupun pemeran tua punya kontribusi dalam menjadikan The Falling sebagai penggambaran yang terasa aneh. Ini adalah debut Florence Pugh dan ia berhasil mencuri perhatian dengan sangat baik, namun bintang di sini tentu saja Masie Williams yang selama ini mungkin telah kamu kenal sebagai Arya Stark pada tv-series Game of Thrones. Masie Williams sangat baik dalam memimpin cerita, gejolak yang dialami Lydia ditampilkan dengan baik, sikap keras terus ia jaga di dalam diri Lydia, namun ketika menyampaikan rasa frustasi dari seorang remaja ia juga tidak kalah menariknya.



Ketika ia berakhir kata pertama yang saya ucapkan adalah: aneh, beberapa ide tentang isu perubahan dan generasi muda juga tidak berakhir di level yang kuat, tapi sepanjang film anehnya sangat sulit untuk mencoba pergi dari kisah misterius ini, karakter tidak pernah meminta simpati tapi penonton seperti terjebak di dalam masalah karakter dan dengan ikhlas ikut terlibat dalam proses pencarian yang ia lakukan sembari ikut memberikan interpretasi. Dan celakanya disamping aksi mondar-mandir yang ia lakukan The Falling punya nada cerita yang halus, saking halusnya dapat membuat penonton seperti sedang berada di dalam mimpi atau berada di dunia lain yang unik. Segmented.








4 comments :

  1. Film ini susah dipahami. Walaupun baca sinopsis ini, entah kenapa masih ngga paham

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener gimana sih? Masih ga ngerti:(

      Delete
    2. Hallo Deranita dan Ana. Hallo Deranita dan Ana. Coba taruh fokus pada apa yang dialami oleh karakter, karena The Falling tidak mencoba menemukan jawaban. Misteri hanya sebagai “distraksi,” The Falling lebih ke arah menggunakan isu perubahan individu untuk mencoba provokasi tentang kejiwaan, bagaimana halusinasi, rasa takut, dan trauma menciptakan dampak destruktif pada psikologi seseorang. Dan itu sesuatu yang horror.

      Delete
  2. Anda cerdas menilai sebuah film yang hampir membosankan. Butuh pemahaman ekstra untuk menonton film ini, semoga yang menonton tidak akan tertidur. Saya sendiri sudah punya film ini sangat lama, tapi baru kali ini tertarik untuk melihatnya.

    ReplyDelete